[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Pewangi ruangan elektrik menyebar hingga ujung kamar, memberikan wangi yang nyaman di indra penciuman, sehingga siapa pun yang singgah di kamar tersebut tidak akan mencium bau yang tak sedap. Minyak wangi yang disemprotkan di atas titik kulit tertentu juga tidak mau kalah untuk memamerkan wanginya yang semerbak, membuat kamar tercium harum sekali.
Riana menaruh kembali minyak wangi dengan harga yang tidak murah itu di atas meja rias, sebelum membuka jendela kamar yang langsung disuguhkan dengan pemandangan di bawah sana. Dari kamarnya yang berada di lantai dua, ia bisa melihat di bawah sana Arka dan Faiz baru saja pulang setelah berlari pagi.
Semalam, Arka mengajak Faiz untuk berlari pagi di sekitar perumahan yang langsung disetujui oleh lelaki itu. Ia dan Elis juga diajak, tetapi langsung menolak sebab merasa malas.
Kedua lelaki itu tampak berbincang senang sembari kaki yang terus melangkah ke arah rumah, membuat Riana merasa penasaran di tempat. Apa yang sedang dibahas oleh mereka? Dan bagaimana bisa mereka terlihat seperti sudah lama menjadi keluarga, padahal pernikahannya baru berjalan hampir satu bulan? Apakah semua lelaki akan gampang sekali akrab?
Riana tidak mau ambil pusing, ia lebih memilih mengambil tangga lipat ringan dan ditempatkan di depan rak buku yang tingginya sampai mendekati plafon, lalu menaikinya agar bisa mencapai bagian rak paling atas. Tangannya dengan segera mengambil novel bersampul merah muda pucat dengan corak bunga di sana, lalu berjalan ke arah ranjang untuk membaca ulang novel tersebut sembari bersandar di kepala ranjang.
Novel tentang si Zaki burik itu belum ia selesaikan sebab setiap babnya mengandung adegan yang berhasil membuatnya mengumpat. Di pagi hari yang indah ini, ia tidak mau emosi oleh kelakuan si Zaki burik tersebut, lebih memilih membaca ulang novel kesukaannya pada bagian-bagian yang sudah ia tandai sebagai halaman kesukaannya.
Tidak lama, lelaki yang lima menit lalu ia dapati bersama Arka itu memasuki kamar, membuat Riana melirik sekilas.
Faiz memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya di sana. Pakaian atasnya basah di beberapa titik, kulit lehernya tampak sedikit mengkilap oleh keringat, rambutnya juga sudah lepek yang anehnya tidak mengurangi kadar tampannya.
Riana mengubah posisinya menjadi rebahan sebab merasa pegal. Bibirnya tersenyum untuk kesekian kalinya setiap membaca bab romantis yang tertulis di sana. Terkadang ia penasaran, bagaimana para penulis bisa menciptakan adegan romantis padahal kebanyakan dari mereka tidak mempunyai kekasih di dunia nyata—ada lumayan banyak yang ia ketahui tentang penulis romansa yang ia ikuti selama ini ternyata tidak memiliki kekasih. Lalu, dari mana mereka terinspirasi tentang adegan tersebut?
Faiz keluar dari kamar mandi sembari menggosok-gosok rambutnya yang basah. "Riana, ada hair dryer, gak?"
"Ada di dalem lemari kecil samping meja rias, cari aja," sahut Riana tanpa menoleh.
Faiz membuka lemari tersebut, mengambil pengering rambut berwarna hitam di sana, lalu menyalakannya untuk diarahkan ke rambutnya yang masih basah.
Riana menutup novelnya, merasa puas telah membaca semua halaman kesukaannya. Ia kembali menaiki tangga yang belum ditaruh kembali ke tempat semula, lalu kembali menaruh novel itu pada tempatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Fiksi RemajaSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
