[Vote sebelum baca!]
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
SELAMAT MENIKMATI!
^^
Derit pintu yang dibuka mengalihkan atensi lelaki yang berada di dalam kamar, sebelum atensinya kembali ke arah jam tangan hitam yang kini melingkar di pergelangan kirinya.
Riana menarik kopernya masuk ke dalam kamar, menaruhnya asal lebih dulu agar bisa mendekati lelaki yang sudah tampak rapi dan wangi. "Perasaan gue nggak ada buat salah hari ini. Kenapa mau ngehukum gue?" tanyanya langsung.
"Siapa yang mau ngehukum?"
"Lo?"
"Nggak ada yang mau ngehukum kamu, Riana."
Riana mengernyit. "Terus kenapa manggil gue? Biasanya lo kalau manggil gue cuman mau ngehukum gue."
"Dulu kita nggak ada hubungan, jadi saya manggil kamu pas kamu buat kesalahan doang. Kalau sekarang beda lagi ceritanya," jelas Faiz. Ia menatap Riana. "Mau ikut ke restoran gak? Kalau nggak mau, saya berangkat sekarang."
"Mau ngapain ke restoran?"
"Ada urusan." Riana nampak ingin bertanya kembali, tetapi Faiz sudah menyela lebih dulu, "Mau ikut atau nggak?"
Riana mengangguk. "Mau."
"Mau gitu aja atau mau ganti baju dulu?"
Riana menunduk—mengamati pakaiannya yang terasa terlalu biasa saja, tidak selaras dengan lelaki yang nampak begitu maskulin itu. "Ganti," putusnya, "Tungguin gue tiga puluh menit."
"Tiga puluh menit?" ulang Faiz, "Bukannya cuman ganti baju? Kenapa lama banget?"
Riana menghampiri kopernya kembali, membuka ritsleting tersebut. "Mau makeup tipis dulu. Masa lo nggak tau kalau cewek itu siap-siapnya lama, beda sama cowok yang cuman butuh sepuluh menit."
Faiz menghela napas, lebih memilih mengangguk dibandingkan harus membalas ucapan perempuan itu. Ia memilih duduk di sofa, memainkan ponselnya selagi menunggu perempuan itu bersiap-siap.
Riana mengambil salah satu gamis krim dengan tali di bagian pinggang, mengikat bagian tali tersebut membentuk pita di bagian pinggang kanan. Tangannya segera mengeluarkan alat-alat makeup, meriasnya di wajah dengan tipis, tetapi masih dibiarkan terlihat di wajahnya dengan cantik.
Faiz melirik Riana yang kini bingung harus memilih bahan kerudung apa untuk dipakai—ia sendiri tidak tahu apa bedanya sebab terlihat sama saja—lalu setelahnya perempuan itu nampak menggerutu sebab bahan kerudung yang dimau nampak kusut sehabis dilipat di dalam koper.
Deringan ponsel membuat atensi Faiz kembali ke atas layar, ia segera mengangkat telepon dari teman kelompoknya di perkuliahan untuk membahas tugas proyek yang tengah dikerjakan.
Riana membuka ponselnya, mencari tutorial membentuk pashmina di sana sebab tiba-tiba lupa cara membentuk kerudung persegi panjang itu dengan model yang ia mau. Selama satu bulan di pesantren, ia jarang sekali memakai kerudung bermodel seperti itu, terlalu memusingkan jika hanya sekadar melakukan aktivitas biasa di pesantren.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halo Gus!!
Ficção AdolescenteSedang dalam proses revisi‼️ Setiap chapter akan diperbarui setiap malam Sabtu & Minggu. • • • Ini cerita tentang Riana yang diberikan dua pilihan oleh papanya karena sudah pusing menghadapi kelakuan anaknya yang setiap hari semakin menjadi-jadi. Pi...
