[DAFTAR PENDEK WATTYS 2023]
Di masa depan yang tidak jauh, bumi-yang-baru tidak lagi milik manusia, tapi dikuasai makhluk kuno bernama MESS, Mortal Entity: Sentient Species.
Namun hari ini, kedamaian hancur saat para Kaisar turun tangan, membantai...
SIAL! Padahal dia adalah seorang MESS. Mengapa dia ingin membunuh sesamanya? Menjijikkan sekali! Hanya karena uang, dia rela mengkhianati kaumnya? 10 juta dolar? 75 juta dolar? Dasar murahan!
Tapi aku sekarang paham bagaimana Taiga bisa mengenaliku. Dari koran itu. Pantas, laki-laki aneh sepertinya bisa menemukanku untuk pertama kali. Meski merepotkan, aku tidak mau membiarkan dirinya mati. Aku berutang banyak kepadanya.
Karena itu, aku akan menjaga laki-laki brengsek ini. Bagaimanapun caranya!
Setelah itu, Dante Omar. Dia adalah pria yang menyerangku dan Taiga. Pria bongsor itu juga seorang MESS sama sepertiku dan Taiga, tapi ia mampu mengubah tubuh menjadi besi. Sejenis MESS kelas 6.
Dulu, abi pernah berkata kepadaku, "Kakek Jibril memberikan enam kelas untuk para MESS. MESS yang bisa mengubah tubuh menjadi material seperti Dante, adalah MESS kelas 6, sementara aku adalah MESS kelas 1."
Kemenangan sudah jelas berada di tanganku, tapi aku sudah bersumpah untuk tidak menggunakan kekuatan hingga bertemu dengan para Kaisar.
Satu-satunya kesempatanku untuk membunuh Dante berarti tinggal senapanini. Senjatayang memiliki kekuatan abi. Aku tidak perlu menggunakan peluru untuk melubangi kepala b*jingan itu. Jika tembakan ringan tidak berefek padanya, aku akan memperbesar daya ledaknya!
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Matahari berada di puncak, tapi aku tidak bisa merasakan teriknya. Satu-satunya hal yang bisa kupikirkan adalah Taiga. Dia menghilang ke langit. Petunjuk yang tersisa bagiku hanyalah ingatan dari lintasan yang dibuat oleh Taiga.
Sebujur jalur parabola yang melengkung tepat ke arah bangunan tidak terurus, spesifiknya di pulau paling utara Midas, di sisi kapal tua kami. Dengan penuh harap, aku mengepalkan genggaman penuh amarah. Aku pun berdoa agar kepalan ini akan terbayar di sana.
Sepuluh menit. Aku berhasil menemukannya. Pabrik tua!
Derap larianku semakin cepat. Tidak ada satu langkahku yang mengandung keraguan, hingga aku melihat tempat yang membuat mataku berubah tenang.
"TAIGA!" Aku meneriakkan nama Taiga sekencang yang kubisa.
Saking kerasnya, semua orang di pelabuhan yang tadi kulewati bertanya-tanya, "Siapa itu Taiga?"
Setelah teriakan kencang kulontarkan, kasak-kusuk keributan menggema dari dalam pabrik tua. Bunyi barang-barang logam menyeruak layaknya logam dan batu yang berjatuhan dari dalam, mengisyaratkan Taiga ada di dalam.
Tanpa pikir panjang, aku bergegas mengangkat senapan ke posisi yang berbeda. Aku tidak menggunakannya seperti senapan, tetapi... seperti bazoka. Dengan konsentrasi yang tajam, aku menarik pelatuk tanpa berkedip sedikit pun.
Dor!
Tembakan berdaya ledak tinggi keluar dari mulut senapanyang sekecil mulut botol.