1.3 Midas: bon voyage!

661 141 78
                                        

Taiga sepakat mengantarku ke Cycle Stream.

Bulan purnama yang menggantung di ujung barat menjadi penuntun perjalanan kami. Untuk pertama kalinya, aku berani menggunakan kekuatan MESS airku di hadapan manusia selain abi. Bagaimanapun aku harus segera bertemu dengan ummi.

Saking terlarut dalam fokus, waktu berjalan tanpa kusadari. Hampir satu jam berlalu, hingga aku tersadar—ada satu hal penting tentang Taiga yang belum sempat kupastikan.

"Bagaimana kamu bisa ke Midas?" Aku mengarahkan deburan ombak menggunakan kekuatanku.

"Aku tidak tahu." Taiga menggaruk kepalanya. "Ketika terbangun, aku sudah berada di kapal tua ini... bersama sekantung uang dolar. Dan... aku sudah menyeberangi Cycle Stream."

Aku mengernyitkan dahi, merasa aneh dengar jawaban Taiga. "Kamu... berbohong?"

"Aku... tidak yakin," jawabnya, suaranya merendah.

Aku tidak mau mengganggunya. Suasana menjadi canggung. Debur air laut yang menggiring kapal tua itu mengisi keheningan malam. Aku mengarahkannya ke ujung barat ekuator. Aku duduk di atas ujung kapal, mengarahkan lenganku ke tempat bulan purnama. Bagai roda dan kemudi, arus mengikuti perintahku semudah menyibak air dangkal.

Kupasang mata biruku lebar-lebar ke cakrawala, sembari bertumpu di pagar geladak yang terdepan. Sementara di belakangku, Taiga yang masih berdiri termenung, memandangiku sambil menyilangkan kedua lengan. Seperti seorang kakak laki-laki yang memandang adiknya bermimpi. Taiga tersenyum bangga.

"Makka, satu hal yang aku tahu pasti... aku adalah MESS otot," ucap Taiga yang kini sudah bersikap lembut kepadaku. "By the way, maafkan aku karena telah memukul perutmu."

Aku sontak membalikkan kepala. Dengan mengingat perkataan abi, aku memutuskan tidak banyak berucap kepada Taiga yang mengawasiku dari belakang.

"Kenapa kamu mengatakan itu?" tanyaku, bernada tidak percaya. "Bukannya aku hanyalah seorang anjing?"

Mendengar balasanku yang masih belum memberikan kepercayaan, Taiga seketika mengangkat alis. Matanya terbelalak dalam sepersekian detik. Namun, dia meringis kecil begitu enteng.

"Bukannya anjing tidak apa untuk dirawat, kan?" sergah Taiga, menggunakan pertanyaan retoris. "Aku anggap kamu sudah memaafkanku, Makka."

Aku tidak menggubris perkataannya yang mencoba akrab. Aku tidak mau membagi konsentrasi dengan celotehnya. Satu-satunya hal yang kupikirkan adalah ummi, sosok yang telah mengandungku susah payah, sekaligus sosok yang sudah lama tidak kutemui. Yang ternyata masih hidup, menungguku dan abi.

Taiga berjalan mendekatiku. Dia menyandarkan punggungnya di pagar geladak, tepat di sampingku.

"Makka, kau ini MESS air, kan?" tanya Taiga.

Ada apa dengan laki-laki ini? Kutatap Taiga dengan waspada. "Bukan urusanmu."

Taiga seketika terkekeh. Dia sampai harus mengusap wajah, saking ia tidak bisa menahan rasa lucu yang menggelitik tulang rusuk.

"By the way, apa kamu nggak sadar? Hanya orang bodoh yang tidak menyadari dirimu adalah MESS!" Taiga tertawa di depan mukaku. "Lihatlah mata birumu! Bahkan kamu saja bisa mengarahkan arus laut dengan tanganmu."

Aku hanya terdiam, mengamati alasan Taiga menertawaiku. Aku tidak ingin menggubrisnya. Dia terlalu banyak berbicara. Sebaiknya aku fokus ke depan.

"Jadi, apa kamu bodoh, Makka?" Taiga memukul bahuku. Menyebalkan.

"Kalau aku orang bodoh, bagaimana?" tanyaku, menantangnya.

Seketika tawa Taiga terhenti. Dia berubah serius hingga mata hijaunya tidak membulat lebar lagi. Ia sepertinya tidak suka jawaban kasarku.

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang