4.5 SEA: migration

315 52 102
                                        

Getaran hebat merambati seluruh SEA. Gemuruh keras bagai amukan badai menggelegar dari perut bumi. Dengan mendung yang masih menggantung, aku tahu pertanda kedua sudah dimulai. Aku harus menuntaskan masa depan.

Pulau-pulau raksasa yang mencuat di tengah samudra perlahan terlepas dari kerak bumi. SEA melayang ke atas langit.

Aku mempercepat langkah, mendahului gadis berhijab di sampingku—untuk sementara. Tujuan utamaku saat ini adalah Romanov. Jangan sampai pria gila itu berbuat terlampau jauh kepada sesama MESS.

Sembari melangkah maju, kuangkat senapan andalanku ke depan muka. Dengan mata biru yang menelusur tajam, aku melihat targetku membuka mulut lebar-lebar. Dari sana, Romanov mengeluarkan tembakan. Mustahil. Dia benar-benar gila.

"Cukup!" seruku, meledakkan amarah yang sudah kupendam. Urat di kepalaku semakin terukir. Aku sudah muak. Selamat tinggal, Guru—

Tembakan berpeluru laser melesat dari senapanku, mengincar kepalanya.

Namun, peluru itu justru mengenai pistol yang mencuat dari mulutnya. Romanov menghindari tembakanku. Dia sadar akan kehadiranku. Tidak bisa dipungkiri, pria berambut putih itu memang sangat terampil.

"Makka! Kau malah datang sendiri kepadaku!" suara Romanov girang. Matanya terbelalak, senyumnya mengembang total, bagai orang yang baru saja memenangkan lotre. "Datanglah kepada papa!"

Dia langsung melesat ke arahku. Tidak lagi tergoda oleh Inoe, fokusnya kini hanya kepadaku.

Melihatnya berlari kencang, aku meningkatkan fokus. Mata biruku menembak tajam, tidak berkedip. Aku harus mengakhiri guruku di sini.

Tembakan keluar berkali-kali dari shotgun di tanganku. Desingan laser menembus udara, mengikuti setiap manuvernya.

Tapi Romanov tetap berada di atasku, seolah bermain-main. Dari puluhan peluru yang kulepaskan, tidak ada satu pun yang menyentuh kulitnya. Dia melampaui profesional. Pemimpin Konvergen itu seperti dewa.

Tiba-tiba Yasmin mematahkannya.

Gadis berhijab itu melesat maju searah dengan tembakanku. Terus melaju tanpa ragu, dia menembus hujan laser dari senjataku. Romanov bahkan sempat terperanjat. Senyum lebar di wajah Yasmin terasa seperti seringai yang mengejek.

Dia sudah melihat masa depan dari setiap tembakan. Tidak perlu ragu. Teruslah maju! seruku dalam hati. Senyumku mengembang. Aku percaya kemenangan ada di pihak kami.

Yasmin melaju tanpa mempedulikan Romanov. Tujuannya jelas: Inoe. Sang MESS gaib harus dilindungi.

Romanov sempat tergoda mengincar Yasmin. Tapi aku menghujaninya dengan tembakan yang lebih ganas. "Lawanmu adalah aku!"

Dia menggeram kesal. Fokusnya mulai terpecah, melirik Yasmin dan Inoe. Baginya ini hari keberuntungan—dua MESS dalam satu tempat.

"Kau sudah mulai berani ya, Makka!" ejeknya, menyeringai.

Aku gelisah melihat ringis itu. Matanya seolah menelanku, tapi aku tahu pikirannya masih mengincar dua orang di belakangku. Aku harus menjauhkannya dari sini.

Seketika aku melirik ke arah gedung kelabu di belakangnya. Struktur logam itu cukup tegar untuk menahan amukannya. Di sanalah aku akan menghadapinya.

"Yasmin, aku akan membawa pria tua ini ke balai kota." Aku memindahkan tatapanku ke Yasmin di sampingku. "Jagalah teman-teman yang lain!"

Dia mengangguk. Mata hitamnya bergetar seakan mendoakan keselamatanku.

Setelah melihat restu itu, aku langsung bersiap meluncurkan diri. "Pergilah dari sini, Guru!"

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang