2.3 Turok: betting night

370 89 66
                                        

Gelapnya malam menutupi kami bertiga. Aku, Taiga, dan seorang bocah kurus yang terkurung di bawah naungan pohon momiji. Daun-daun merah itu bergoyang pelan diterpa angin, tapi suasana di sini kaku, seolah dunia menahan napas. Tatapan kami saling bertemu, dan aku tahu, tatapan ini bisa menentukan masa depan negeri busuk yang kami pijaki. Pertanyaannya hanya satu: kapan kehancuran itu akan dimulai?

"Baek, kamu... MESS?" tanya Taiga, suaranya memecah kesunyian.

Bocah itu—Baek—tidak menjawab. Bibir tipisnya bungkam, tapi aku bisa melihat matanya yang kosong, dihantui suara tembakan. Dia masih terjebak dalam trauma, aku bisa merasakannya.

"Tidak, kalian pergilah!" katanya akhirnya, dengan wajah berpaling. "Aku tidak ingin kalian mati karena diriku."

Aku dan Taiga saling menatap sekilas. Aku tidak bisa menahan tawa lirih yang keluar dari bibirku. "Taiga, ternyata ada juga orang bodoh selain dirimu."

Taiga malah tergelak. "Hahaha! Benar! Ternyata ada yang lebih bodoh dariku!"

Baek mengernyit, jelas bingung dengan tawa kami. Mungkin dia berpikir kami gila. Atau mungkin dia tak mengerti kenapa orang-orang baik selalu keras kepala.

Aku melihat pundaknya merosot, matanya semakin menunduk. Dia begitu tertekan oleh keberadaan kami. Dan aku bisa membaca pikirannya: Kenapa harus ada lagi orang baik yang mau mati sia-sia untukku?

Taiga maju setapak, suaranya meninggi. "Anak Kecil! Kamu takut kami terbunuh oleh kecoak-kecoak itu, kan? Tapi lihatlah! Kami datang ke sini malam-malam, apakah kami datang dengan rasa takut?"

Baek tetap bungkam. Bibirnya terbuka sedikit, tapi tidak ada kata keluar.

Kesal, Taiga menunjukku. "Lihat laki-laki di sampingku ini! Apa yang ia bawa?"

Aku tahu mata Baek akhirnya menoleh padaku. Aku menenteng tas besar berisi makanan laut, sementara di atas kepalaku, gumpalan air raksasa melayang tanpa penyangga. Air itu berkilau samar dalam gelap, seperti cahaya hidup yang menolak padam.

Aku bisa melihat matanya membelalak. Rahangnya turun, tubuhnya gemetar. Baginya, pemandangan itu bukan hanya aneh—itu mustahil.

"Dia membawa makanan dan air untuk semua orang di sini," lanjut Taiga dengan nada serius. "Kami sudah mempersiapkannya sejak pagi."

Aku sempat melihat cahaya berbeda di mata Baek. Sekilas saja, tapi aku tahu itu cahaya harapan.

Namun seketika dia menggeleng keras. Air mata membasahi pipinya. "Aniyo! Aku nggak mau kalian mati karena aku!" suaranya pecah, serak, penuh ketakutan.

"Bodoh! Kamu ini—" Taiga hampir memaki, tapi dipotong oleh jeritan Baek.

"Aku tidak mau!"

Taiga mendengus kasar. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Dengan kesal ia berbalik, langkah kakinya menghantam tanah gambut sampai retak. Aku tahu dia muak.

"Baiklah kalau itu maumu, Bocah Ingusan!" Taiga melangkah pergi, suaranya penuh dongkol. "Makka, ayo kita bebaskan orang lain saja!"

Aku menatap punggungnya yang menjauh, tapi sudut mataku menangkap wajah Baek yang berubah. Meski bibirnya masih terkatup, aku bisa merasakan hatinya berteriak. Aku... masih ingin hidup.

"Bodoh, aku tidak akan menangisi mayatmu saat mereka memutilasi tubuhmu!" teriaknya tiba-tiba.

Taiga terhenti, tapi tidak menoleh. Ekspresinya masih mengeras, penuh kesal. "Kamu yang bodoh, Bocah Ingusan! Kamu tidak akan bisa menjadi orang baik seumur hidupmu! Kamu tidak pernah mau berjuang, bahkan untuk dirimu sendiri! Menyedihkan!" Ia menggeram, lalu kembali melangkah.

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang