3.5 Efrat: my sacrifice

324 73 81
                                        

MATAHARI turun perlahan ke persemayamannya. Warna oranye menyapu angkasa, menjadikan pertempuran di atas awan ini seolah tanda berakhirnya dunia. Cahaya itu jatuh tepat menyinari tubuhku. Aku benar-benar akan menghukum seorang dewa.

Gunung-gunung di sekeliling runtuh bergelimpangan. Saba mengobrak-abrik batu-batu raksasa, melemparkannya menembus awan, menghujani kapal tua kami tanpa henti. Dewa bumi itu tidak henti-hentinya menembakkan peluru sebesar gunung ke arahku.

Namun kapal tua ini menari, meluncur lincah di antara gelombang dan puing. Bagai papan selancar, ia meliuk dan bermanuver, sementara aku mengendalikan samudra yang melayang di langit Efrat. Air adalah tanganku yang ketiga. Dan dengan mata biruku yang tidak berkedip, aku tahu: aku akan mencapai sang dewa.

"Jagra, segera jemput adikmu!" teriakku, suaraku melawan deru badai. Mengendalikan samudra sudah cukup memberatkan. Aku butuh dia untuk meringankan beban ini. "Gunakan mulut ajaibmu!"

"Kamu gila! Aku tidak bisa menembus ruang!" ia membalas dengan wajah panik, tubuhnya bergetar hebat.

"Bukan itu maksudku, Pak Tua!" aku menggeleng keras, masih fokus pada ombak yang kian liar. "Kamu itu MESS mulut, bukan MESS gastrointestinal! Kau punya banyak mulut, tapi cuma satu lambung! Gunakan itu!"

Aku melihat sorot matanya berubah—terpukul, lalu sadar. Ya, aku memang gila. Tapi gila sering kali berarti benar.

"Jangan melamun! Segera lakukan!" bentakku lagi, membuat tatapannya tersambar api. Paniknya berubah jadi tekad.

Aku menatap saat Jagra memunculkan mulut besar di hadapannya. Ia melepaskan talinya, memberi penghormatan padaku dengan cara yang ganjil itu. Bukan salam perpisahan, melainkan salam kepercayaan.

Tepat sebelum ia melompat, ia menoleh. Suaranya berbeda kali ini, lembut, penuh sesuatu yang belum pernah kutemukan dari mulutnya.
"Makka, ada satu hal yang ingin kukatakan padamu. Kamu orang Arab. Jadi, kumohon... panggil aku Jaghro, bukan Jagra."

Aku terdiam sejenak. Lalu mengangguk. Tatapanku masih serius, tapi di dalam dadaku, aku paham maksudnya. Itu adalah pengakuan, kepercayaan. Dan aku mengamini dengan sepenuh hati. Bibirku akhirnya tersenyum hangat—untuknya. Untuk Jaghro.

"Terima kasih, Makka." katanya, membalas senyumku. Senyum yang mungkin pertama kali kulihat darinya.

Lalu ia melompat masuk ke rongga mulut besar yang ia ciptakan, menghilang tanpa ragu. Meninggalkanku sendiri, menghadapi dewa bumi.

Tidak apa.

Karena aku tidak pernah berniat pulang sendirian.

***

TAIGA VAN ZIVEN

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

TAIGA VAN ZIVEN

"TIDAK!" suara teriakan samar menghentikan langkahku dalam pelarian. Bukan delusi. Teriakan itu nyata walau pelan. Suara seorang wanita. Rintih bergetar, dibubuhi panik.

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang