[DAFTAR PENDEK WATTYS 2023]
Di masa depan yang tidak jauh, bumi-yang-baru tidak lagi milik manusia, tapi dikuasai makhluk kuno bernama MESS, Mortal Entity: Sentient Species.
Namun hari ini, kedamaian hancur saat para Kaisar turun tangan, membantai...
Di kamar megah, aku dan Syam saling beradu tatap. Tidak ada kasih sayang di antara kami—hanya ketegangan.
"Apakah Pak Tua itu sudah masuk neraka?" Mata merahnya mengilat tajam, sambil bersandar di bangku. Sinar matahari menyorot punggungnya, dan ia tersenyum sinis.
"Jangan hina abi!" Aku tahu Syam menyimpan dendam pada abi. Tapi itu bukan salahnya. "Bisakah kamu sedikit saja menghormatinya?"
Syam hanya tertawa. Ia menggeleng, seakan aku hanyalah anak polos yang tidak paham permainan hidup.
"Aku ini akhy-mu, Makka. Panggil aku sebagaimana mestinya. Katakan 'Akh Syam'!"
Aku menatapnya tajam tanpa berniat menuruti. "Syam. Puas?"
"Aku tidak mau akrab denganmu." Aku memutar bola mataku. "Meski kamu abangku, aku tidak akan rela jika kamu terus merendahkan abi. Anak macam apa kamu ini?"
Syam hanya mengangkat bahu dan tersenyum dingin. "Aku tidak peduli—"
Dor!
Aku menarik pelatuk senapanku. Ledakan laser melesat, tapi ia menahan serangan itu dengan mudah. Benar, ia MESS api. Senjata yang diwarisi dari abi tidak berpengaruh padanya.
Syam tersedak tawa. "Hey! Kau ini apa-apaan!" Dia bertepuk tangan. Sombongnya membuatku semakin muak.
"Aku sudah bisa menebak semuanya!" suaraku meninggi. "Kamu dalang di balik pembantaian Benua Midas seminggu lalu, kan? Kamu yang memberitahu Lemyaku di mana abi tinggal!"
Ia tidak menyangkal. Justru bertepuk tangan lagi, tertawa kencang, seakan menikmati keterkejutanku. "Benar! Kau benar, Makka! Sekarang aku tidak perlu lagi menutupinya. Kau sudah berhasil menerkanya!"
Tubuhku bergetar. Pagi ini aku baru tahu aku punya seorang akhy. Dan di saat bersamaan, aku juga menemukan bahwa dialah pembunuh abi. Gila!
"Makka." Syam berjalan mendekat. "Anggap saja ini hadiah untukmu. Kau bergabung jadi Kaisar karena ingin melindungi banyak orang, kan? Naif sekali! Denganmu, kami sudah lebih dari cukup. Tapi tahukah kau siapa Kaisar keempat selama ini?"
Aku terdiam.
"Aku!" Syam membusungkan dada. "Aku adalah Kaisar keempat! Tanpa dirimu pun, kami sudah lengkap! Hari kemenangan akan datang juga! Kiamat ketiga—kehancuran bagi MESS dan manusia—akan terjadi tiga hari lagi! Saat bulan lenyap dari langit, dunia akan mengenal kami, juga Kaisar kelima. Itu kau, Makka! Kau, adikku, akan bersama kami menguasai bumi-yang-baru!"
Ia tertawa keras, hingga aku membeku. Bayangan masa depan semakin kacau. Salah. Semua pengorbananku salah. Satu-satunya jalan hanyalah—
Pemberontakan.
DHOOM!
Tiba-tiba, ledakan mengguncang halaman gedung putih. Kami spontan menoleh ke arah jendela. Dari sana, aku melihat sosok itu menghantam tanah dengan amarah membara.
Dari tatapanku saja, jelas ia tahu bahwa orang itu adalah temanku. Syam hanya tertawa di belakang. Ia tidak peduli. Baginya, kiamat sudah pasti datang.
Namun sebelum aku keluar, ia menahanku. "Makka, tunggu. Aku ingin kau tahu ini..."
Aku berhenti.
"Aku senang kau bergabung." Syam tersenyum, yang entah tulus atau palsu. "Aku ingin kau selamat... Adikku."
Aku terdiam, menatapnya penuh kebencian. Bagiku, ucapannya hanyalah kemunafikan. Aku tidak akan hidup bersama orang yang mendurhakai abi.
Lalu aku berlari lagi. Aku tidak akan membiarkan para Kaisar menyentuh Taiga. Dia harus keluar dari gedung ini hidup-hidup. Bukan hanya karena aku ingin melindunginya—tapi karena aku harus memintanya untuk satu hal:
Pemberontakan.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku terus berlari hingga mencapai halaman luar. Matahari menyengat kepalaku, dan di sana—di depan mata biruku—Taiga berdiri. Namun, orang-orang itu sudah mengelilinginya.
Para Kaisar.
"Menjauhlah!" aku berteriak sekuat tenaga. Aku mendorong mereka mundur, suara menggema di seluruh halaman. "Laki-laki ini bagianku! Kalian tidak berhak memiliki kepunyaanku!"
Mereka serempak menjauh. Hanya menatap dari jauh, membiarkan aku dan Taiga berdiri berhadapan di tengah halaman itu. Kami saling menatap, dan aku bisa merasakan tatapan tidak percaya dari dirinya.
Mengapa aku melakukan ini? Pertanyaan itu seakan keluar dari hatinya dan menusukku dalam-dalam.
Tanpa ragu, aku berlari ke arahnya. Aku melompat dan memeluknya erat, begitu erat hingga lenganku melingkari leher MESS otot itu.
Taiga pasti bingung. Dia pasti mengira aku akan marah padanya karena keonaran yang dia buat. Tapi aku tahu, begitu dia melihat mataku, dia akan mengerti. Aku menempelkan bibirku di dekat telinganya dan berbisik,
"Taiga, dengarkan aku! Pengorbanan gagal. Kiamat ketiga... tiga hari lagi."
Aku merasakan tubuhnya menegang. Aku tahu dia menatap ke belakangku, melihat empat sosok berdiri angkuh—Lemyaku, Syam, Torue, dan Saba. Para Kaisar. Bersama mereka... dan aku, lima Kaisar lengkap sudah. Cukup untuk menghancurkan bumi-yang-baru.
Aku menatap Taiga sekali lagi, lalu melepaskan pelukan itu. Aku mulai berjalan menjauh, membawa para Kaisar kembali masuk. Aku tahu matanya yang hijau itu mulai berkaca-kaca. Dia pasti berpikir aku meninggalkannya.
Tidak, Taiga. Aku tidak meninggalkanmu.
Aku hanya memilih jalan yang berbeda. Aku akan mengurus kiamat ketiga dari dalam. Kamu harus menyiapkan sisanya dari luar.
Aku tahu dia akan mengerti. Dia pasti mengingat perkataanku tentang dua masa depan: pengorbanan atau pemberontakan. Kini, aku memilih keduanya. Aku akan berkorban... sementara semua orang harus memberontak.
Untuk menyambut kiamat, tidak ada yang boleh bersembunyi. Tidak ada yang boleh mengemis perlindungan.
Semua harus berjuang. Semua harus menangis.
Kita pikul ini semua bersama.
Untuk sebuah kemenangan.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.