6.3 A-Capital: grown up

257 35 113
                                        

Setelah malam penuh kebahagiaan itu, aku dan Taiga akhirnya terlelap. Kamar kami gelap gulita tanpa cahaya sedikit pun. Aku masih tidak menyangka hari itu bisa terjadi. Kami bertemu orang tua kami. Kami benar-benar menjumpai mereka.

"Taiga, maafkan aku," bisikku, pelan dan berat, padanya yang masih tidur nyenyak.

Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Aku tidak bisa memejamkan mata lebih lama. Dengan dada yang diliputi kecemasan, aku hanya bisa duduk mematung di teras kamar. Bintang-bintang di langit mulai pudar. Aku tahu, ada satu pilihan yang harus kuambil. Dan aku sudah memilihnya.

"Taiga, aku pergi." Aku membenarkan selimut yang menutupi tubuhnya. Mataku basah.

Aku harus berkorban. Aku akan pergi ke pusat A-Capital. 

Aku akan menjadi Kaisar.

Aku berjalan tegap, mencoba menguatkan diri. Sepatu hitamku mengetuk lantai dengan gaung keras. Hanya berbekal kaos biru tua dan senapan kesayanganku, aku melangkah keluar. Ini takdirku.

Setiap entak langkah mengingatkanku pada masa lalu—teriakan, keringat, air mata. Luka itu tidak pernah hilang. Aku bertanya pada diriku sendiri: kalau begitu, kenapa aku melakukan ini? Seolah aku menjilat ludahku sendiri. Tapi aku menyangkalnya. Dunia luar sudah mengajariku. Aku tidak hidup sendirian. Ada banyak orang yang harus kulindungi. Aku tidak bisa hanya berjalan pergi.

Tanpa sadar, aku berhenti. Aku sudah sampai.

Gedung putih yang megah berdiri kokoh di pusat kota. Halamannya luas, hijau subur. Gedung itu tampak kontras dengan gedung-gedung tinggi A-Capital. Anehnya, meski inilah istana presiden, tidak ada satu pun penjaga berjaga. Sepi. Kosong. Tapi bersih. Lemyaku, rupanya, benar-benar kuat. Dia seakan bisa mengurus semuanya seorang diri.

"Berhenti di sana!" suara seseorang tiba-tiba menggelegar. Aku terlonjak. Itu suara pemilik gedung putih. Presiden Lemyaku.

Aku berdiri tegak. "Aku adalah laki-laki yang kamu cari," kataku lantang, memecah kesunyian malam. "Makka Al-Fata, putra Rai Brahmanta."

Lemyaku malah tertawa terbahak-bahak. Ia bertepuk tangan berkali-kali, menyoraki dirinya sendiri. "Konyol sekali aku! Aku mengejarmu dengan berbagai cara, tapi kau malah datang sendiri!"

Aku tidak menanggapi tawanya. Ini bukan gurauan. "Aku datang ke sini bukan untuk bertarung."

Lemyaku terdiam, lalu menatapku tajam. "Apa yang kau inginkan?"

Aku menarik napas panjang. "Aku ingin melindungi semua orang." Meski amarah masih menggelegak di dadaku, aku mencoba bertahan demi orang-orang yang kusayangi. Tatapanku mengeras. "Aku mau bergabung dengan Kaisar."

Lemyaku menjentikkan jarinya. 

Seketika aku berpindah ke sebuah aula megah bergaya Eropa. Ornamen emas berkilauan di setiap sudut. Ia sudah memindahkanku begitu saja.

"Keputusan yang benar." Lemyaku merangkul pundakku. Sentuhannya membuatku sadar betapa menakutkannya MESS ruang ini—dia bisa melakukan apa saja. "Sekarang, tunggu di sini. Aku mau menunjukkan sesuatu."

Dengan satu jentikan lagi, aula kosong itu tiba-tiba terisi. Dan mataku langsung terbelalak.

Satu. Dua. Tiga. hingga tujuh orang melangkah mendekatiku.

Mereka berdiri di hadapanku—semua orang yang pernah kukalahkan. Masih bernyawa.

Torue. MESS udara itu, menyunggingkan senyum penuh dendam. Wajah setengah terbakar, rambut mohawk-nya tegak.

Saba. MESS tanah, berdiri dengan sorot mata penuh kebencian. Kulit birunya masih jelas.
Lalu Konvergen—Romanov, White Lion, tegak berdiri bersama murid-muridnya. Red Bull dengan gaunnya, Blue Bird setengah wujud burung, Black Mamba, Gold Fish. Mereka semua hidup.

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang