5.2 Quartz: spirit tale

300 45 120
                                        

"Makka, pegang tanganku!" Teriakan Inoe menembus telingaku, bahkan lebih keras daripada deru angin yang mengguncang tubuhku saat kami terjun bebas. 

Aku tidak sempat berpikir panjang—tanganku segera meraih telapaknya yang dingin sekaligus berkeringat.

Aku bisa merasakan tekanan aneh menggerogoti sekujur tubuhku. Seakan-akan ada medan tidak kasat mata yang hendak meremas tulangku menjadi benda mati. Kabut tebal menyelimuti sekeliling, menutup pandanganku pada dunia luar. Negeri Jonah. Inilah kunci yang dimaksud Inoe.

Tanpa genggamannya, aku tahu tubuhku sudah jadi perabotan tidak bernyawa—tidak ubahnya hukuman bagi siapa pun yang nekat keluar-masuk negeri terkutuk ini. Benar kata Inoe, Jonah bukan sekadar negeri tertutup. Ia menyimpan kekuatan MESS-02, kekuatan yang selama ini dianggap hilang bersama Quartz.

Semakin kami menukik ke bawah, tekanan itu perlahan berkurang. Nafasku kembali lega, meski jantungku masih berpacu liar. Saat yakin aku bisa melepaskan diri, aku menarik genggaman itu dan segera menggerakkan tanganku ke arah laut di barat.

Air laut merespons panggilanku.

Ombak bergulung cepat, naik ke udara seperti tangan raksasa yang siap menyambut kami. Dalam sekejap, gelombang itu menangkap tubuhku dan Inoe, menahan kami dari terjangan maut.

Deburan itu lalu kembali ke samudra, meninggalkan kami berdua yang berdiri basah kuyup di daratan. Tidak butuh lama bagiku untuk menarik butiran air dari tubuh kami; pakaian kering kembali, seolah tidak pernah disentuh laut.

"Makka, terima kasih," ucap Inoe. Suaranya tenang, berbeda sekali dengan Taiga. Di usianya yang sebaya denganku, dia jauh lebih dewasa. Aku tahu alasannya: baginya, menjadi MESS gaib bukanlah anugerah. Ia bisa melihat ruh meninggalkan jasad—kesedihan orang-orang saleh, ketakutan para pendosa. Pemandangan yang terlalu mengerikan untuk siapa pun.

Aku tersenyum tipis. "Tentu. Sama-sama. Dan... terima kasih juga untuk pegangan tadi."

Dia hanya mengangguk. Tidak menjawab 'sama-sama' sepertiku. Inoe bukan pendiam karena bodoh, tapi karena pikirannya selalu bekerja. Hampir seperti seorang introver, meski jelas dia bukan. Katakan itu di hadapannya, dan dia pasti tidak suka.

Aku menghela napas, membiarkan pikiranku mengalir. Setidaknya, Inoe tidak berisik seperti Taiga. Bersamanya, aku bisa berbicara lebih tenang, bahkan lebih dalam.

"Jadi, Inoe, kamu ini... putra Quartz?" tanyaku.

Dia menatapku dengan mata peraknya, tajam, seperti hendak menusuk pikiranku. "Bisa dikatakan begitu. Tapi bukan. Aku bukan anak seperti yang kau bayangkan."

Aku bisa merasakan ia sedang membuka luka lama—kisah yang selama ini ia kubur, tapi kini harus terbaca lagi.

***

Orang-orang berkata Quartz menghilang setelah kiamat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Orang-orang berkata Quartz menghilang setelah kiamat. Namun, kenyataannya tak benar.

Lima puluh tahun lalu, MESS-01, Jibril, mengakhiri kiamat dengan terbang ke langit, lalu lenyap dari muka bumi. Sejak itu, MESS-03, Leviathan, ditugaskan menggerakkan Cycle Stream sampai saat Jibril kembali lagi ke dunia. Tapi, pertanyaan terbesar tetap sama: ke mana MESS-02?

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang