Matahari terlelap tenang. Aku melihatnya terbenam di ufuk barat. Langit jingga berubah redup, meninggalkan sedikit warna biru yang menciprat di dasar. Gelap datang perlahan. Pegunungan berbatu di sekitarku berangsur diselimuti malam. Seketika hening. Kekacauan sudah berakhir.
Pegunungan yang tadi menjadi tempat pertarungan sang dewa kini berganti sepi. Dingin menusuk tulang. Es tebal menutupi seluruh bagian luar. Sampai akhirnya meninggalkan sebuah puncak dengan gundukan kristal dingin raksasa. Di dalamnya, seorang pria membeku kaku. Hanya satu tangannya yang mencuat keluar.
Nasib Saba sudah berakhir.
Di depan gundukan es itu, kapal tua yang kunaiki mengayun perlahan di bawah langit gelap. Bintang-bintang mulai menampakkan gemerlapnya. Kami bertiga di atas kapal hanya bisa termenung diam.
"Kamu akan apakan dirinya?" tanya Jaghro kepadaku. Tatapannya sendu, sama seperti wajah wanita di sampingnya. Sedih, pasrah, seakan menyesali sesuatu yang tidak mungkin diputar ulang.
"Aku akan pergi dari sini," jawabku lirih, sambil menatap tubuh yang kupeluk erat. Taiga masih ada dalam dekapanku, terbujur lemas. Ia tidak cerewet lagi. Tidak ada komentar konyol darinya. Hanya diam, terlelap tidak sadarkan diri. Tapi aku masih bisa merasakan napasnya yang lemah. "Dia masih bernapas."
Aku melihat kakak-beradik itu menghela napas lega. Terutama sang adik. Wanita Mesir itu tampak sangat bersyukur ketika tahu penyelamatnya masih hidup. Melihat wajah gembira adiknya, Jaghro akhirnya ikut tersenyum. Meski hubungan kami masih asing, aku bisa melihat tulusnya kebahagiaan pria Mesir itu. Bahagia untuk orang yang mungkin akan menjadi adik iparnya suatu hari nanti.
"Aku pamit," ucapku lagi. Suaraku bergetar, penuh khawatir. Aku sadar kata-kataku merusak ketenangan mereka. "Aku akan pergi ke SEA."
Kedua kakak-beradik itu saling menatap, lalu kembali menghela napas lega. Mereka tahu keputusanku benar. Pergi dari Efrat adalah satu-satunya pilihan. Di benua rimba ini, tidak ada seorang pun yang bisa membawakan seorang dokter.
Berbeda dengan kepulauan SEA—tempat paling ramai di muka bumi. Jalur pelayaran yang menghubungkan benua dingin dengan benua hangat. Sama seperti masa lalu, namanya tetap SEA, South East Asia.
Setelah mendengar tujuanku, Jaghro menatap adiknya dengan senyum tipis. Ia seolah ingin berkata bahwa mereka hanya akan menemaniku sampai sini, tanjung timur Efrat.
"Makka, hati-hati. Aku berutang banyak kepadamu, begitu pula adikku," ucap Jaghro dengan lembut. Senyuman tergurat di bibirnya. Anehnya, senyum manisnya membuatku ikut tersenyum. Aku tidak kuasa menolak ketulusan itu.
"Terima kasih, Kepala Suku." Senyumku masih terukir saat menyebutnya begitu.
Ia tersipu, tersenyum malu. Aku tahu kebodohan besar yang pernah ia lakukan—mengaku sebagai utusan Tuhan. Kini ia sadar betul bahwa itu dosa. Ia bertobat, menerima jati dirinya. Entah hari ini atau esok, Jaghro akan tetap menjadi seorang kepala suku.
"Makka, aku juga seorang MESS," katanya tegas. "Bertemu denganmu adalah sebuah kehormatan. Seorang keturunan Jibril yang perkasa, bahkan putra Leviathan. Hari ini, aku sangat diberkati." Jaghro menatapku hangat sambil memberikan senyum lebar. "Makka, aku bersumpah atas nama Tuhan yang kita sembah, aku akan setia kepadamu. Aku memberikan diriku untukmu. Demi kebebasan. Demi kaum kita, MESS."
Aku menatap wajahnya yang serius. Ikrar itu begitu khusyuk. Seketika aku mengangguk pelan, lalu senyum kecil menyelinap di wajahku. Aku tahu, sejak detik ini, Jaghro adalah sekutuku. Kami berpisah dengan ikhlas, tapi dengan satu tujuan yang sama.
"Keselamatan untukmu dan Efrat," ucapku sambil memutar haluan kapal. Kapal tua ini melaju, meninggalkan mereka.
"Keselamatan untuk Taiga dan Makka, raja kami. Raja manusia dan MESS. Raja orang-orang Efrat," balas Jaghro dengan senyum lebar. Adiknya ikut menyeringai tipis, lalu melambaikan tangan hingga kami hilang dalam kegelapan malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
MESS [TERBIT]
Fantasy[DAFTAR PENDEK WATTYS 2023] Di masa depan yang tidak jauh, bumi-yang-baru tidak lagi milik manusia, tapi dikuasai makhluk kuno bernama MESS, Mortal Entity: Sentient Species. Namun hari ini, kedamaian hancur saat para Kaisar turun tangan, membantai...
![MESS [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/294068964-64-k66827.jpg)