7.3 Final: eternal torment

265 37 103
                                        

Jasad Blue Bird yang terjun bebas menarik semua pasang mata, tapi aku nggak panik. Aku yakin itu ada hubungannya dengan sahabatku. Aqso... semoga kamu baik-baik saja, kupanjat doa tanpa henti.

Di barisan terdepan, aku memimpin ribuan raksasa batu. Pandanganku nggak pernah lepas dari benda jatuh itu. Rasa khawatir menggerogoti, tapi aku harus tetap tegar: medan perang selalu menuntut pengorbanan, bukan kerisauan. Tapi Aqso, jangan sampai jadi salah satu dari mereka...

Dhoom!

Kaca-kaca gedung meledak tiba-tiba. 

Kawanan binatang buas menerjang keluar. Jantungku menjerit. "Konvergen sudah menemukanku!" Tapi aku segera ambil keputusan. "Paman-paman semuanya, angkat senjata kalian!" 

Pasukan selatan mengalihkan pandangannya ke gedung di kiri. Sementara raksasa-raksasa batu tetap maju, aku memerintahkan, "Kalian pergi ke pasukan barat!" 

Aku tahu ini giliranku, petarung terkuat harus menghadapi musuh terkuat. Tapi--

Kawanan banteng muncul dari gedung lain. Dalam sekejap mereka menyerudukku. Tubuhku tersapu, aku terjengkang dan tercebur ke air. Arus tsunami menyeretku, napas hampir hilang sebelum daratan di bawahku menjulang, menyingkirkan ganasnya air. 

Hampir saja aku hilang, ditelan arus.

Basah kuyup, aku mengibas bulu-bulu basah dan menatap sekeliling dengan waspada. Aku nggak mau tertipu dua kali!

"Hei, kau!" suara dari kejauhan membuatku menoleh. 

Wanita berkulit putih, gaun merah menyala, melangkah tenang di antara kehancuran. Itu Red Bull. Dia datang dengan langkah santai, seperti ratu yang nggak tersentuh luka sama sekali.

"Apa kabarmu... Desy—" sapanya.

"Deli!" sergahku. "Namaku Deli!"

 "Diamlah!" bentak Deli sekali lagi.  "Apa kau bilang—""Kau itu bodoh!!!" bentak Deli dengan amarah semakin menjadi-jadi. Air mata turun bertambah deras, tapi bibir malah tersenyum lebar. "Ketika barang sudah dibeli, itu bukan milikmu lagi! Menjual makhluk hidup adalah keputusan yang paling bodoh! Kau mungkin bisa tertawa riang, tapi kami tak akan pernah lupa!"

"Terserah," suaranya segera berubah menjadi ejekan. "Persetan dengan namamu! Kau itu hanya seorang budak yang pernah kujual! Jadi, kau memutuskan menjadi pemberontak?" 

Deli mencengkeram tangannya hingga memerah, menahan amarah. "Kamu salah!"

Red Bull menertawakan hidupku. "Aku salah apa? Hanya orang kaya sepertiku yang bisa hidup nyaman di dunia. Seorang wanita yang dibutuhkan semua orang. Senapan, wanita, dan kesenangan. Aku memiliki semuanya! Kau saja, hanyalah satu dari ribuan budak yang kujual!"

"Diamlah!" aku membentak, suaraku dingin. 

Dia membentakku, mengejek lagi, dan mencoba merendahkan, "Kau yang diam!"

Dia mengejek lebih keras, membuat dadaku sesak. Air mataku menetes, menusuk hatiku. Tapi amarahku mengubahnya menjadi tenaga. Mataku menyala, bibirku tersenyum getir ketika kata-kata itu keluar.

"Kamu salah, Red Bull! Aku bukan milikmu! Aku sudah bebas. Kamu boleh kaya, tapi kamu nggak pernah pakai otak!" Emosiku memotong seperti pisau.

Dia terkejut, seakan nggak siap dengan keberanianku. 

Aku melanjutkan, suaraku pecah oleh tangis yang kutekan. "Ketika barang sudah dibeli, itu bukan milikmu lagi! Nggak perlu mengungkit-ungkit kamu pernah menangkap kami. Menjual makhluk hidup adalah kebodohan paling besar! Kamu mungkin tertawa sekarang, tapi kami nggak akan pernah lupa!"

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang