Pagi ini sama seperti kemarin. Hawa hangat meliputi angkasa. Sinar mentari menyambut semua manusia. Langit biru menambah keindahan. SEA tampak terlalu indah untuk dipercaya—seolah tempat ini masih utuh meski kiamat sudah berulang kali menyapu bumi.
"Makka, ayo kita pergi dari sini!" Taiga berjingkrak penuh semangat.
Aku menoleh. Taiga sudah sembuh. Hanya sehari, tubuhnya yang kemarin rapuh kini kembali kuat. MESS otot itu bahkan melompat-lompat, meregangkan tubuh sambil tertawa. Ia bilang tubuhnya terasa seringan kapas, tidak ada lagi ketakutan masa lalu, tidak ada lagi bisikan yang dulu mengusiknya.
"Taiga, ayo pulang!" Dia menirukan suara bisikan dulu, kali ini hanya untuk mengejek.
Aku ikut tertawa. Tawa kami memecah kehangatan rumah kayu ini. Dinar tersenyum lebar, puas melihat pasiennya pulih begitu cepat hanya dengan satu suntikan cairan. Ia bilang partikular bumi yang mengikat Taiga sudah larut, keluar bersama air kencingnya. Bebas.
Melihat Taiga begitu gembira membuatku lega. Aku pun ikut tertawa keras sambil mengepel lantai. Balas budi kecil untuk Laras, meski ia tidak pernah meminta apa pun. Di sampingku, Yasmin ikut mengepel, seakan tidak mau jauh dariku. Gadis itu benar-benar manja, dan entah kenapa, aku tidak keberatan.
Suasana rumah kayu ini begitu hangat. Kami seperti keluarga. Untuk sesaat, aku bahkan melupakan kiamat di luar sana.
Namun tawa itu seketika pecah.
"Tolong aku!"
Suara bisikan. Tipis. Lelaki. Merayap ke telinga kami berempat. Tawa pun berhenti, bulu kudukku berdiri.
Aku menoleh cepat pada Taiga. Wajahnya pucat. Tubuhnya kembali berkeringat deras. Matanya ketakutan. Aku tahu, ia mendengarnya juga.
"Taiga, tenang! Aku juga mendengarnya," sahutku cepat, berusaha menahannya agar tidak tenggelam dalam rasa takut.
Laras dan Yasmin saling melirik. Aku bisa lihat dari wajah mereka—mereka juga mendengar. Tapi lidah mereka kelu.
"Boss Taiga, please help me!"
Suara itu datang lagi. Lebih jelas. Menyebut nama Taiga. Aku melihat Taiga hampir hancur.
"Taiga! Ingatlah suara siapa ini! Kamu pasti mengenalnya," paksaku, mencoba menguasai keadaan.
Tapi bisikan itu justru beralih.
"Sayangku Laras, tolong aku!"
Aku terdiam. Laras ikut menegang. Suara itu jelas mengenal mereka berdua.
Lalu hening. Sunyi begitu pekat. Kami semua membeku.
Aku paksa diriku waras lebih dulu. Kugertakkan gigi, lalu kutatap tajam mereka berdua. "Apa yang kalian lakukan?!"
Taiga bangkit, gemetar tapi berusaha tenang. "Aku tidak pernah mengenal teman Laras!"
"Gue pun sama," sergah Laras, wajahnya tegang. Ia bangkit dari kursi, berjalan hati-hati ke arahku.
Kami semua saling menatap. Kengerian merambati ruangan, membuat udara semakin berat. Seseorang harus bicara.
"Tapi gue akan mengaku satu hal," ucap Laras akhirnya, suaranya penuh penyesalan.
Aku tercekat.
"Gue... punya seorang pacar," katanya.
Aku menahan napas. Yasmin pun menunduk.
Laras mulai bercerita. Tentang seorang MESS lelaki, sebaya Taiga, dua tahun lebih muda darinya. Tentang rambut putihnya, mata peraknya, tentang pertemuan mereka seminggu lalu saat ia menolongnya—saat lelaki itu selamat dari pembantaian di A-Capital. Tentang kedewasaannya. Tentang perasaan Laras yang tumbuh tanpa bisa ia cegah.
KAMU SEDANG MEMBACA
MESS [TERBIT]
Fantasy[DAFTAR PENDEK WATTYS 2023] Di masa depan yang tidak jauh, bumi-yang-baru tidak lagi milik manusia, tapi dikuasai makhluk kuno bernama MESS, Mortal Entity: Sentient Species. Namun hari ini, kedamaian hancur saat para Kaisar turun tangan, membantai...
![MESS [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/294068964-64-k66827.jpg)