[DAFTAR PENDEK WATTYS 2023]
Di masa depan yang tidak jauh, bumi-yang-baru tidak lagi milik manusia, tapi dikuasai makhluk kuno bernama MESS, Mortal Entity: Sentient Species.
Namun hari ini, kedamaian hancur saat para Kaisar turun tangan, membantai...
RIMBUNAN pohon berganti tidak terlihat. Aku dan Jagra berjalan dengan tergesa menuju sebuah sungai besar. Tujuanku jelas: kapal tua yang selalu menungguku dengan setia. Aku harus segera menjemput Taiga, dan untuk itu, aku sudah merencanakan sesuatu.
"Kamu hendak menyelamatkan laki-laki yang sudah gila itu?" tanya Jagra penuh protes begitu kakinya menginjak kabin kapal tua. Pria berkulit cokelat itu berani banyak bicara setelah merasa aman di tempat yang terapung jauh dari muka bumi, terhalang dari tanah-tanah yang punya telinga.
"Taiga tidak gila!" aku membentak, mulai muak dengan lelaki berusia kepala tiga di belakangku. "Laki-laki itu cuma banyak bicara, dia masih waras."
Di atas kapal tua yang diam menyepi di tengah Sungai Nil, aku menentang perkataan pengecut itu. Aku tahu sesuatu dari masa lalu Taiga—sebuah kekeliruan yang ia simpan rapat-rapat setahun penuh.
"Suntikan yang diberikan Saba itu doping, mengandung partikular bumi," jelasku dengan nada lebih tenang, meski dadaku masih panas. "Kalau Taiga benar-benar gila, bisikan yang ia dengar tidak mungkin hanya tiga kata yang sama terus-menerus."
Wajah Jagra mulai berubah. Ia tersandar lemas, akhirnya menangkap maksudku. Mengapa hanya tiga kata itu yang selalu terulang? "Taiga, ayo pulang."
Aku melihat matanya menerawang, seakan mengingat. Kemarin langit cerah mendadak muram. Kedatangan Saba ke sukunya membuat angkasa bergetar, serupa dengan kengerian orang-orang di sana. Demi sebuah perintah bodoh, sang dewa sampai harus mengancam seorang kepala suku.
"Saba mengambil adik perempuanku," suara Jagra pecah, runtuh bersama keangkuhannya. "Ia membawanya bersamaan dengan bisikan bodoh itu."
Aku terdiam sejenak, tapi lalu tersadar. Kemarin adalah sehari pasca kekalahan Kaisar Torue, penguasa angkasa. Itu berarti Saba sudah mengetahui kedatanganku dan Taiga. Sambutan dari sang dewa rupanya sudah dipersiapkan.
Tanpa pikir panjang, aku berlari mencari kapsul-kapsul transparan yang biasa Taiga telan setiap pagi. Obat itu hanya membuatnya sakit—halusinogen yang juga mengandung partikular bumi. Aku menggenggam semua, lalu melemparkannya ke sungai. Tidak kubiarkan sebutir pun tersisa.
"Kenapa kamu melakukan itu? Mengotori Efrat dengan kapsul-kapsul tidak berwarna?" tanya Jagra polos, meski nadanya getir.
Aku menoleh dengan amarah yang menyala. Langkahku mengentak lantai kayu kapal, mendekatinya. Bibirku yang kaku nyaris mengoyak kata-kata.
"Adikmu akan bernasib sama seperti Taiga kalau tidak cepat diselamatkan!" seruku tepat di hadapannya. "Saba bukan dewa! Dia cuma seorang pecandu!"
Raut terkejut jelas tergambar di wajahnya. Aku bisa melihat bagaimana kata-kataku menamparnya ratusan kali. Ia sempat marah, tapi amarah itu lenyap begitu saja. Jagra terduduk kembali, lemas. Barangkali dalam dirinya masih ada sisa keyakinan bahwa melawan dewa adalah sia-sia.
"Tidak ada gunanya," gumamnya, hampir tidak bersuara. "Saba sudah menggenggam setiap tanah di bumi. Ia bisa mengalahkan kita bahkan tanpa membuka matanya."
Aku tidak bergeming. Aku justru mengangkat dagunya, memaksanya menatap mataku. Dua bola biruku menyalakan sesuatu yang tidak bisa ia temukan pada dirinya: keteguhan.
"Saba memang menguasai semuanya," kataku penuh keyakinan, "kecuali satu hal."
Bibirku menyeringai. Sebuah cetak biru sudah tergambar jelas di benakku, sebuah rencana yang akan membuat Jagra basah kuyup oleh keringat ketakutan.
"Kita akan mengambil apa yang bukan milik dewa."
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.