7.11 Final: our king

350 36 125
                                        

Itu Syam.

Aku menatapnya datang, kaki gemetar kehabisan energi. 

Matanya merah, tapi ia tidak menangis. Malah tersenyum dingin  saat melihat tubuh sahabatnya yang baru saja kubantai. Aku merasakan sesuatu mencekam di dadaku.

"Seorang pendosa akan mati memikul dosa," suara Syam tenang tapi menusuk. 

Kali ini ia menatapku, bukan mayat Lemyaku. Langkahnya pelan mendekat, dan rasa khawatir seketika merayap di seluruh tulang-tulangku.

Eksitasi itu sudah meredup. Cahaya biru padam. Aku terkulai lemas, napasku berat, Demi Allah tubuhku nyaris tidak punya tenaga. Aku cuma bisa memandang sang abang yang mendekat dengan takut.

"Jangan bergembira dulu, ya Akhy!" Syam memasang senyum yang membuat bulu kudukku berdiri. "Kau melawan orang yang salah."

Ia memberi sinyal seperti kegelapan siap disebarkan. Tawa lebar sudah terpeta di bibirnya, menunggu saat yang tepat. 

"Makhluk terkuat bukanlah Lemyaku!" Syam menunjuk dadanya sendiri, dan sesuatu di dadaku mencelus.

Syam mengumpulkan tenaga. 

Gerakan itu... sama seperti yang kulakukan sebelum melepaskan eksitasi. Tidak!

Syam memancarkan eksitasi

Cahaya merah memecah langit. Pilar api merah membumbung tinggi, menembus sampai seolah-olah menantang tujuh lapis langit.

"Kak Makka!" suara perempuan yang lembut, tapi khawatir menyambar perhatianku. 

Yasmin memegang tubuhku yang masih gemetar, memelukku erat. Dalam pelukannya aku merasa sedikit aman, tapi ketakutan tetap menggerogotinya. 

"Kak Makka, aku tidak bisa membaca waktu." Yasmin menatapku ngeri. "Masa depan terasa tidak jelas lagi."

Syam melesat di langit, seperti malaikat berapi. Empat sayap besar meledak dari punggungnya. Ia tampak lebih besar, lebih menghancurkan daripada yang pernah kubayangkan.

"Aku adalah keturunan Jibril!" suaranya menggelegar ke segala arah. "Jibril akan kembali ke muka bumi-yang-baru, memenuhi panggilanku."

Jantungku berdebar tidak karuan. 

Semua orang membeku, keringat dingin mengalir di punggung mereka. Tidak ada yang bisa tertawa. Ketakutan memenuhi setiap wajah.

Detik ini, aku merasakan banyak mimpi buruk... bukan hanya tentang hukuman atau kemenangan. Sebentar lagi... seluruh makhluk akan menerima pengadilan.

"Aku dan Jibril akan menghukum kalian semua!" Syam berteriak dari angkasa, dan suaranya menggema di dalam tulang-tulangku.

Aku menatap ke atas, ke pilar cahaya itu, dan hanya bisa menahan napas.

Langit tiba-tiba meledak, memancarkan cahaya yang membutakan. Dari ketinggian, sosok perkasa turun menghantam bumi secepat kilat. Aku terbelalak. Dia sudah datang.

Sang makhluk terkuat.

Jibril turun ke muka bumi.

Angin menghempas keras, menggetarkan tanah. Ribuan sayap putih mencuat dari tubuh raksasanya. Sosoknya setinggi gedung sepuluh lantai, tapi tidak seorang pun bisa benar-benar melihat rupa itu. Hanya cahaya yang menyelimutinya.

"Wahai Jibril yang agung, dengarlah aku!" Syam menghalau perhatian makhluk bercahaya itu. "Atas nama keturunanmu, aku memohon kepadamu untuk menghukum semua makhluk!"

Aku menunduk, tubuhku masih lemas. Dari sudut pandangku, kulihat Jibril menatap bumi-yang-baru hancur. Daratannya hitam, mayat-mayat berserakan, dan wajah putus asa di mana-mana. Dunia persis seperti ditelan kiamat.

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang