7.4 Final: creeping creature

256 34 70
                                        

Laras Sekar

Ribuan raksasa batu menghampiri, mengguncang bumi di bawah kaki gue. Padahal pulau terbang baru saja mendarat. Mereka berlari mendekati kami, sepertinya dari pasukan selatan. Lalu seketika, raksasa batu itu menghilang bagai mengurai dalam udara. Bukannya itu kekuatan Deli? 

"Sudah sampai!" seru salah seorang dari baris terdepan, dan sorak itu mengalir seperti angin hangat. "Kemenangan semakin jelas di hadapan kita!"

Dari atas batu-batu raksasa, aku melihat barisan pemberontak kami menyambut mereka dengan suka kita, lalu bersatu dan tersusun rapat seperti legiun Romawi. Jumlah mereka membuat pipiku terangkat, kemenangan terasa semakin dekat.

Aku berdiri di barisan depan di antara mereka. Di sampingku Baek Seung-Ja dan Jagra siap sedia. Dari atas ribuan batu yang bergerak, kami bersorak bersama. 

Kami kini satu komuni besar.

Langkah kami semakin cepat saat mencari dua MESS yang memimpin pasukan selatan. Sepasang anak kecil. Tapi mereka tidak ada. Perasaan gue nggak enak.

Gue menyerbu pemimpin pasukan selatan. "Kalian pemberontak selatan, mengapa ada di sini? Mana dua MESS yang membawa kalian?" 

Namun, pemberontak selatan yang terengah-engah menjawab ketika gue menanyainya. "Pemimpin kami sedang berjuang. Deli dan Aqso. Mereka melawan pemimpin A-Capital," katanya.

Kupandang wajah-wajah di sekitar. Baek Seung-Ja, Jagra, dan Yasmin terhenyak. Mereka tahu apa yang gue gelisahkan dalam hati. Deli dan Aqso hanyalah dua anak kecil. 

Gue melihat Baek Seung-Ja mengerut. "Mereka dalam bahaya! Selamatkan keduanya!" serunya, dan tanpa pikir panjang ia melangkah maju, diikuti Jaghro.

Tapi Yasmin menahan mereka.

Gue menatap Yasmin, menanyakan alasannya. Yasmin hanya mengangguk pelan, wajahnya berubah, ada bayangan masa depan yang menakutkan di matanya. 

"Lo habis melihat masa depan?" suara gue tiba-tiba bergetar.

Dia terdiam, lalu berkata dengan suara serak, "Aku tidak bisa memberitahukan masa depan yang kulihat sama kamu—" dan saat ia menatap kami semua, aku menangkap ketegangan yang dalam. "Masa depan akan berubah," tambahnya, lalu menggenggam kata-kata penolong. "Aku sudah melihat jalan terbaik untuk mendapatkan kemenangan."

Gue hampir nggak percaya, lalu sadar... Yasmin nggak akan berbohong tentang ini. MESS waktu menjadi kunci. Dia melihat celah dan penentu kemenangan. Ketika ia menginstruksikan, semua kami terdiam.

"Baek Seung-Ja dan Pak Jagra, kalian berdua harus ke pusat A-Capital bersamaku. Tempat kita bertarung bukan di sini. SEA adalah tempat Laras." Yasmin tegas. "Pertempuran antara tentara dan pemberontak akan berlangsung di sini, SEA. Tsunami tidak menjangkaunya. Semua pemberontak—dari Ming, Turok, Efrat, SEA, Negeri Jonah, Uro, dan Hispan—mari berkumpul. Mereka adalah lawan setimpal untuk Peacekeeper. Jadi, ayo kita pergi! Kak Laras tidak boleh diganggu di sini!"

Instruksi Yasmin detail dan pasti. Tanpa menunggu, Baek Seung-Ja dan Jagra mengangguk dan bersiap meninggalkan SEA bersama Yasmin. Mereka memilih jalan itu... meski meninggalkan gue memimpin di sini sendiri, gue tahu mereka percaya ini jalan terbaik.

"Tetap waspada! Semoga kemenangan ada di pihak kalian!" kata gue kepada mereka, menahan rasa waswas yang menggerogoti.

Yasmin menatap gue, lalu membalas dengan senyum hangat yang memberi gue keberanian. Kami berpisah. Aku melihat tubuh mereka menghilang ke arah pusat A-Capital, membawa harapan, dan beban, bersama.

Gue tetap di SEA. 

Di atas pulau terbang yang mulai menua, gue menunggu takdir. Jika masa depan yang Yasmin lihat adalah kematian, gue memilih pulang dengan senyum karena gue akan berjuang demi sesuatu yang lebih besar daripada rasa takut sendiri. Gue berjanji untuk Deli dan Aqso di hati gue. 

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang