6.5 A-Capital: the death moon

289 38 87
                                        

"Telah semakin dekat hari kiamat bagi manusia. Sementara mereka berada dalam kelalaian. Terus semakin berpaling."

***

Taiga van Ziven

Tiga hari.

Hanya tiga hari sebelum mimpi buruk itu menelan semua orang. Makka pernah bercerita padaku. Ketika kiamat, bumi akan berguncang bagai bulu-bulu yang beterbangan, sementara manusia panik seperti anai-anai dihembus angin.

Nggak ada yang menyadari waktunya sudah dekat. Tapi mereka harus tahu. Aku yang akan mengatakannya. Aku seorang diri yang harus memikul tanggung jawab ini. Berat? 

Ya. 

Tapi demi Makka... semuanya sepadan.

"Gunakan otakmu, Orang Bodoh!" Tanganku berulang kali memukul kepala. Tiga hari. Bagaimana aku bisa memperingatkan seluruh bumi dalam waktu sesingkat itu? "Mustahil!"

Aku berhenti sejenak. Napasku tersengal. Hentikan! Mungkin mustahil bagiku seorang, tapi nggak jika aku ingat... aku punya teman. MESS gaib. Benua Tundra! Kenapa aku baru sadar sekarang?

"Pertama, Inoe!" Aku membulatkan tekad, sudah yakin. Aku menyebut nama sang MESS gaib, lalu menatap utara. Tubuhku jongkok, otot-ototku menegang, siap memantul. Aku akan melakukan hal gila.

"Sebuah sprint ke Benua Tundra!"

Aku menarik napas panjang, mataku fokus lurus ke depan. Otot-ototku kusebut satu per satu, menyalakan tenaga di dalamnya.

"Quadriceps, Hamstring, Gluteal... Sprint!"

Tubuhku meledak ke depan, menembus udara. Setiap langkahku meretakkan aspal. Aku melesat ke utara, sekencang-kencangnya. Gila, benar-benar gila. Tapi hanya orang gila yang bisa tetap waras kalau kiamat sudah sedekat ini.

Kalau kamu di posisiku, kamu juga akan melakukan hal yang sama.

Jangan pernah menghinaku!

***

Sudah sampai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sudah sampai.

Sore hari di benua es, hawa dingin langsung menyambutku. Napasku membeku, tapi aku berhasil mencapai daratan beku itu. Di depan mataku berdiri sebuah rumah berbentuk bola raksasa. Aku menghentikan langkah, menatapnya tajam.

"Inoe! Keluarlah!" suaraku pecah, napasku masih memburu karena sprint gila tadi. Tenggorokanku kering, tapi aku nggak peduli. Aku terus berteriak, sampai akhirnya Inoe keluar sebelum aku sempat mendobrak pintunya.

"Taiga? Kenapa kamu bisa ada di sini?" Inoe terkejut. Rambut putihnya tertiup angin dingin. Aku bisa lihat jelas raut khawatirnya saat menatap wajahku yang pucat. "Kenapa kamu berteriak—"

"Ngga ada waktu!" Aku menatapnya dalam, lalu menceritakan semuanya tanpa terlewat satu pun. Nafasku terburu-buru, kata-kataku nyaris nggak teratur. Sampai akhirnya aku mengucapkan hal terpenting:

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang