Pohon-pohon berkulit lumut menutupi sinar fajar. Hawa dingin menyelimuti rimba yang tidak bertuan. Semak-semak membumbung lebat tidak menyisakan tempat bernaung. Di kegelapan kelabu itu, aku dan Taiga terus maju, mengikuti bisikan yang terus menggiring langkah kami.
"Taiga, ayo pulang!"
Suara itu... berat, rendah, seolah keluar dari pita suara seseorang yang sangat dalam. Tidak berhenti-berhenti, ia menggiringku masuk lebih dalam ke dalam kegelapan rimba.
Tanah gambut yang dirimbuni rumput tinggi seakan mengamini larangan penduduk Efrat: belum ada manusia luar yang benar-benar bisa masuk ke wilayah ini. Semua tahu, Efrat punya penduduk asli, orang-orang badui yang kembali hidup sebagai suku setelah kiamat lima puluh tahun lalu. Mereka menyembah tuhan mereka masing-masing. Tapi pada dasarnya, semuanya sujud pada satu dewa yang sama—sosok yang datang setahun lalu.
Aku tahu kisah itu. Taiga juga tahu. Dewa yang mereka sebut sebenarnya bukan dewa. Dia hanyalah seorang MESS, sebatas Kaisar yang kebetulan jatuh di Efrat: Saba Ramidal.
"Makka, apa saja hal yang bisa Saba lakukan?" tanya Taiga, kali ini berani menuntut jawab dariku. "Dia cucu Jibril juga, sama sepertimu."
Aku terdiam sejenak, berhenti menyingkirkan sulur yang menghalangi jalan. Aku mengingat kembali semua cerita ayahku tentang sepupu tertuaku itu. Walaupun aku tidak pernah bertemu dengannya, cerita-cerita itu sudah tertanam di kepalaku.
"Saba," jawabku mantap, "dia MESS bumi. Dia bisa melakukan semua hal yang bisa kulakukan. Bedanya, dia bisa berkomunikasi dengan bumi, bukannya air."
Taiga terdiam. Kata-kataku seperti membuatnya merenung panjang. Aku tahu apa yang ia pikirkan—kalau Saba bisa mendengarkan bumi, berarti saat ini kami sedang berjalan di atas gendang telinga sang dewa itu.
Tapi aku enggan khawatir. Bagiku, tujuan kami hanyalah bisikan itu. Aku terus melangkah, memaksa Taiga untuk mengikuti.
Meski begitu, aku bisa merasakan keraguannya. Langkahnya berat, dan aku tahu ada ketakutan yang menjerat sarafnya. Lehernya bergetar, mungkin karena bekas luka setahun lalu yang makin berdenyut. Anehnya, ia bisa berhadapan dengan Kaisar Torue tanpa rasa gentar, tapi di hadapan hutan ini, ia tampak ciut.
Aku menoleh, menatapnya tajam. "Taiga, katakan padaku! Setahun lalu, siapa yang memberimu kapsul-kapsul transparan itu? Jangan bilang Saba?"
Ia menunduk, lalu menjawab ragu, "Sudah kubilang, aku tidak yakin. Tapi... sepertinya begitu."
Aku menarik napas panjang. Bukan dokter, memang. Tapi aku cukup tahu: obat yang dikonsumsi setahun penuh, injeksi yang membuat kewarasan goyah, pendengaran yang berubah, delusi... semua itu membentuk pola yang sama di kepalaku.
Seketika aku tersadar. Ada kemungkinan besar aku menemukan sesuatu. Aku berbalik, wajahku panas berapi-api, senyumku merekah seperti menemukan peti harta karun.
Namun senyumku tidak dibalas. Taiga malah menatap sesuatu di belakangku.
"Makka," tanyanya pelan, "apakah Saba bisa menciptakan mulut dari tanah?"
Tubuhku langsung membeku. Mataku membelalak. Tidak. MESS bumi tidak bisa menciptakan organ tubuh. Itu mustahil.
Aku merasakan ancaman di belakangku. Dengan panik aku menoleh—dan benar saja, sebuah rongga mulut menganga lebar menyambutku.
"Taiga, pergi!" teriakku, mendorongnya sekuat tenaga.
Terlambat. Rongga itu melompat dan menelan kami sekaligus. Air liurnya membuatku tergelincir, dan dalam sekejap, semuanya tertutup. Hanya sepasang bibir tersisa, menutup kembali rimba dalam keheningan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MESS [TERBIT]
Fantasy[DAFTAR PENDEK WATTYS 2023] Di masa depan yang tidak jauh, bumi-yang-baru tidak lagi milik manusia, tapi dikuasai makhluk kuno bernama MESS, Mortal Entity: Sentient Species. Namun hari ini, kedamaian hancur saat para Kaisar turun tangan, membantai...
![MESS [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/294068964-64-k66827.jpg)