Hampir 24 jam aku berlayar ke timur bumi-yang-baru.
Sekujur lambung kapal tua yang kutumpangi perlahan mendekati hamparan dataran hijau. Dari kejauhan, di balik warnanya yang menenangkan, aku melihat kepulan asap membumbung tinggi. Anehnya, laut di sekelilingku seolah hidup. Ombak bergelora berduyun-duyun, naik-turun seperti ada pulau raksasa yang sedang tenggelam ke dasar.
"Makka, itu Turok." Taiga menunjuk ke depan, matanya menyipit. "Sembunyikanlah kekuatanmu! Jangan sampai mereka melihatnya."
Aku yang sejak tadi mengarahkan arus laut segera mengikuti peringatannya. Bergegas aku turun dari geladak depan menuju dek utama. Mataku sulit lepas dari pemandangan itu.
Dengan waspada, aku melontarkan pertanyaan, "Apakah Turok sehijau ini? Bukankah dulunya Turok adalah negeri bernama... Korea?"
Taiga berusaha tenang. Aku bisa melihat wajahnya menganalisis kemungkinan yang ada, lalu ia menjawab, "Aku... nggak tahu, Makka. Tapi bersiaplah! Aku membaca di koran... Benua Ming sedang menyerang Turok, mungkin kita akan bertemu Kaisar di sana."
Aku tercekat. Kata 'Kaisar' itu saja sudah membuat bulu kudukku meremang. Benua Ming, negeri terbesar yang ada di bumi-yang-baru, dulunya dikuasai oleh negara yang memimpin dunia, lawan A-Capital. Entah apa yang mereka sembunyikan di balik penyerangan ke Turok. Aku tidak tahu apakah Turok tempat yang aman bagi MESS sepertiku.
Kepulan asap yang tidak berhenti membubung, arus laut yang terlampau aneh—dua hal itu membuat hatiku tidak tenang.
"Taiga, aku curiga dengan kepulan asap itu," kataku jujur. "Aku rasa, kita tidak perlu mampir ke sini."
Taiga hanya menggeleng. Bibirnya tersungging sinis, lalu ia terkekeh. "Dasar kau pengecut, Makka!"
"Bodoh! Kau seharusnya paham maksudku!" aku membalas gusar. "Aku hanya tidak mau melakukan hal yang sia-sia."
Ia melompat ke sampingku, merangkul pundakku dengan enteng, seakan semuanya hanya permainan. "Ayolah, Makka! Beranilah sedikit! Aku tahu orang-orang sinting itu tidak akan jadi masalah buatmu, kan?"
Aku mendengus. Omong kosong. Taiga jelas lupa dirinya lah yang tidak bisa menghadapi orang-orang sinting. Aku ingat jelas, saat penyerangan Dante, akulah yang harus melindunginya.
Sebelum aku sempat melanjutkan, mataku membelalak. Di cakrawala, sekumpulan kapal perang bergerak cepat, mendekati kapal tua kami.
Refleks, aku hendak menenggelamkan mereka dengan kekuatan airku. Tapi aneh, Taiga justru melarangku.
Suaraku meninggi, tidak sabar lagi, "Kamu melarangku hanya demi pergi ke Turok, kan!?"
"Tidak, Bodoh!" Taiga membalas, dan kata-katanya membuat dadaku membeku. "Aku ke sana ingin menyelamatkan MESS!"
Hati ini seakan ditampar. Kata-katanya menembus ke dalam. Aku hampir melupakan pesan bapak.
"Lindungi para MESS." suara itu kembali bergema di benakku.
Aku menunduk, malu. Bagaimana bisa Taiga yang aneh itu justru memiliki kemauan lebih keras daripada aku, sang pelindung yang dipercaya membawa tongkat MESS?
Aku mengangkat kepala. Menatap mata hijaunya yang bersinar mantap.
Dengan senyum hangat, aku berkata, "Ayo kita pergi ke Turok."
Seketika wajah Taiga merekah. Senyumnya begitu lebar hingga aku kehilangan kata-kata, persis seperti saat kami berhasil melewati Cycle Stream.
Tanpa menunggu lebih lama, aku mengarahkan kapal tua ini ke dataran hijau di depan. Kami berdua sudah menyiapkan perlengkapan tempur. Aku tak lagi menyembunyikan shotgun di tas biola; senjata itu kini tergantung di punggungku. Sementara Taiga mulai mengenakan perlindungannya: sarung tangan keras, sepatu baja, serta pelindung sendi di pergelangan tangan dan kakinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MESS [TERBIT]
Fantasy[DAFTAR PENDEK WATTYS 2023] Di masa depan yang tidak jauh, bumi-yang-baru tidak lagi milik manusia, tapi dikuasai makhluk kuno bernama MESS, Mortal Entity: Sentient Species. Namun hari ini, kedamaian hancur saat para Kaisar turun tangan, membantai...
![MESS [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/294068964-64-k66827.jpg)