7.10 Final: water

265 34 80
                                        

Cahaya biru meledak keluar dari tubuhku.

Aku merasakan eksitasi cahaya dahsyat memuntah keluar, menembus langit, sampai membuat mendung hitam yang menutupi A-Capital lenyap begitu saja. Dengan satu teriakan, aku melontarkan semua yang ada di sekitarku pergi.

"Air-air yang memenuhi semesta, aku memohon bantuanmu."

Aku menyerukan panggilan itu lagi. Sama persis dengan setahun lalu, hari ketika Lemyaku membunuh abi. Saat itu, cahaya ini bangkit, sampai-sampai aku melenyapkan seluruh kampung halamanku sendiri. 

Kini, kekuatan terbesar MESS air itu kembali.

Tsunami spontan yang melahap A-Capital mendadak tertarik mundur. Daratan kembali kering, memperlihatkan tanah hitam basah penuh mayat bergelimpangan. Bau kematian menusuk hidungku.

"Laki-laki brengsek!" Urat-urat mengeras di kepala Lemyaku, berusaha menahan angin kencang akibat eksitasi MESS air yang mengelilingiku. Mata emasnya melotot, menyaksikan pusat A-Capital mendadak rata, menjadi tanah lapang.

Aku bisa melihat tubuhnya bergetar, meski dialah yang menobatkan diri sebagai MESS terkuat. Namun tatapannya bergeser pada Yasmin. Dia tersenyum, seakan mengetahui sesuatu.

Eksitasi. 

Teknik tertinggi seorang MESS, hanya dimiliki keturunan Jibril. Luka yang ditorehkan Lemyaku padaku... membawaku mencapainya.

Aku menatap tajam ke arahnya. Seluruh tubuhku memancarkan cahaya biru yang membara, bersama seluruh kemurkaan yang kuhempaskan.

"Lemyaku, kamu harus merasakan kekuatan sebenarnya dari MESS air."

Aku menunduk sebentar pada lengan buntungku. Darah yang sempat menyembur deras berhenti. Warna merah tua berganti putih, kulitku sendiri tumbuh kembali. Ajaib. Aku melihat jariku terbentuk sedikit demi sedikit, hingga tangan itu kembali utuh.

Aku tahu, dari tatapannya yang membelalak, Lemyaku menyadari... aku tidak bisa dibunuh.

"Air adalah kehidupan. Selama aku masih berdiri di muka bumi, orang sepertimu tidak boleh berdiri."

Aku entakkan kakiku keras ke tanah. 

Seketika air keluar bagai cabang pohon beringin, miliaran jumlahnya. Percabangan itu menyebar ke seluruh A-Capital, menghubungkan tubuh-tubuh tak berdosa dengan diriku.

"Air akan memberikan kehidupan."

Aku merasakan aliran cahaya mengalir dari tubuhku menuju kepala para korban sekarat. Luka tertutup, darah berhenti, tulang menyatu, dan organ kembali terbentuk. Mereka semua bangkit. 

Aqso, Deli, Yasmin, Jaghro, dan Baek, lebih bugar dari sebelumnya.

Namun aku tahu, air tidak bisa mengembalikan yang sudah mati.

Lemyaku bergidik. Aku bisa melihat keringat dingin membanjirinya. "Aku akan menghentikanmu!" pekiknya, lalu memunculkan portal raksasa.

Aku menahan langkah, mengangkat telapak tanganku, lalu menggeser sedikit telunjuk. 

"Pergi."

Portal raksasa itu terpelintir, meluncur ke arah lain, dan lenyap seperti pusaran samudra. Lemyaku menganga, gemetar, tidak percaya matanya sendiri.

"Aliran air telah menghanyutkan ruang."

Aku merasakan tubuhku membesar oleh kekuatan. Aku kini seribu, sejuta kali lebih kuat. Air adalah fluida. Fluida adalah aliran. Aku tidak ragu lagi untuk mengalirkan semesta.

"Brengsek!" Lemyaku mengeluarkan jutaan portal lagi. 

Dia meluncurkannya padaku, tapi satu demi satu kulenyapkan. Berulang-ulang. Hingga tubuhnya basah oleh keringat, hingga pikirannya habis.

"Cukup!" suaraku menggema ke seluruh A-Capital. "Waktumu sudah habis."

Aku melihat tubuhnya membeku. Tidak bisa bergerak. Bagai dipaku ke tempatnya.

"Di dalam tubuhmu tersimpan air," gumamku, menyeringai penuh amarah. 

Aku berpindah dalam sekejap, berdiri tepat di hadapannya. Tubuhnya gemetar hebat.

Tangan baruku bergerak. Aku mencengkeram lehernya, mencekik, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Aku memperlihatkan Lemyaku kepada seluruh rakyatnya.

Mata emas itu menatap liar. Tapi aku tidak melihat lagi wibawa seorang presiden. Yang kulihat hanyalah seorang pendosa yang harus dibawa ke neraka.

"Aku akan menunjukkan hukumanmu."

Aku menggeram seraya meremas leher Lemyaku lebih keras. Kuserap semua air dari tubuhnya. 

Kulitnya mulai mengelupas, layu, lalu beterbangan bagai debu yang ditiup angin. Aku melihat tubuhnya terurai perlahan, dimulai dari tangan, kaki, lalu sepasang matanya. Dia akan diseret ke neraka, dan aku sendiri yang membawanya ke sana.

Pria itu meronta-ronta di genggamanku, meraung kesakitan. "Hentikan! Bedebah! Keparat! Aku akan—"

Aku tidak memberinya kesempatan. 

Tinju kananku mendarat keras di wajahnya. Bogem yang mampu menumbangkan pelepah kurma kini melumat wajah seorang presiden yang putus asa. Darah muncrat, tubuhnya semakin tidak berbentuk. Aku hanya melihatnya menangis, tubuhnya hancur berlumuran merah.

"Bagianku sudah selesai," tutupku dengan ringis lebar.

Tanpa ragu, kulempar tubuhnya yang berlumuran darah ke lautan manusia yang sudah ditenggelamkan amarah. 

Lemyaku, tanpa lengan, tanpa kaki, tanpa mata, terbang menuju rakyatnya sendiri.

Dan mereka menyambutnya dengan jutaan pukulan. Tubuh buntung itu tidak bisa lagi bergerak. Organ-organ copot satu per satu, diinjak, dihantam, dihancurkan. Aku melihat tubuh putihnya berubah menjadi bubur merah yang anyir, sampai akhirnya tidak bersisa.

Lemyaku sudah terseret ke neraka.

Langit kembali biru. 

Aku menatapnya, merasakan cahaya hangat menyingkirkan sisa-sisa kelam. Senyum mulai menghapus tangis di wajah semua orang. Warna hijau perlahan tumbuh kembali, bumi sekali lagi bernapas lega.

Sorak kemenangan menggema keras, bukan hanya dari para pemberontak, tapi juga dari seluruh manusia. Hari ini akhirnya tiba.

Hari ketika MESS dan manusia tersenyum bersama.

Sudah selesai.

Semuanya... terima kasih.

Namun--

"KERJA BAGUS!"

Seorang pria Arab melangkah dari kejauhan, senyum lebarnya membuat sorak-sorai seketika terhenti. 

***

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang