5.5 Quartz: I am home

286 43 124
                                        

INOE KATCHATAG

Deli berteriak sekencang-kencangnya. Latina itu gemetar ketakutan saat melihat seekor burung phoenix melesat ke arahnya. Aku pun tak menyangka Konvergen ternyata lebih menakutkan daripada orang-orang A-Capital yang dulu sering menghardikku.

"Hempaskan!" aku menggerakkan tangan gaibku.

Sekumpulan tangan-kaki raksasa segera muncul, menghadang Blue Bird. Meski Deli dan Aqso tak bisa banyak membantu, aku yakin masih bisa menahan laki-laki burung itu sendirian.

Suara hempasan tangan-tangan gaibku menggema, keras, bertenaga. Sekali kibas saja, tubuh Blue Bird terpental ratusan meter jauhnya. Namun, meski sudah berkali-kali kuhempas, dia terus menyerang dari segala arah. Hingga sebuah serangan tiba-tiba melesat dari bawah, hampir mengenai Deli.

Dia mengerang. "Tanganku!" 

Aku menoleh, dan melihat lengannya terbakar api biru. Luka itu membuatnya meringis kesakitan.

Hatiku langsung diliputi kekhawatiran. Kedua anak ini tak boleh ada di sini. Konvergen tak akan mengasihani siapa pun, bahkan anak-anak. "Deli, Aqso, keluarlah!"

"Tapi, Kak Inoe—" Deli menatapku ragu.

"Masuklah ke Benua Hispan! Jangan pedulikan kami!" suaraku penuh rasa cemas. Keringat mengalir deras di keningku, menandakan betapa tegangnya aku menghadapi situasi ini. "Aku mohon, menurutlah!"

Deli akhirnya mengangguk, begitu pula Aqso. Keduanya bergerak cepat, berusaha keluar dari tengkuk raksasa yang kami naiki. Namun, sebelum mereka melompat, aku menahan Aqso. Ada sesuatu yang harus kusampaikan.

Aku menatap bocah berambut ikal itu dengan serius. "Lindungi Deli! Meski kamu pendiam sama sepertiku, jangan pernah hanya berdiri diam ketika orang yang kamu pedulikan terluka. Aqso... aku mempercayaimu."

Anak itu menegang, lalu mengangguk. Untuk pertama kalinya, aku melihat wajahnya begitu tegas.

"Pasti! Bahkan dengan nyawaku!" jawabnya lantang. 

Aku sampai tertegun, begitu pula Deli. Si pendiam itu ternyata bisa berkata seheroik itu.

"Bagus!" Aku tersenyum lebar. 

Aku tahu betul rasanya dilupakan, tak dianggap. Justru karena itu, orang seperti Aqso akan berkorban habis-habisan demi mereka yang sudah lebih dulu menganggapnya berarti. Dia sama sepertiku.

Namun senyumku segera sirna.

Blue Bird kembali menyerang. Aku tak punya waktu lagi. Deli dan Aqso harus segera pergi. Begitu burung phoenix itu menabrak mulut raksasa, keduanya melompat ke luar.

Aku melihat Deli membangun tiang-tiang tinggi dari tanah, melompat di atasnya satu per satu. Sementara itu, Aqso berubah menjadi rajawali, sayap coklat kemerahannya membentang gagah, terbang cepat menuju gerbang Benua Hispan.

Sedikit lagi, mereka akan selamat. Namun tiba-tiba tanah bergetar. Tiang-tiang Deli seakan ditabrak kekuatan luar biasa. 

Itu Red Bull. Dia mengejar anak-anak itu.

"Deli!" Aqso panik. Dia hendak menukik, tapi Deli melarang.

"Aqso, pergilah! Jangan pedulikan aku!" Deli menepis pertolongan Aqso.

Mustahil! Gadis itu bisa mati! Aku bisa merasakan kegelisahan Aqso, bahkan sebelum ia bertindak. Dan aku tahu, dia tak akan meninggalkan Deli. Aku percaya padanya.

Benar saja, Aqso menukik tajam. Dia bertarung melawan kawanan banteng yang mengamuk, cakarnya merobek, paruhnya menusuk. Bocah itu bertarung sepenuh hati.

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang