3.1 Efrat: delusion

374 82 125
                                        

Dua hari berlalu sejak berlayar dari Turok. 

Aku semakin mengenal Taiga. Dia laki-laki yang suka bicara dan berpura-pura bodoh di depanku, padahal dia sangat hangat. Meski begitu, ada satu hal yang masih belum kuketahui. Kenapa tiap malam... dia selalu mengalami mimpi buruk? Dan setelah itu... dia meminum sebutir pil aneh?

Ada apa dengan Taiga?


Sebujur kapal tua terombang-ambing di atas ombak malam. Tidak melaju ke mana-mana, hanya naik-turun di tempat, sementara samudra membentang luas hingga ke batas cakrawala. Tanpa daratan yang tampak menjulang, bahtera itu seolah tidak gentar diam di tengah lautan.

Dek kapal sunyi. Tidak ada keramaian, tidak ada suara gaduh dari dua laki-laki yang biasanya memenuhi geladak. Seperti anak ayam kelelahan, para penghuninya terlelap, tenggelam dalam tidur di hangatnya udara laut.

Makka tertidur pulas. Pakaian beratnya sudah ia tanggalkan; hanya celana cokelat kesayangan yang masih melekat di tubuhnya. Anehnya, tangan kirinya tetap menggenggam erat sebuah senapan. Bukannya guling, dia memilih memeluk senapan laras panjang itu dalam tidurnya.

Di sampingnya, Taiga ikut terlelap, hanya mengenakan celana pendek. Kalau bukan karena dimarahi Makka, mungkin ia sudah tidur hanya dengan celana dalam, masih terbawa kebiasaan lamanya dari A-Capital.

Namun berbeda dengan Makka, yang benar-benar lelap, Taiga tampak gelisah. Kelopak matanya bergerak cepat, bola matanya berputar liar. Ia seperti sedang bermimpi—mimpi yang kuat untuk membuat tubuh kokohnya dibasah keringat.

"Taiga, ayo pulang!"

***

TAIGA VAN ZIVEN

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

TAIGA VAN ZIVEN

"Papa!"

Aku terbangun di tengah mimpi buruk. Malam pembantaian—enam hari lalu.

Aku berteriak sekuat tenaga, memanggil papaku. Pita suaraku sudah terkoyak, darah mengalir dari mulutku, tapi aku terus memanggilnya. Nggak peduli tubuhku ditahan, nggak peduli rasa perih membakar tenggorokan.

Aku duduk terikat di tengah alun-alun, bersama ribuan orang lain. Kami hanya segerombolan tubuh yang dikerangkeng, dipamerkan. Di sekitarku, gedung-gedung terbakar merah, sirene meraung tanpa henti, dan teriakan manusia bertumpuk menjadi badai suara. Tapi aku tetap merasa suaraku yang paling keras—walau sia-sia.

Peacekeeper menyeret orang-orang seperti binatang buruan. Mereka yang melawan langsung ditembak mati. Jasad-jasad kaku berserakan, tapi tidak ada satu pun wajah tentara yang menoleh. Bagi mereka, kami bukan manusia. Kami adalah MESS—hama.

Dari kerumunan, seorang pria berambut panjang, dan berkilau seperti emas, maju ke depan. Wajahnya keras, matanya berkilat, dan tiba-tiba... semua riuh di alun-alun berhenti. Hening mendadak, seolah dunia menahan napas. Lalu suaranya menggelegar:

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang