4.4 SEA: the hum of resurrection

289 61 80
                                        

INOE KATCHATAG

"Stop! Mengambil kehidupan makhluk tak bersalah adalah dosa besar! Neraka akan membakarmu dalam keabadian!" Aku berteriak kepada Romanov yang memojokkanku. 

Aku berdiri di ujung gang kota. Langkahku terhenti karena dinding tinggi yang menjulang ke langit menghadang. Bangunan terbesar di seluruh SEA berdiri tepat di depanku, membuatku tak punya jalan keluar.

"Kau akan berakhir di sana," ancam Romanov, nada suaranya horor. Rambutnya putih berkibar tertiup angin, sorot matanya menikam, dan seringai menyeramkan tergurat di wajahnya. Ia berjalan maju dengan puas, menikmati ketakutanku. "Konvergen akan menghapusmu!"

Konvergen. 

Nama yang payah, kaku, dan hampa makna. Namun, mendengar nama itu, mataku terbelalak. Aku tak percaya—mimpi buruk Cold Sea benar-benar ada di sini.

Setelah pembantaian seminggu lalu, negara-negara di Cold Sea mengekor ke A-Capital. Lemyaku dengan ideologinya membuat MESS punah di sana. Tundra, A-Capital, Hispan, dan Uro—keempat benua itu kini terbebas. Dan siapa yang melakukan pembersihan itu? Mereka menyebut diri mereka Konvergen.

"Aku pemimpin Konvergen," katanya bangga. Romanov, begitu ia dikenal. Dendam terpahat di hatinya. Tentang ketidakadilan, ia selalu bertanya, "Mengapa kalian harus lebih perkasa daripada kami?"

Ia berlagak sedih, pura-pura tenggelam dalam pilu, padahal aku tahu semua itu hanya permainan. Dia piawai memainkan perasaan, hingga aku pun makin tenggelam dalam kengerian.

"Aku menjunjung tinggi kehidupan!" aku membalas, meski nyawaku sendiri sedang terancam. "Aku tak ingin melawanmu. Just go away!"

Namun Romanov tak peduli. Ia terus melangkah maju. Senyum yang haus darah melekat di wajahnya. Ia memiringkan kepala, menekanku seperti mangsa yang sudah dipilih.

Sepuluh meter jarak tersisa. Tangannya meraih sesuatu di pinggang—sebuah pistol hitam. Ia mengangkatnya. Tinggal menarik pelatuk, nyawaku akan selesai.

Aku menahan napas. Jantungku berdentum. Aku tidak takut mati—aku takut jika harus membunuhnya. Air mataku jatuh. "Ya Tuhan, ampuni jiwa yang berdosa ini."

"Tidak perlu air mata buaya!" Romanov menertawakan. Ia melihat halusinasi uang, upah besar yang akan ia kantongi dariku dan dari MESS. Baginya aku hanyalah target bernilai ratusan ribu dolar.

Lalu langit berubah. Mendung merayap, menyelimuti SEA. Gelap turun, angin mengiringi. 

"Sudah berakhir—" teriaknya, sebelum tubuhnya terhempas keras ke gedung belakang. Seolah tangan raksasa tak terlihat mencekiknya, padahal di hadapannya hanya udara tipis.

Aku sudah memperingatkannya. Kini, MESS gaib dalam diriku tak bisa lagi kutahan.

"Penghuni samudra yang melayang nan tenggelam, aku memohon amukanmu."

Ketenangan lenyap. Angin dingin menyusup ke kepulauan tropis. Mataku berkilat, wajahku dipenuhi amarah. Aku tak lagi sama.

"Bangkit!"

Teriakanku mengguncang seluruh penjuru SEA. Raungan menjawab panggilanku. Setiap kepala di kepulauan itu dirasuki. Aku membiarkan kuasa gaibku menguasai mereka.

Permainan selesai. "Matilah kamu dimakan kaummu sendiri, Romanov."

***

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang