[DAFTAR PENDEK WATTYS 2023]
Di masa depan yang tidak jauh, bumi-yang-baru tidak lagi milik manusia, tapi dikuasai makhluk kuno bernama MESS, Mortal Entity: Sentient Species.
Namun hari ini, kedamaian hancur saat para Kaisar turun tangan, membantai...
Air laut mengganas penuh amarah di antara pencakar langit A-Capital. Ibukota dunia itu melebur menjadi samudra yang menyeret ribuan mayat. Wow! Kini A-Capital nggak berbeda dari medan perang.
"Kak Makka sedang melawan Lemyaku!" teriakku lantang dari ketinggian. Aku terbang tinggi, menatap pusat A-Capital. "Semua siap-siap! Peacekeeper sedang menyebar buat menghentikan kita!"
Aku mengepak sayap di atas ribuan raksasa batu yang menerjang lautan tsunami. Sebagai MESS rajawali, aku menjadi penuntun bagi pasukan pemberontak dari selatan.
Sejauh ini, rencana berjalan sebagaimana mestinya. Nggak ada korban jatuh dari pihak kami. Tsunami mungkin memperlambat laju pemberontak, tapi itu juga memperlambat Peacekeeper. Sayangnya, ada satu orang yang nggak bisa diperlambat oleh apa pun.
Blue Bird. Seorang MESS phoenix.
"Mati kita!" Aku berdecak khawatir, begitu melihat siluet itu dari kejauhan. Aku tahu dia pasti akan datang. "Sudah waktunya. Aku harus berpisah!"
Kali ini aku menatap Blue Bird dengan yakin. Meski kakiku masih bergetar, aku tahu ini takdirku. Bocah delapan tahun melawan anggota Konvergen yang abadi—kedengarannya gila. Tapi harus ada yang melakukannya. Jika salah satu tentara terkuat lolos menuju pasukan pemberontak, semuanya bisa berakhir.
Aku harus mengorbankan diri. Pisahkan musuh.
Jangan biarkan mereka mengganggu tujuan utama: membunuh para Kaisar.
"Deli, aku pergi dulu." Aku menatapnya tegar.
Entah aku akan gugur atau bertahan, aku sudah ikhlas. Satu korban lebih baik daripada seisi pasukan. Tapi aku sudah berjanji: kalau aku mati, lawanku nggak akan pernah berjalan utuh lagi. Aku tidak akan ramah kepada musuh.
Deli hanya mengangguk. Tatapannya berat, tapi berisi banyak harapan. Hari ini, semua orang akan menangis. Termasuk dia. Karena itu, aku harus terus maju. Aku nggak sendirian.
"Terima kasih." Aku mengguratkan senyum hangat. Aku berusaha percaya bahwa aku cukup kuat. Kata-kata Kak Makka terus bergema di kepalaku:
Kekuatan MESS nggak pernah terbatas!
Dengan tatapan yakin, aku mengepakkan sayap cokelat kemerahan. Sekali kepak, tubuhku meluncur naik ke angkasa. Dalam hitungan detik, aku sudah melesat jauh ke depan—hingga nggak terlihat lagi.
Aku akan melawan Blue Bird.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di tengah angkasa yang menaungi lautan tsunami, phoenix yang kuamati terus meluncur ke arah selatan. Blue Bird nggak peduli pada para pemberontak—setiap teriakan dari ujung maut nggak berbekas di telinganya.
"Dasar manusia-manusia lemah—" ejeknya, sampai aku menabrak tubuhnya denga keras dan memotong ejekan itu.
Blue Bird mendongak, amarahnya menyala, lalu berubah aneh menjadi senyum saat melihat siapa yang menabrak: aku.