2.4 Turok: the sky emperor

358 88 56
                                        

Hujan turun tajam, mengiringi gelapnya malam. Seirama dengan langkah kakiku, jatuhan air merenggut sisa kehangatan, masih terjun deras enggan terhenti. Langit tertutup rapat, seakan tak seorang pun sadar bahwa malam ini adalah malam pertaruhan kami.

Beberapa kaki di belakangku bergetar lemas. Bahkan ada yang berdiri sempoyongan, melawan derasnya hujan. Meski basahnya air tidak benar-benar bisa menyentuh kulit ari kami, dinginnya tetap menusuk tulang.

Seorang pria tua di barisan depan tersungkur tidak berdaya. Tubuhnya menghantam tanah becek, mengejutkan rombongan, tapi langkah para pencari kebebasan tidak berhenti. Aku ikut menahan napas melihatnya.

Kulitnya yang keriput makin mengerut, ditarik dingin yang mematikan. Napasnya tersengal, cepat, seperti hujan yang memburu jatuh ke tanah. Bibir pucatnya gemetar, terbuka hingga menampakkan gigi-gigi yang ompong. "O, sinisiyo, urireul guhasoseo!" "Ya Dewa, selamatkan kami!"

Aku langsung menghentikan langkah. Suara itu menusuk dadaku. Tanpa pikir panjang, aku melompat ke arahnya, mendekap tubuh renta itu. Tapi—embusan napasnya sudah tidak ada. Kosong.

"Makka-hyung, teruskan perjalanan!" suara seseorang memanggilku dari belakang.

Aku memeluk pria tua itu lebih erat. Air hujan menetes di wajahku, bercampur dengan rasa sesal yang tak bisa kuucapkan. Mataku yang biru menatap ke wajah kosong itu, berharap ia masih bisa mendengar permintaan maafku.

"Baek, kamu maju ke depan!" aku berseru sambil tetap mendekap tubuh renta itu. Suaraku bergetar, tapi tegas. "Baek, hancurkan semua daratan Turok yang tersisa! Bawa pantai timur ke sini sekarang juga!"

Baek menatapku sekejap, lalu berlari. Aku tahu ia mengerti maksudku.

Ribuan pasang mata menatapku pasrah. Mereka tidak berkata apa-apa, tapi aku tahu di kepala mereka hanya ada satu bayangan: diri mereka sendiri menggantikan pria tua yang mati di pelukanku, terbujur demi kebebasan yang belum pasti.

"Makka-hyung, hentikan hujannya!" teriak Baek dari depan.

Aku menoleh, menatap sekitar. Puluhan kilometer masih menunggu. Tanpa MESS air bersamaku, kami semua akan mati kedinginan. Aku mengepalkan tangan, lalu berdoa pada kekuatan yang mengalir dalam darahku.

"Wahai air yang membasahi bumi," suaraku pecah di tengah riuh malam, "tetaplah dikandung awan dan biarkan kehangatan meliputi kami!"

Seketika derasnya hujan berhenti, berganti rintik, lalu hanya mendung tipis. Bulan dan gemintang perlahan menampakkan diri. Rombongan itu mendongak, menatap langit dengan mata yang mulai berbinar.

Namun aku melihatnya.

Sebuah benda menggantung di langit, tidak pergi bersama awan. Melayang kaku, seperti lonceng di atas gereja tua. Aku menatapnya tajam, jantungku berdentum. Sinar bulan keluar dari baliknya, menyingkap wujud aslinya.

Seorang manusia. Terbang.

Celaka! Aku tahu siapa dia.

"Air, bertarunglah bersamaku!" aku berteriak, memunculkan tebing es raksasa dari tanah basah.

Tapi manusia itu—tidak. Dia menarik udara. Tarikan itu terlalu kuat, menyeret isi organ dari tubuh orang-orang di sekelilingku.

Satu per satu, mereka memuntahkan darah. Dari mulut, dari hidung. Tubuh yang sudah gemetar kini ambruk di tanah gambut. Ribuan jiwa terkapar, tersisa aku seorang diri, berdiri di antara mereka dengan kaki yang ikut gemetar.

Aku mendongak, memekikkan suaraku ke arah Baek yang masih di depan. "Baek, pria itu Kaisar! Dia adalah Torue Baruna—sang penguasa angkasa!"

***

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang