Di atas tanah berpasir, aku melangkah dengan yakin. Mata biruku menatap cakrawala yang diselimuti ombak. Tiap jejak kakiku membekas di butiran pasir putih. Aku akhirnya sampai di teluk timur.
Malam ini akhirnya datang. Batinku bergemuruh. Senyum tidak bisa lepas dari bibirku. Senapan di tanganku terasa semakin ringan, seakan ikut merayakan langkah-langkahku menuju seseorang yang duduk di atas batu karang. Aku mempercepat langkah.
"Hey!" sapa lelaki di atas batu karang. "Kamu berhasil sampai ke sini." Wajahnya disinari senyum lebar, menyambutku yang semakin mendekat. "Aku sempat khawatir. Kata Yasmin, Konvergen mengejarmu."
Aku tertawa pelan. "Mereka sudah kalah." Meski bahagia, ada rasa canggung yang menyelinap. Semuanya akan berbeda setelah malam ini. Aku akan bertemu ummi.
"Benar, kan! Temanku ini pasti akan menang melawan siapa pun." Taiga melompat turun dari batu karang, lalu menggandeng tanganku. Dia menarikku menuju sebuah kapal pesiar kecil.
"Tunggu, ini kapal siapa lagi? Mana kapal tuamu?" Aku menahan langkah, meski genggamannya kuat.
"Ini kapal sewaan. Aku tidak bisa membawa kapal tuaku ke teluk timur. Tapi tenang, kapalku masih tersimpan di pantai barat," jawabnya enteng. Dia terus menarikku, sampai akhirnya kami menaiki kapal kecil berwarna putih itu. Taiga memang pandai mencari cara, juga mencari uang.
Kami berdiri di geladak depan. Aku menatap cakrawala dengan tegak, sedangkan Taiga menatapku dengan senyum yang hangat. "Ayo kita berangkat!"
Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. Tanganku terangkat ke arah laut. Air menjawab panggilanku, mendorong kapal putih itu dengan ombak yang berdebur. Kapal melaju ke arah timur dunia. Tujuan kami: Cycle Stream.
Pelayaran malam itu berlangsung dalam diam. Bulan sabit menggantung di langit. Taiga yang biasanya cerewet kini bungkam, hanya sesekali tersenyum padaku. Aku pun menyeringai kecil sambil mengarahkan kapal putih.
Hari ini aku akan menepati permintaan abi.
Laut mulai bergejolak. Ombak-ombak ganas menyeret kapal dengan kencang. Samudra seperti mengamuk, persis seperti yang kuingat. Inilah saatnya. Aku sudah sampai di Cycle Stream.
"Air, berikan ketenanganmu," bisikku dengan senyum.
Sekejap, ombak-ombak yang bergelora terdiam. Lautan yang tadinya beringas menjadi tenang, memantulkan sinar bulan yang indah.
"Ummi! Ummi!" teriakku sekuat tenaga. Meski hatiku digelayuti rasa khawatir, aku paksa diriku menanamkan harapan.
Panggilanku hanya bersambut hening. Mataku mulai berkaca-kaca. Taiga berdiri di sampingku, mencoba menguatkanku dengan tatapan tenang. Harapanku hampir pudar—sampai aku melihat sosok wanita muncul dari permukaan laut.
Seekor duyung bermata biru.
Senyumku langsung merekah. Air mata bercampur tawa kecil. Taiga pun ikut gembira, meski jelas itu bukan umminya—melihatku sebahagia ini sudah cukup baginya.
"Ummi!" Mataku berkaca-kaca. Akhirnya... aku akan menjemputmu.
Aku membekukan beberapa bagian laut di depanku. Es tebal menjulur ke arah wanita itu. Tanpa ragu aku melompat ke atasnya dan berlari sekencang mungkin. Air mata mengalir deras di pipiku.
Dia berenang mendekat, senyum terukir indah di bibirnya yang basah samudra. Semakin dekat, hingga hanya sejengkal memisahkan kami. Kami saling menatap, mata biru bertemu mata biru. Air mata jatuh dari keduanya. Aku tahu, wanita itu benar-benar ummi.
"Ummi!"
"Makka!"
Kami memanggil serempak, lalu berpelukan erat. Dingin samudra tidak sanggup mengalahkan hangatnya rangkulan kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
MESS [TERBIT]
Fantasy[DAFTAR PENDEK WATTYS 2023] Di masa depan yang tidak jauh, bumi-yang-baru tidak lagi milik manusia, tapi dikuasai makhluk kuno bernama MESS, Mortal Entity: Sentient Species. Namun hari ini, kedamaian hancur saat para Kaisar turun tangan, membantai...
![MESS [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/294068964-64-k66827.jpg)