7.9 Final: space and time

273 34 80
                                        

"MAKKA!" Teriakan penuh amarah itu menggelegar di pusat A-Capital. 

Bersamaan dengan hujan yang tiba-tiba turun, suara itu bagai guntur yang mengguncang jantung semua orang yang tengah berlarian mencari perlindungan.

Lemyaku marah besar. Dia menciptakan jutaan portal untuk memisahkan kepalaku dari tubuhku. Namun semua sia-sia. Dia sudah memilih lawan yang salah. "Matilah kau, Putra Rai Brahmanta!"

Aku bermanuver dengan lincah, menggunakan arus tsunami yang terus bergemuruh di bawahku. Sesekali, aku membekukan permukaannya, lalu meluncur di atasnya seperti pemain ice skating. Ombak raksasa yang menjulang, aku jadikan papan selancar.

Aku memutar otak keras-keras, mengingat motivasiku. "Kekuatan MESS tidak pernah terbatas!" 

Dan memang benar. Dengan penuh keyakinan, aku berhasil menghindari jutaan portal yang bisa saja memotong tubuhku berkeping-keping. Aku masih utuh. Belum terluka sedikit pun.

"Kau tak bisa lolos untuk selamanya!" Lemyaku meraung, putus asa. 

Dia tidak menyangka kekuatanku kini setinggi ini. Aku tahu, dia sekesal itu saat kulampaui. Namun, dia melakukan sesuatu--

Jentikan jarinya membuat bulu kudukku meremang. Tiba-tiba, portal raksasa terbuka di tengah medan tempur. Portal itu melintang liar, memotong gedung-gedung tinggi A-Capital seakan semua hanyalah mainan kertas. 

"Hindarilah kalau kau bisa!" suaranya menggelegar, bersamaan dengan portal-portal yang bermunculan. Ribuan. Mungkin jutaan!

Namun, jutaan portal kecil lenyap, berganti menjadi hanya satu portal raksasa, seukuran stadion sepak bola. Lemyaku menggerakkannya ke arahku, mengejar tanpa henti, berusaha memenggal kepalaku.

"Pria itu gila!" aku mengumpat sambil melesat cepat dengan arus tsunami. 

Secepat mobil balap aku meluncur, tidak perlu berlari. Tapi dia masih saja menempel di bawahku, terus mengikutiku.

Aku menembus gedung-gedung A-Capital dengan manuver akrobatik. Di belakang, portal raksasa terus melaju, menghancurkan apa pun yang dilaluinya. Gedung-gedung pencakar langit terpangkas, terbelah, dan bahkan runtuh. Jeritan manusia terdengar di mana-mana, bercampur dengan semburan darah. Potongan tubuh, orang-orang yang terjun bebas, yang tertindih reruntuhan. Semuanya menambah kengerian kota ini.

Aku tahu, ini harus segera kuselesaikan. Namun tiba-tiba aku terpaksa berhenti. Di depanku, berdiri monster raksasa, membujur sebesar benua. 

Aku tercekat. "Leviathan?"

Sirip raksasanya menghantam ke arahku. Tepat ketika sirip itu jatuh, portal raksasa milik Lemyaku hampir mengenaiku. Aku menghindar. Namun, portal-portal itu mengiris habis semua yang ada di depannya, termasuk sirip yang barusan melindungiku.

Lalu portal itu lalu lenyap, menghilang seakan tidak pernah ada. Aku masih hidup. Aku selamat. Tapi ada yang aneh...

Leviathan tidak mungkin bisa keluar dari Cycle Stream sebelum Jibril turun ke bumi. 

Jadi... kalau bukan Leviathan, siapa makhluk ini? Jangan-jangan--

Mataku membelalak. "Taiga!" napasku tercekat. 

Monster raksasa yang baru saja melindungiku... itu Taiga. Teman seperjuangan yang selalu berada di sisiku sampai titik ini!

Dadaku bergetar.

Inoe... suara teriakan tadi berasal darinya. Aku tahu, sebagai MESS gaib, dia pasti sudah menjual jiwanya. Taiga dan Inoe... dua sekutuku yang terkuat, telah melakukan pengorbanan terbesar mereka. Lalu... bagaimana dengan yang lain?

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang