5.3 Quartz: orphans

303 46 109
                                        

Langit berkabut mulai diterangi rona kuning sinar mentari. Hamburan cahaya menyelimuti kekacauan di daratan berbatu. Aku dan Inoe berdiri menentang seorang gadis kecil.

"Inoe, aku mulai," bisikku pelan. 

Aku memegangi belenggu yang ada di leherku. Lepasnya belenggu itu akan menjadi aba-aba pergerakan. Aku melelehkan belenggu yang menempel di leherku dan leher Inoe. Air sontak tumbuh dari dalam tanah, melelehkan tanah keras menjadi lumpur.

"Inoe, lari!" aku berlari, memulai perlawanan.

Aku langsung melesat kencang. Larianku jauh lebih cepat daripada Inoe. Jangan tanyakan soal kemampuan fisikku—aku tidak ada bedanya dengan seorang Peacekeeper.

Belenggu tanah bermunculan kembali dari bawah. Kali ini lebih banyak. Lebih agresif. Gadis kecil itu jelas tidak menginginkan kami mendekatinya.

Kurang ajar! Aku tidak ingin lajuku terhambat oleh tumpukan belenggu rongsokan yang tidak ada habisnya. Sudah cukup!

Aku berhenti bermain manis. Gadis kecil yang menjadi dalang ini tidak sepantasnya dikasihani. Dia harus dihukum akibat perbuatannya. Aku tidak segan menggunakan kekuatanku.

"Ombak-ombak yang terus menghantam daratan, teruslah berdebur dan tutupi tanah berbatu ini!"

Ombak laut yang semula berdebur perlahan kini melaju kencang ke daratan. Bagai ombak di pantai yang mendorong semua orang, batas laut seakan bergeser hingga seluruh daratan tertutup.

Banjir rob menyelimuti pantai.

Saat air laut mulai meninggi, aku melompat, hendak menghindari basahnya air laut. Aku akan melakukan sesuatu.

"Beku!"

Permukaan air setinggi mata kaki sekejap membeku. Bermula dari bawah telapak kakiku, menjalar ke seluruh muka air. Dingin. Kabut yang menyelimuti kami semakin tebal akibat embun dari es. Permainan ini semakin memanas.

Belenggu tanah yang mencuat tidak lagi mengganggu kami. Lapisan es adalah milikku. Tanpa ragu, aku melanjutkan lari.

Sementara di balik kabut, suara gemuruh bergolak menggelegar kencang. Bersama kepulan debu yang membumbung, suara bising itu terdengar jelas, seperti bebatuan yang runtuh.

Inoe sedang melakukan sesuatu di belakang sana.

Para raksasa indah roboh satu per satu, kehilangan keseimbangan. Inoe menghancurkan tumpuan para gunung berjalan itu.

Dasar anak kecil! Membuat raksasa indah hanya akan melemahkan pijakannya. Aku bergumam dalam batin, lalu menoleh sekilas. Inoe kini tersenyum percaya diri. Gadis kecil yang mengendalikan para raksasa indah jelas tidak bisa melihatnya. 

Berterima kasihlah kepada kabut tebal—seorang MESS gaib akan segera mengamuk.

Inoe tiba-tiba dilindungi oleh sesuatu yang tidak terlihat. Serangan raksasa indah itu ditepis amat mudah. Aku melihat jelas—seperti ada tangan monster tidak kasatmata yang menjaganya. MESS gaib itu ternyata memiliki makhluk-raksasa-tidak-terlihat yang siap melindungi.

Hancurkan! Inoe mengarahkan lengan kirinya ke raksasa indah lain di depan. 

Senyum percaya diri masih menghiasi wajahnya. Tanpa bersusah payah, dia bisa menaklukkan para raksasa indah.

Sesuatu yang tidak terlihat mendorong kaki kiri raksasa indah berbentuk Dewi Athena hingga bergelimpangan tidak karuan. Seketika, wujud itu kembali menjadi seonggok gunung membatu. Inoe menghabisi satu per satu raksasa dengan gampang. Luar biasa—MESS gaib itu memang andal.

Aku dan Inoe benar-benar sudah menguasai permainan.

Gadis kecil itu tampak bergetar ketakutan. Dari atas pundak seorang raksasa, aku melihat dia tidak kuasa menahan panik. Keadaannya jauh dari perkiraan. Dia tidak menyangka dua orang yang ia jebak ternyata MESS, dan bahkan petarung hebat. 

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang