7.5 Final: cannot hide

252 37 73
                                        

Jaghro Mustabiq

Di antara gedung-gedung yang dihantam tsunami, aku, Baek, dan Yasmin berlari tergopoh. Keringat membanjiri pelipisku. Kami menuju pusat A-Capital. Aku tahu, masa depan yang dibacakan Yasmin itulah yang harus kujalani bersama Baek.

"Apakah Laras-noona akan baik-baik saja?" tanya Baek khawatir. Suara riuh dari arah belakang jelas terdengar.

Yasmin hanya diam. Dia berlari tanpa menjawab, tatapannya menyimpan kesedihan.

"Jelas pertempuran sedang terjadi, Baek," sahutku akhirnya. Aku tidak bisa membiarkan anak itu terus diselimuti cemas. "Kita hanya bisa berdoa agar kemenangan berpihak pada kita."

Baek terdiam. Aku bisa melihat keringat menetes deras di tubuhnya. Dia masih kecil, masih belum mengerti bahwa pemberontakan selalu berakhir mengerikan.

"Kuatkan dirimu, Baek!" Aku berusaha meneguhkannya. "Jika sekutu kita harus kehilangan nyawa, lebih baik kamu khawatirkan dirimu. Kau bisa bernasib sama."

Ya, itu kenyataan pahit. Ini bukan saatnya menoleh ke belakang. Peacekeeper akan terus datang, begitu juga Konvergen dan Kaisar. Tidak ada ruang untuk keraguan.

Tiba-tiba, dengungan berfrekuensi tinggi terdengar dari sebuah gang di depan. Kami semua berhenti. Suara langkah kaki mendekat, semakin keras.

"Itu mereka." Yasmin menahan kami. "Peacekeeper dan... Konvergen."

Aku segera bersiap. Begitu Peacekeeper itu muncul, aku maju ke depan. "Mundurlah, ini bagianku!"

Dengan mulut raksasa yang kubuka dari tanah, aku menelan sebagian besar Peacekeeper sebelum mereka sempat menembakkan peluru. Tapi dua orang berhasil menghindar. Seketika aku sadar—mereka bukan prajurit biasa. "Itu Konvergen!"

Baek mencoba maju mendampingiku, tapi Yasmin mencegahnya. Aku tahu maksudnya. Jika kami bertarung bersama, Konvergen juga akan saling menguatkan. 

Yasmin menepuk pundakku dan Baek. "Tapi aku masih harus ke pusat A-Capital, seperti rencana awal."

"Tidak ada cara lain." Aku menoleh pada Baek. "Baek, pergilah bersama Yasmin. Aku pasti menang. Yasmin masih harus pergi ke pusat A-Capital. Aku akan melindungi kalian dari dua Konvergen itu."

Wajah Baek berubah. Dari takut menjadi berani. Aku melihat api di matanya. Anak itu menuntun Yasmin di antara gedung-gedung A-Capital. Sementara aku memasang kuda-kuda, bersiap menghadapi Konvergen sendirian.

Ketika Yasmin dan Baek melanjutkan perjalanannya, aku hanya bisa tersenyum. Ya, inilah takdir kami. Aku sudah siap, apa pun hasilnya--

Namun, sebelum sempat bernapas lega, sekumpulan sisik emas keras melesat ke arahku. Lengan kiriku langsung terluka parah. Rasa perih menyengat, darah mengalir.

Sial! Aku tidak menduga serangan mereka secepat ini!

Aku melompat masuk ke dalam mulut yang kubuka di bawah kakiku. Gelap. Sesak. Tapi di sanalah aku bisa bertahan. Sisik-sisik itu menempel di kulitku, menancap dalam, meninggalkan bekas luka pedih.

Aku mengepalkan tangan. Pertarungan baru saja dimulai.

Aku berusaha diam. Kupasang telinga tajam-tajam, mencoba menangkap suara musuhku. Hening. Tidak ada apa pun selain sibakan air yang terbelah. Apakah dia sedang berenang? 

Aku sadar tidak bisa terus bersembunyi. Pelan-pelan aku mengintip keluar dari mulut raksasa yang kuciptakan. 

Kosong. Tidak ada siapa pun. Tapi--

Benar saja, dia berenang.

Kulemparkan waktu beberapa saat, tapi tidak ada kemajuan. Kami sama-sama bertahan, tidak ada yang menyerang duluan. Aku tidak suka ini. Bedebah itu memaksaku keluar. Awas saja, kamu akan membayarnya!

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang