4.2 SEA: your lady

352 66 127
                                        

Udara hangat mulai menyelimuti angkasa. Tidak panas dan tidak dingin. Pagi itu, kulihat mentari perlahan beranjak dari tempatnya terlelap. Sinar kekuningan menampakkan langit biru, membangunkan manusia yang terlelap—kecuali aku.

Aku masih terjaga. Aku tidak sanggup meninggalkan Taiga yang terbujur lemas. Ia tidak sadarkan diri, diam enggan bersuara. Semalaman aku menemaninya dalam keheningan, berbeda dari biasanya.

"Bodoh, cepatlah bangun. Kamu membuatku sangat khawatir," bisikku dengan tatapan sendu. Mataku lelah. Semalaman, sepasang mata biruku tetap terjaga. Aku tidak bisa melakukan apa pun selain menunggu dan berdoa. Aku terus bersujud, memohon kepada Yang Maha Kuasa sebuah keajaiban. "Di SEA nanti, kamu akan sembuh. Aku janji."

Udara hangat tiba-tiba meliputi seluruh tempat. Untuk pertama kalinya aku tersenyum lega. Hawa nyaman ini tanda SEA sudah di depan mata. Aku akan menemukan dokter untuk Taiga. Sahabatku itu harus bangun. Aku harus membayar utangku, dan suatu hari menjadi raja untuknya. Untuk MESS.

Tanpa menunggu lama, aku mempercepat laju kapal tua yang kunaiki. Ombak bergantian mendorongku semakin dekat ke jajaran pulau yang penuh keramaian.

SEA. 

Masih sama seperti dulu, yang tertulis di buku sejarah geografi. Kapal-kapal berlabuh di sepanjang pantai, pedagang hilir-mudik, riuhnya menyeruak ke telingaku. Tempat ini akan menyembuhkan Taiga. 

Aku yakin.

Aku beruntung menemukan dermaga kosong di depan moncong kapal. Segera kuarahkan kapalku ke sana. Begitu kapal menepi, aku keluar ke geladak.

Namun aku terkejut. Seorang wanita asing berdiri tepat di depan tempat berlabuh. Rambut sebahunya diterpa angin, dan ia tersenyum lebar padaku. Senyuman itu aneh—membuatku justru ngeri.

"Selamat datang di SEA!" serunya dengan bibir merah jambu. Ia mengenakan setelan panjang dan jas putih. Dokterkah dia? Refleks aku hampir mengangkat shotgunku. "Akhirnya kita bertemu, Makka!"

Aku tersentak. Bagaimana dia bisa mengenalku? Aku bahkan tidak pernah keluar dari Midas, kampung halamanku. Kecurigaan langsung memenuhi benakku. Tapi kalimat berikutnya membuat pertahananku goyah.

"Gue bukan di pihak Kaisar. Gue tahu semuanya, termasuk keadaan Taiga," ucapnya ramah. "Bawa dia ke tempatku! Gue akan mengobatinya."

Aku bimbang. Rasa curiga belum hilang, tapi aku tidak punya pilihan. Wanita itu pasti tahu sesuatu. Dan Taiga harus tetap hidup. Kenapa aku harus ragu? Seorang wanita asing tidak lebih berbahaya daripada Kaisar.

"Aku akan mengikutimu," jawabku dingin. Aku masih menggenggam erat shotgun di tangan kanan, sementara di bahu, tubuh Taiga kupanggul dengan sekuat tenaga.

"Pemuda yang kuat," ucap wanita itu padaku. Senyumnya tidak luntur. Ia hanya setinggi bahuku, tapi entah kenapa matanya memandangku seperti aku ini raja.

"Tidak perlu berbicara. Aku tidak butuh pujian," balasku tegas. Aku terlalu lelah untuk basa-basi. Belum makan. Belum tidur. "Aku hanya butuh kesembuhan laki-laki yang kugendong."

Ia hanya menaikkan bibirnya sedikit. Tidak marah dengan jawabanku, malah mempercepat langkah. Sepertinya dia mengerti keadaanku.

Dia tahu: jangan sampai membuatku marah.

Termasuk siapa aku... Makka Al-Fata. Sang cucu Jibril.

***

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang