5.4 Quartz: capital gate

292 41 131
                                        

Benua Hispan sudah di depan mata. Sebentar lagi, aku bisa menepati janji: mengantarkan Deli dan Aqso kembali ke kampung tempat mereka dilahirkan. Dua anak yatim dari Negeri Jonah itu berhak pulang.

Aku dan tiga MESS lainnya melaju kencang di atas punggung raksasa batu. Dalam setengah hari, kami sudah menyeberangi Benua URO—Eropa yang kini mati penuh gedung tinggi. Mustahil melewatinya lewat jalan utama. Karena itu, kami menembus jalur pantai barat. Sepi, sunyi, dan jarang manusia.

Sejak pagi aku berdiri di pundak kanan raksasa, menatap cakrawala dan sesekali melirik ke belakang. Aku tak pernah membiarkan kewaspadaanku kendor.

"Makka, beristirahatlah!" Inoe bersandar di dalam mulut raksasa yang terus menganga. Dia duduk bersama Deli dan Aqso, sementara aku masih saja terpaku di sini.

Aku menggeleng. "Tidak, Inoe. Aku khawatir pada mereka."

"Mereka?" Inoe memicingkan mata peraknya. Baru ketika kami memasuki wilayah Cold Sea, ia sadar siapa yang kumaksud. "Konvergen?"

Aku mengangguk. Tatapanku tetap serius. Murid-murid Romanov pasti sudah bergerak. Mesin-mesin pembunuh itu... sama sepertiku.

Inoe justru tersenyum, seolah tak ada yang perlu ditakutkan. "Makka, akan kuberi tahu sesuatu."

Aku menoleh, melepas pandanganku dari garis cakrawala.

"Konvergen ada di belakang kita," bisiknya. Entah mengapa dia bisa tertawa kecil saat mengucapkannya.

Darahku mendidih. "Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?!"

"Aku mendapat kabar dari makhluk gaib yang bisa terbang," jawabnya enteng. "Seorang MESS burung berwarna biru. Lucu sekali, kan?"

Aku menatapnya datar. Inoe belum tahu seberapa berbahayanya Konvergen. "Kamu salah, Inoe. Blue Bird hanyalah pengawas. Yang melacak kita adalah Gold Fish, dengan sonar seperti lumba-lumba. Lalu ada Red Bull, wanita yang bisa mengubah tubuhnya jadi banteng. Dan terakhir... Black Mamba, wanita yang menyimpan perbekalan hidup di dalam perutnya."

Inoe terdiam, ternganga. "Bagaimana kamu tahu semua itu?"

Aku mendesah kesal. "Mereka murid-murid guruku. Romanov. Orang yang memburumu kemarin."

Dia tertunduk, malu. Kesalahannya hampir membahayakan Deli dan Aqso. "Kalau begitu, kita harus menghentikan mereka. Jarak mereka hanya lima kilometer."

Aku sempat berpikir sejenak, lalu menatap Deli dan Aqso. "Aku akan menghadapi mereka. Sendiri."

"Kamu gila!" Inoe menatapku tajam.

Aku menepuk pundaknya. "Tidak! Kau jagalah anak-anak itu. Aku mohon padamu." 

Inoe terdiam. Dia tahu aku benar.

Namun, suara polos Deli memecah suasana. "Aku ingin membantu Kak Makka!"

Aku hanya bisa tersenyum, menggeleng. "Tidak perlu. Aku janji bisa menghadapinya sendiri."

"Kalau begitu, biarkan kami menunggu di depan gerbang Hispan!" Rahang Deli mengeras. Aqso mengangguk, tersenyum dengan gigi ompongnya.

Aku terdiam. Anak-anak itu benar-benar tulus. Perlahan, kuusap kepala mereka. "Baiklah. Aku akan menyusul kalian."

Dengan satu lompatan, aku tinggalkan raksasa yang terus melaju. Air sungai di kanan-kiri menjadi sekutuku. Kini saatnya aku menghadapi Konvergen.

***

Matahari sudah tenggelam ke tempat penaungannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Matahari sudah tenggelam ke tempat penaungannya. Inilah waktunya. Kegelapan akan menelan kegelapan yang lain. Malam ini, Konvergen akan berakhir—di tanganku.

Aku berdiri tegap, menatap tajam ke selatan cakrawala. Jantungku berdegup mantap. Aku menantikan kedatangan orang-orang yang harus kuhapus dari muka bumi.

Dengan shotgun terpasang di depan wajahku, aku sudah siap menyerang. Dan akhirnya, suara itu terdengar—gemuruh derap larian banteng.

"Matilah kalian!"

Aku menarik pelatuk.

Tembakan sinar meluncur deras dari moncong senapanku, menyinari gelapnya dataran tandus. Dentumannya mengguncang tanah. Tepat sasaran. Suara gemuruh itu terhenti. Aku berhasil menghentikan laju mereka. Tapi aku tahu, Konvergen tidak akan tumbang semudah itu.

Kepulan debu tebal menghalangi pandanganku. Tidak ada suara, hening mencekam, hingga aku melihat sesuatu melesat tinggi ke langit. Seekor burung raksasa dengan api membumbung keluar dari tubuhnya. Indah. Biru. Sebuah phoenix... bukan. 

Itu Blue Bird.

Aku segera mengarahkan senapan, siap menembaknya. Namun, lagi-lagi suara gemuruh meledak. Kali ini lebih besar, lebih banyak. Debu menyingkir, dan aku melihat kawanan banteng. Ribuan. Semuanya berlari kencang menghunjam ke arahku, dengusan keras membuat tanah bergetar.

Sial! Kutelan kekesalan. Mereka benar-benar merepotkan. Konvergen adalah MESS sekaligus petarung andal. Tapi aku tidak akan mundur. Aku akan memenangkannya.

Aku kembali menarik pelatuk. Satu demi satu banteng itu meledak, terpanggang tembakan dahsyatku. Dentum demi dentum memenuhi udara. Lima menit kemudian, ribuan banteng telah menjadi abu.

Aku berhasil. Tapi kepuasan tudak pernah datang. Mereka hanya pengecoh. Red Bull dan Blue Bird sudah lenyap, mengejar Inoe, Deli, dan Aqso di belakangku.

"Kurang ajar!" Aku menggertakkan gigi. Tinggal dua orang di hadapanku: pria berkilau emas dan wanita berambut kribo nan seksi. Gold Fish dan Black Mamba. Baiklah, kalian lawanku sekarang.

Aku meluncurkan tembakan ganda. Aku tidak memberi kesempatan sedikit pun. Sisik emas Gold Fish terlalu berbahaya, begitu juga kelenturan ular Black Mamba. Namun, mereka berdua berhasil lolos. Wanita itu meliuk lentur, pria itu menahan dengan sisik emasnya.

"Oh, jadi kaulah pembunuh White Lion?" ejek Gold Fish pongah. Angkuh sekali.

Aku tidak peduli. Dasar cerewet! Aku menarik pelatuk lagi. Satu tembakan menembus kepalanya. Tepat sasaran. Gold Fish tumbang, tubuhnya tercebur ke sungai yang deras.

"Gold Fish!" jerit Black Mamba panik. Wajah angkuhnya lenyap, berganti takut.

Benar saja, Konvergen hanya mengerikan jika bekerja sama. Individu, mereka lemah.

Aku kembali menembak, puluhan kali. Tapi wanita ular itu terus menghindar, meliuk lincah. Hingga akhirnya, ia memilih menyusul temannya, terjun ke sungai.

Tidak! Aku tidak akan membiarkannya kabur. Aku meraih air sungai, merasakan deras arusnya.

"Air yang mengalir di celah bumi, kurunglah mereka!"

Es membentuk cepat dari tanganku, merambat sepanjang aliran. Sungai yang deras membeku, kristal bening menjerat tubuh Black Mamba dan Gold Fish. Kedua siluman itu kini beku dalam es.

Aku menang. Terlalu mudah.

Namun—

"Kak Makka, tolong kami!" Teriakan melengking pecah dari kejauhan. Suara gadis. 

Dari arah gerbang ibukota. Itu pasti Deli atau Aqso. Inoe belum berhasil membawa mereka masuk ke Hispan.

"Kurang ajar..." Aku segera berlari ke utara, meninggalkan dua jasad membeku di sungai. Konvergen belum selesai. Red Bull dan Blue Bird masih menunggu.

Gemerlap lampu kota Hispan mulai menyala, menembus langit malam Benua URO. Eropa lama kini menjadi saksi.

Cukup sudah.

Aku akan menyelesaikan semuanya. Aku bersumpah!

***

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang