0. the flame that began the doomsday

2.2K 261 298
                                        

Hancur-lebur ujung barat daya bumi-yang-baru.

Kampung halamanku, yang kukenal selama empat belas tahun, dilahap api. Ledakan berdentuman dari segala penjuru, bertubi-tubi bagai tabuhan genderang perang.

Bagaimana mungkin tentara A-Capital menyerbu pulau ini? Wilayah terluar... sekaligus terpencil di ujung bumi-yang-baru?

Dalam sekejap, langit malam berubah merah. Debu panas melesat ke angkasa, membakar ribuan unta dan domba. Jalanan dipenuhi mesiu yang menusuk hidung. Erangan dan teriakan minta tolong bersahutan dari rumah-rumah berpelepah kurma.

Aku tergopoh ke tengah kota, terpaksa membiarkan perempuan dan anak-anak yang sekarat bergelimpangan di pinggir jalan. Pikiranku hanya terpaku pada satu orang.

Abi.

"Abi!" seruku, pita suaraku seakan robek. "Ayna anta? La tamut!" ("Dimana engkau? Jangan mati!")

Teriakanku menggema, melawan kebisingan yang menelan segalanya. Suaraku pecah, napasku tersengal. Aku menangis...

"Shoot him!" suara berat membalas teriakanku dari ujung gang.

Seorang pria berseragam hijau loreng dengan baret berlambang A-Capital sedang mengawasiku. Seorang Peacekeeper. Dia menjawab tangisku dengan pekikan perintah: membunuhku.

Aku tahu mustahil selamat menghadapi gerombolan Peacekeeper yang telah membantai kampung halamanku. Tapi aku menolak menyerah. Aku tidak akan tunduk. Sial!

Aku bergegas menyambar senapan yang melintang di punggung. Kubidik moncongnya lurus ke depan lebih cepat daripada kedipan mata. Tanpa ragu, kutarik pelatuk aluminium itu—

Dor!

Tembakan memecah udara bagai kilatan laser. Peluru panas melesat, menembus kepala Peacekeeper yang menargetku.

Aku segera lari ke tengah kota sebelum gerombolan lain datang mengejarku. Wajahku yang murka tertutup abu. Kulitku tergores puing yang membara, putihnya berganti hitam pucat. Aku menerjang keras mayat-mayat yang semakin banyak bergelimpangan di tepi jalan. Keringat bercucuran deras, membanjiri sekujur tubuh.

Kenapa ini semua terjadi? Apa salahku? Aku mengumpat sepanjang jalan. Abi... tidak boleh mati! Aku tidak bisa menjadi yatim piatu! Kami harus keluar dari sini—apa pun risikonya!

Air mataku lolos tanpa sadar. Rasa sedih membobol kekuatan seorang lelaki sepertiku. Tanganku mengepal erat, menahan amarah yang mendidih.

Dua belas menit berlalu. Pasir jingga yang kasar berganti blok paving kelabu. Aku hampir sampai.

Di tengah kota, tepat di depan rumah putih bertingkat, kakiku terhenti. Tapi tiba-tiba—

DHOOM!

Rumah itu meledak. Tempat tinggalku... tempat Abi berada. Rudal menghantam atapnya, melontarkan miliaran pecahan material ke segala arah. Aku terpelanting jauh, meski tujuanku sudah di depan mata.

Aku terbatuk, berdiri sempoyongan. Debu menyerang napasku yang memendek. Telingaku berdenging, nyaris tuli. Mataku memerah, perih digerus abu setajam silet tidak kasat mata.

"Abi! Ayna anta!" ("Bapak! Di mana bapak!") Aku menelisik puing-puing rumah kami yang luluh lantak. Bangunan itu hangus, tidak menyisakan harapan.

Namun tiba-tiba, sesuatu meluncur dari sana. Sebongkah komet—melesat ke arah alun-alun timur kota.

"Abi! Hadza Abi!"  ("Bapak!Itu bapak!")

Air mataku bercampur harapan. Aku tidak peduli kota kelahiranku tenggelam dalam kekacauan. Aku juga tidak peduli seorang ibu meninggalkan bayinya, atau penggembala kabur meninggalkan unta dan domba.

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang