7.8 Final: continental drift

250 37 128
                                        

Taiga van Ziven

"Kaisar Torue sudah mati!"

Raungan itu menggema di seluruh langit A-Capital. Aku mendengar suara MESS gaib yang telah menjual jiwanya, teriakan yang membuat tubuh-tubuh tegap di sekitarnya bergetar ketakutan. Kematian satu dari empat Kaisar menjadi tanda, rambu hijau yang nggak bisa disangkal.

Aku melihat para pemberontak bersorak girang. Kemenangan terasa semakin dekat, tubuh-tubuh mereka sudah basah oleh darah. Nggak ada bedanya mereka MESS atau manusia, tujuan kami sama: kematian para Kaisar adalah harga mati. Kami hidup di atas bumi yang sama, maka kami akan mati bersama!

Kiamat ketiga... sebentar lagi usai.

Aku menunduk, merasakan beratnya pengorbanan yang sudah jatuh selama kiamat ini. Banyak yang hilang. Banyak yang harus dibayar. Tapi tugasku masih jelas: aku harus menjemput Makka.

Aku berdiri di atas seekor paus yang berenang menembus gedung-gedung tinggi A-Capital. Bersamaku, mama Makka berenang di sisinya, mata birunya penuh cemas. Aku harus mengantarnya pada putranya.

"Mama Makka, aku akan menunjukkan jalan," kataku sambil membungkukkan badan kepadanya. "Sebentar lagi kita sampai."

Meski mulutku tegar, hatiku sebenarnya ikut tenggelam dalam kekhawatiran. Begitu juga dia. Kami sama-sama berdoa agar Makka selamat. Meski lautan pasukan pemberontak sudah tumpah, kemenangan belum tentu ada di tangan kami.

Aku menelisik sekitar. "Tetap waspada, Mama Makka—" 

Namun tiba-tiba dentuman keras meledak dari tanah A-Capital. Tsunami bergolak, tanah ibukota dunia seakan runtuh ke dasar kerak.

"Apa itu barusan?" Mama Makka dengan wajah mematung, jelas ketakutan.

Aku menelan ludah. "Mama Makka, aku minta maaf. Aku nggak bisa menemanimu lebih jauh lagi."

Tatapannya menusukku, penuh kecemasan. Dia tahu aku menyembunyikan sesuatu. "Ada apa?"

"Saba," jawabku pelan tapi waspada. "Kaisar bumi. Dia sudah mulai berulah."

Keringat dingin mulai mengalir di wajahku. Aku tidak bisa membohonginya, aku panik. Makka... aku nggak bisa langsung menyusulmu. Saba harus dihentikan.

Kaisar bumi itu pasti sudah mendengar kabar kematian Torue. Raungan itu telah menggema ke seluruh penjuru A-Capital. Dan Saba... dia pasti melanjutkan kiamat. Dengan menabrakkan benua-benua menjadi satu, dia akan melahirkan bumi-yang-baru lagi, untuk kesekian kalinya.

Hanya membayangkannya saja membuatku semakin berkeringat. Aku nggak bisa menunggu lebih lama. "Mama Makka, aku benar-benar harus pergi—"

Dentuman lain meledak. Kali ini lebih dahsyat, membuat tanah A-Capital retak besar, menganga hingga menelan jalanan. Gedung-gedung tinggi berguncang hebat seperti nyiur diterpa badai.

Aku tahu waktuku habis. "Mama Makka, sudah nggak ada waktu. Aku harus pergi!"

Aku berpaling, meninggalkannya meski hatiku berat. Wajahnya penuh doa dan kecemasan, namun aku harus memilih. Makka butuh mamanya, dan dunia butuh aku untuk menghentikan Saba.

Semoga langit dan bumi-yang-baru melindungi kita semua.

***

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang