2.5 Turok: son of Naru

355 85 86
                                        

Bulan purnama menyinari pundak Kaisar Torue yang melayang di atas sana. Udara dingin menusuk, tapi tubuhnya tetap tegak di langit. Dari bawah, aku hanya bisa melihat bagaimana dataran yang dulu hijau telah lenyap ditelan samudra. Benua itu kini tinggal menyisakan kabut yang membubung tiada henti.

Di langit yang sama, Torue masih terus mencariku. Aku tahu pria oendek itu tidak percaya aku mati begitu saja. Dia yakin aku masih hidup—karena aku adalah putra Rai Brahmanta, anak terkuat Jibril.

"Putra Rai Brahmanta, keluarlah!"

Suara itu menggema ke segala penjuru. Padahal dia sama sekali tidak berteriak. Jelas dia memahami cara kerja gelombang longitudinal—menggetarkan udara hingga semua orang bisa mendengar teriakannya.

Aku tetap diam. Torue semakin agresif, meluncur di udara luas, mencari ke mana pun pandangannya bisa menjangkau. Dia takut mendekat terlalu jauh. Benar saja—dia belum tahu kekuatanku. Jika benar aku mewarisi api abi, tamatlah riwayat MESS udara itu.

"Pengecut, keluarlah!" serunya lebih keras lagi. "Kamu bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan ayahmu! Menyedihkan!"

Aku bisa merasakan nada congkak itu menembus air tempatku bersembunyi. Meski pandangannya tajam menyapu lautan, dia tetap tidak bisa menemukan jejakku. Mungkin sekarang dia mulai ragu apakah aku benar-benar sudah tewas. Tapi aku tahu satu hal: pria itu tidak akan berhenti.

Lama dia berkeliling, dan akhirnya kesabarannya habis. Aku melihat dari bawah bagaimana jemarinya menjentik, lalu udara mendidih dalam pusaran hitam. Awan-awan bergulung, menutupi cahaya bulan, dan sekejap langit berubah menjadi neraka angin.

Torue memang luar biasa. Berbeda dengan MESS lain yang harus berbicara dengan semesta, dia hanya butuh satu gerakan untuk membuat alam tunduk. Pusaran angin raksasa terbentuk di belakangnya, besar hampir separuh Turok. Dan dengan congkak, dia mengucap:

"Putra Rai Brahmanta, mati saja kau seperti bapakmu!"

Ucapan itu menusuk lebih dalam daripada pusaran angin mana pun. Aku muak. Walau paru-paruku perih menahan napas, aku masih sanggup bertahan seharian dengan teknik MESS-ku. Tapi mendengar mulut kotor Torue berulang kali, aku tidak bisa terus sembunyi.

Persetan Taiga bilang kepala Torue dihargai 100 juta dolar! Kaisar itu sebenarnya lemah. Dari tadi hanya bisa berteriak seperti bocah cengeng. Aku sudah menetapkan niat: aku akan melawannya. Tidak peduli dia Kaisar atau raja angkasa, aku akan pertaruhkan hidupku di sini.

Aku menguatkan hati, menghitung segala kemungkinan. Aku tidak boleh muncul ke permukaan—suara apa pun akan bergema karena kekuatan udaranya. Tapi Torue tidak berhenti memprovokasi.

"Woi, Putra Rai Brahmanta! Kau dan ayahmu sama saja, Pengecut! Dari dulu kalian hanya bisa bersembunyi!"

Kata-katanya membuat darahku mendidih. Dinginnya air laut tidak mampu memadamkan murka. Otakku berteriak: pria bermulut besar itu pasti tidak pernah pakai otak!

Cukup sudah! Saatnya menyerang.

Kabut di permukaan Turok, bergeserlah ke atasku!

Aku memanggil kepulan kabut yang semula dibuat Baek. Kabut itu bergemuruh, menutup permukaan laut, melawan pusaran hitam di langit.

Awan hitam di langit, turunkan hujanmu!

Seolah mendengarku, awan-awan itu menumpahkan isinya. Hujan deras jatuh, menutup pandangan Torue. Langit seakan bersekutu denganku, membuatnya kesal karena tidak bisa lagi melihat jelas.

Dia makin murka, berteriak liar, menyalurkan semua amarah ke udara. Teriakannya menggema ke segala penjuru:

"Putra Rai Brahmanta, sampai kapan kau akan bersembunyi!? Tampakkan mukamu dan lawan aku—!"

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang