Baek Seung-Ja.
Itu namaku.
Dan aku akan mati hari ini.
Suara bising ibukota tidak ramai seperti biasanya. Desingan peluru menggema di seluruh jalan, meninggalkan jasad tidak bernyawa, bergelimpangan di sepanjang trotoar. Aroma mesiu melayang menusuk hidung. Di manakah tempat 'tuk berlindung di negeri gingsengku sekarang?
Aku melongok dari jendela balkon, melihat setiap orang berlarian tidak mempedulikan apa yang dipijak. Entah kepala, atau tangan, atau bahkan nyawa seseorang. Mereka terlihat putus asa, dan satu-satunya tujuan adalah keluar dari negeri yang dulu bernama Korea, Turok—tempat Ming melakukan kolonialisasi.
"Appa, gaji ma!" ("Ayah, jangan pergi!") Aku menahan appa, menariknya dengan paksa, sampai rambut middle part-ku teracak-acak.
"Seung-Ja tetap di sini! Appa mohon kepadamu," ucap appa, memasang wajah pasrah.
"Tapi Appa! Di luar sana orang-orang berteriak kencang!" Aku khawatir, tapi aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Appa malah tersenyum, tapi sorot matanya sendu. Dia menatapku dengan sedih, seakan kami tidak akan bisa bertemu lagi.
Tanpa terasa, air mataku berlinang dari pelupuk, pipiku terasa hangat.
Perlahan, appa menghapus air mataku. Ia mengingatku pada kenangan indah yang sudah terajut di benakku, seperti rajutan yang terjalin rapi, kini akan rusak hari ini.
"Seung-Ja, appa menyayangimu," suara appa lemah. "Appa tidak bisa hidup tanpa kalian berdua, dua manusia yang sudah membuat hidup appa semakin berharga."
Appa mengecupkan bibir lembutnya ke keningku. Aku tidak tahu apa-apa, tapi eomma menangis di sampingku. Aku pun mulai menangis deras. Dengan kesedihan yang sama, appa menatap eomma. Pasrah dan juga... putus asa.
"Sayang, tetaplah hidup." Appa menempelkan dahinya pada eomma. "Saranghaeyo." ("Aku mencintaimu.")
Appa mulai menangis, sama derasnya denganku dan eomma. Dalam tangisnya, appa langsung mencium eomma, seperti kecupan terakhir sebelum mimpi buruk menghampirinya—dan tidak 'kan pergi lagi.
Di tengah hujan air mata, tiba-tiba suara derap langkah menyeruak, membuat bulu kuduk kami berdiri. Tanpa menunggu lama, appa malah bergegas meninggalkanku dan eomma di dalam lemari tua, pergi untuk mempertaruhkan segalanya—
"Tetap di sana!" suara berat berteriak dari balik pintu. Pria berbaju loreng kebiruan. Itu... tentara Benua Ming.
Appa langsung mematung, tidak melawan. Kedua tangannya diletakkan di atas kepala. Dengan gemetar, ia memohon. "Jangan bunuh aku—!"
Dor!
Tentara itu... melepaskan tembakan, tepat ke kepala appa!
APPA! Aku menangis sejadi-jadinya. Aku ingin berteriak, memberontak, lalu memukuli tentara itu, tapi eomma membungkam mulutku. Aku sampai harus menggigit lidahku kuat-kuat untuk menahan suara. Wajahku semakin memerah, entah itu warna darah, atau amarah yang membuncah. Aku tidak bisa berpikir jernih, yang bisa kulakukan sekarang adalah memegang erat eomma.
Dia menangis dalam diam, tersedu-sedu sambil memelukku erat-erat. Tangan lembutnya menahan gemetarku, sedangkan tangan yang satunya, menahan mulutnya meronta dari kepedihan yang membuncah.
Satu. Dua. Dan banyak langkah kaki menderap masuk. Tentara-tentara itu memasuki apartemen kami dan mengobrak-abrik seluruh sudut. Masih belum puas dengan satu kepala berlubang, mereka terus menelisik seisi rumah.
Eomma menggigit bibir, terlihat menyadari sesuatu. Dia menatapku lamat-lamat, lalu membisikkan sesuatu. "Seung-Ja, maafkan eomma. Eomma nggak bisa menemani Seung-Ja lebih lama lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
MESS [TERBIT]
Fantasía[DAFTAR PENDEK WATTYS 2023] Di masa depan yang tidak jauh, bumi-yang-baru tidak lagi milik manusia, tapi dikuasai makhluk kuno bernama MESS, Mortal Entity: Sentient Species. Namun hari ini, kedamaian hancur saat para Kaisar turun tangan, membantai...
![MESS [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/294068964-64-k66827.jpg)