3.2 Efrat: the land of God

334 80 91
                                        

Sinar hangat mentari perlahan merambat ke dalam kabin kapal tua. Aku melihat Taiga, duduk termenung menatap bola api yang perlahan naik di ufuk timur. Dia melakukannya lagi.

Seperti biasa, sebelum mengganti baju di pagi hari, Taiga menelan kapsul transparan tanpa segelas air. Aku selalu ngeri melihatnya—pil bening itu meluncur ke kerongkongan tanpa menegak air, pasti perih.

Hari ini wajahnya berbeda. Senyumnya tidak lagi selebar biasanya. Wajah kerasnya dilumuri keringat, napasnya tersengal-sengal, matanya penuh kecemasan. Aku sudah sering melihatnya begini, terutama setelah ia bangkit dari tidur. Awalnya aku sempat kaget, bahkan ingin menarik pelatuk senapan yang selalu kupeluk. Namun aku urungkan, sebab dia sudah jujur padaku.

"Aku harus minum obat ini setiap hari," katanya waktu itu. "Aku tidak mau termakan kabut delusi yang ada di otakku. Kabut itu bisa membuatku lepas kendali."

Aku tidak terlalu peduli pada masa lalunya. Toh kalau dia lupa, aku akan mengingatkannya. Merepotkan memang, tapi aku rela karena aku tahu rahasia besarnya: Taiga adalah putra Leviathan, MESS-03.

"Makka, apakah obat bisa nggak manjur setelah semakin lama?" tanyanya tiba-tiba pagi itu.

"Aku tidak tahu. Aku bukan dokter," jawabku datar. Padahal dadaku dipenuhi kekhawatiran. Aku hanya tidak mau dia semakin cepat gila karena memikirkan kapsul sialan itu. "Tapi aku yakin satu hal. Delusimu semakin parah semenjak kita mendekati Efrat."

Dia terdiam, menatapku dengan mata hijaunya yang lebar, seolah berkata Bagaimana bisa? Atau... mungkinkah memang begitu? Aku pun menatap balik dengan kebisuan yang sama.

Keheningan itu buyar ketika suara keramaian terdengar dari luar kabin. Teriakan manusia bersahut-sahutan seperti di pasar. Kami spontan berlari ke atas geladak.

Di sana, daratan hijau terbentang di depan mata. Rimbunan pohon, mulut sungai yang terbuka lebar, seolah menyambut kapal tua kami.

"Makka, setengah jalan lagi," ucap Taiga. Matanya berbinar cerah.

Aku menatap sungai raksasa itu dengan takjub. "Ini... Sungai Nil? Besar sekali!"

"Kita akan menembus sungai ini," balasnya penuh semangat.

Kapal tua kami terus melaju melewati muara. Nama Sungai Nil tetap abadi, meski dunia ini sudah luluh lantak setengah abad lalu. Kapal-kapal memenuhi alirannya, berjejer rapi layaknya antrean panjang di jalan kota. Tidak ada satu pun kapten yang berani menempuh sisi selatan Efrat—segitiga bermuda Efrat menelan kapal-kapal karam di sana, hasil pertengkaran abadi Warm Sea dan Cold Sea.

Kami pun buru-buru menutupi wajah. Efrat tampak damai, dan kami tidak mau merusaknya.

Gesekan ranting dan sahutan satwa menenangkan hati yang lelah. Namun, di tengah keindahan itu, telingaku menangkap suara lain.

Suara itu jelas, menusuk batin.

"Taiga, ayo pulang!"

Taiga langsung melompat mundur. Aku tertegun melihatnya menyumpal telinga dengan kedua tangannya. Tubuhnya gemetar, punggungnya menempel di dinding kapal, wajahnya pucat pasi. Suaranya histeris saat bertanya padaku,

"Makka, kamu dengar suara itu?"

Aku hanya bisa menatapnya linglung. Senyumku yang tadi sempat terukir lenyap begitu saja. Perasaan waswas merambat di dadaku. Ada yang salah. Aku sadar betul, kewarasan Taiga makin hari makin rapuh.

"Taiga, tidak ada suara," ucapku, meski dalam hati aku panik.

Jawabanku justru membuatnya semakin kalang kabut. Ia memukul-mukul telinganya sendiri, seolah berusaha mengusir sesuatu yang tidak terlihat. Mata hijaunya terbuka lebar, panik, seakan sedang melihat hantu.

MESS [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang