Buat Naufal,
Yang pengin gue muncul.
Gue masih takut. Gue selalu jadi bahan bully-an karena fisik gue yang berbeda.
Gue jadi takut kalau lo juga bakal nge-bully gue. Tapi di sisi lain gue pengin banget ketemu sama lo.
Jadi gue harus gimana?
Dari AN,
Yang pusing gak tahu harus gimana.
*
Lagi-lagi Naufal memanyunkan bibirnya ketika selesai membaca surat dari penggemar rahasianya yang mengaku sebagai AN. Setiap hari dia membaca surat darinya, isinya juga tentang ketidakpercayaan diri.
Naufal benci itu. Kenapa harus tidak percaya diri? Padahal hidup ini cuma sekali dan milik kita sendiri. Seperti kata lagu boyband jaman dulu, “hidup cuma sekali, marilah kita happy.”
“Fal! Ada kuota, gak? Hotspot, dong!”
Naufal menoleh cepat pada Kevin yang barusan memanggilnya lalu mengacungkan jari tengah sambil mendelik sinis.
“Kalem, bro, kalem. Gue cuma nanya,” balasnya cengegesan.
“Nat! Hotspot, dong, bagi sini!” teriak Naufal memanggil salah satu temannya yang sangat suka tidur di jelas itu.
“Nat siapa?”
Naufal menepuk pelan kepalanya sendiri karena melakukan hal bodoh. Sudah jelas Nat di kelasnya ada dua. Dan dia lupa kalau keduanya memang sangat suka berdiam di kelas.
“Lo ada, Than?” tanya Naufal kencang sambil menoleh pada Nathan yang lagi-lagi tertidur di atas tiga meja yang dijadikan satu.
“Berisik! Ke UKS sana. Di sana kenceng wifinya,” balas Nathan yang kemudian memiringkan tubuhnya menghadap tembok hijau muda.
Naufal mendengkus. Dia menghampiri Kevin dan mengajaknya ke UKS. Sekalian membolos bersama teman.
“Kayaknya yang butuh wifi cuma gue doang, deh,” celetuk Kevin saat sudah memasuki UKS yang kosong melompong siang itu. Entah di mana Mbak Mitha yang berjaga. Dengan cepat cowok jangkung itu melompat ke salah satu brankar di UKS. Menggulung tubuhnya dengan selimut abu-abu khas UKS layaknya kepompong. Lalu mengeluarkan HP bersiap menyalakan wifi.
“Gue juga butuh kali,” balas Naufal sinis. Dia mengambil tempat di brankar sebelah Kevin.
Beberapa saat setelah mengutak-atik HP, Naufal mendesis sinis saat ingat satu hal. Dia lupa membawa kertas dan pulpen.
“Vin, ada kertas gak?”
“Hm? Kagak ada. Adanya film, nih,” sahut Kevin malas. Cowok itu kini telentang dengan satu tangan memegangi HP-nya yang dimiringkan. Naufal berdoa dalam hati semoga HP-nya jatuh dan membuat hidung mancung Kevin patah. Ya, itu harapan kecil Naufal karena dia tak memiliki hidung semancung milik Kevin.
“Di sini ada gak, ya?” gumam Naufal sendiri.
“Ada, lah, goblok! Lo kira UKS cuma tempat buat tidur doang? Ya harus ada kertas sama pulpen buat nyatet namanya yang sakit!” balas Kevin ngegas.
Naufal melotot horor ke arahnya. “Lo apaan, dah?” Dia mendekat. Meletakkan telapak tangannya pada kening Kevin. Beberapa detik kemudian dia meletakkan telapak tangannya tadi ke bokongnya. Naufal mengangguk-angguk puas. “Pantesan, panasnya sama, sih.”
Kevin jadi melotot. Sampai-sampai HP di tangannya jatuh mengenai hidung mancungnya.
“Naufal sialan!” teriaknya kesal sambil mengurut tulang hidungnya.
“Awas aja lo, kalau sampai hidung mancung gue patah gimana, ha?” tanya Kevin ngotot. Padahal dari pengamatan Naufal, hidungnya tak mengeluarkan darah.
“Ya udah.” Kevin kembali melotot. Dia mengumpat sebentar sebelum kembali menonton filmnya yang tertunda.
“Emang lo nonton apaan, sih?” Naufal mendekat. Dia jadi penasaran apa yang sedang ditonton Kevin sampai sebegitu seriusnya. Mana pakai earphone lagi. Kevin jadi kelihatan seperti cewek-cewek yang sedang nonton drama Korea!
Kevin membuang napas sebelum melepas earphone putih di kedua telinga dan HP-nya.
“Ahh.”
Naufal melotot kaget. Tubuhnya langsung membeku begitu mendengar suara keras yang berasal dari benda pipih berwarna putih di tangan Kevin.
“Faster ... umm yess, ahh!”
Kali ini Naufal tak tahan untuk melompat menjauh sambil memelototi Kevin. Dipandangnya mata Kevin yang mulai menyayu itu dengan horor.
“Lo–“
“I wanna– ahh.”
“Anjir! Lo kalo mau nonton film biru ngapain ngajak gue ke UKS, anjing?!” Akhirnya Naufal mampu mengeluarkan suaranya dengan nyaring setelah sebelumnya dia terlalu terkejut hingga tak bisa berkata-kata.
“Gue masih normal kagak homo, ya. Masih straight! Masih lurus!” seru Naufal menggebu-gebu.
Kevin mengubah posisinya menjadi duduk. Dia sudah mematikan film di HP-nya dan menatap Naufal lekat dengan pandangan mata teduh. Seketika Naufal bergidik ngeri melihat tatapan yang diberikan Kevin.
“Lo tadi main tarik gue ke UKS ya, anjing! Ngapain jadi nyalahin gue?!”
Naufal mengerjapkan matanya berulang kali. Setelah dipikir-pikir kembali, memang dia yang menyeret Kevin tadi. Cowok itu cuma menanyakan punya kuota atau tidak.
Naufal menyengir setelahnya. Dia kembali mencari-cari kertas dan pulpen. Membiarkan Kevin tetap duduk di brankar UKS dengan selimut menyelimuti bagian pinggang hingga ke bawah.
“Lagian lo mau nonton film biru ngapain di UKS, sih? Di kamar mandi sono. Gini amat temen gue.” Naufal kembali bergidik saat mengatakannya.
“Ya gimana ya. Tadi, kan, gue nontonnya di kelas.” Jawaban Kevin membuat Naufal yang sedang membuka lemari jadi melotot kaget.
“Tapi kuota gue abis,” sahut Kevin kemudian.
*
Buat AN,
Love yourself first.
Gue tahu artinya dari google translate.
Ya intinya itu. Cintai diri lo dulu baru cintai orang lain.
Lo harus menerima kekurangan dan kelebihan lo apa. Kemudian lo harus tampil percaya diri di depan umum.
Jangan peduliin omongan orang lain karena ini hidup lo. Jadi terserah lo mau ngapain.
Cantik nggak harus dari fisik, karena cantik bisa berasal dari hati.
Dari Naufal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Balloons
Teen FictionKatanya cinta itu buta. Tapi, kenapa fisik selalu jadi penentu utama? * Berawal dari terpaksa nonton futsal, Fia terpesona pada sosok cowok yang dijuluki wink boy dari Kelas Pangeran. Berkat saran dari Sellindra yang sudah terpercaya menjadi Mak Com...
