“Makasih, Fal, udah nganterin gue balik.” Fia tersenyum tipis setelah turun dari motor.
Naufal mengibaskan tangan kanannya. “Sans aja. Lagian gue mana tega ngebiarin anak cewek pulang sendirian.”
Fia melirik sekitar, cewek itu menggigit bibirnya. “Sorry, gue gak bisa ngajak lo masuk,” katanya pelan.
“Gak apa,” jawab Naufal tersenyum kecil.
“Biasa, Papa gue protektif banget karena gue anak cewek satu-satunya.”
Papa memang sangat protektif pada Fia. Selain karena Fia merupakan anak tunggal, dia juga termasuk seseorang yang berharga untuk Papa semenjak meninggalnya sang Mama. Jadi Papa selalu mengusahakan yang terbaik untuk Fia.
Salah satunya bersekolah di Smart High School. Sekolah internasional yang elite dengan lulusan terbaik. Tanpa tahu kalau anaknya menderita di sana.
Naufal terkekeh pelan. Mengulurkan salah satu tangannya untuk mengusap puncak kepala cewek yang berdiri di depannya. “Ya, udah langsung masuk aja keburu Papa lo yang keluar, bonyok ntar gue ngajakin anaknya keluar tanpa izin.” Kemudian senyuman lebar terukir di wajah tampannya yang terkena hangatnya sinar mentari sore.
Fia mengangguk dengan pipi memerah, menurut langsung masuk ke rumah. Setelah memastikan Fia sudah masuk, Naufal menancap gasnya ke suatu tempat.
*
“LAAANG!” Naufal langsung berteriak begitu masuk ke dalam rumah Galang yang besar.
Mami Galang berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Naufal dengan panik. “Kenapa, Fal?”
Naufal mencium tangan Linda–Mami Galang–kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Galang ada, Mi?” tanyanya sambil melihat ke atas, kamar Galang yang pintunya tertutup rapat.
“Baru aja dari rumah Ruby katanya,” jawab Mami Linda, lantas berjalan ke dapur. “Langsung naik aja, Mami bikinin camilan.”
Naufal tersenyum senang, segera berlari menaiki tangga ke kamar Galang. Ia membuka pintunya keras dan langsung melompat ke atas kasur membuat Galang mengaduh kesakitan.
“Heh, setan! Sakit, goblok! Lo berat banget, sih,” kata Galang sambil berusaha menyingkir dari badan Naufal yang menimpanya.
Naufal mengubah posisinya menjadi duduk, menyengir lebar. Cowok itu mengambil sebuah bantal dan memeluknya sebentar. Kemudian bangkit mengambil gitar milik Galang yang terletak tak jauh dari kasur dan memainkannya asal. Suara nada sumbang dari petikan gitar mulai terdengar. Galang jadi berdecak sebal dan melempar bantal ke arahnya, tetapi Naufal mampu menghindar dan kini menjulurkan lidahnya mengejek.
“Gue udah tahu rumahnya,” raut muka Naufal berubah sendu, ia tetap memetik senar gitarnya. Tak peduli kalau ia tak bisa memainkannya, jadi yang dilakukan Naufal hanyalah memetik senar dengan asal. Menghasilkan nada sumbang yang bisa membuat telinga sakit.
Galang melemparkan bantalnya lagi ke Naufal. “Ya, kalau udah tahu ngapa lo galau, goblok? Dan lagi, ngapain ninggalin Ruby sendirian, ha?!”
Naufal menyengir, memeluk gitar di tangannya dengan erat. Matanya memandang jauh ke depan. “Karena gue lagi dalam misi. Lagian tadi Ruby balik sama cowok, keliatannya dia anak baik, sih. Cuma gue lupa gak tanya siapa namanya.”
Galang mendengkus mendengarnya. Dia meraih HP-nya. Memainkannya dalam posisi miring sambil terus mendengarkan Naufal.
“Bokapnya protektif banget katanya,” lanjut Naufal memanyunkan bibirnya. Menunjukkan pesona lain yang hanya akan dia tunjukkan pada temannya.
“Eww ... jijik gue lo sok imut begini.” Galang bergidik ngeri. Ingin rasanya melempar benda pipih berlogo apel digigit di tangannya ke kepala cowok gembul itu, tapi ditahannya sebab belum ada merek baru yang keluar.
“Terus gue harus gimana kalau bokapnya protektif banget?” Naufal mengacak rambutnya dan kembali merebahkan tubuhnya setelah menaruh gitar Galang ke tempat semula. Kini cowok gembul yang masih mengenakan seragam itu berguling-guling sambil mengeluarkan suara-suara aneh.
“Siapin mental lo aja. Bisa diseleksi habis-habisan lo sama bokapnya dia.” Galang mengompori.
Naufal kembali mengacak rambutnya. Sepertinya datang ke rumah Galang bukannya mendapat solusi yang ada malah semakin menambah beban pikirannya.
“Mabar, yuk,” ajak Galang melihat Naufal yang hanya diam. Sepertinya yang dibutuhkan temannya itu adalah hiburan.
*
“Fal, berhenti, anjing! Lo udah mabok!” Lucky kerepotan menghentikan Naufal yang kembali mengambil gelas lagi.
Niken dan Orion tengah sibuk merokok sambil mengobrol, tak merasa terganggu dengan Naufal yang melantur tidak jelas. Lucky yang sedari awal tidak minum satu gelas pun jadi kesusahan. Kemudian melirik pada Oky yang sudah teler dan meletakkan kepalanya di atas meja bartender.
Lucky menghela napasnya dengan berat. Mencibir Oky pelan. Dari luar saja terlihat garang dan suka menindas yang lemah, baru minum dua gelas saja sudah teler. Memang di antara mereka berlima, Oky lah yang paling tidak bisa minum. Namun, cowok bertubuh besar itu ngotot ingin ikut dengan alasan ingin membantu Naufal. Nyatanya cowok itulah yang butuh bantuan.
“Ken, Yon, bantuin temen lo, anjir.”
Niken dan Orion menghentikan obrolan mereka sebentar dan melirik. Lalu Orion mengibaskan satu tangannya. “Ntar, lah. Baru jam sebelas juga, masih sore,” katanya.
Lucky mendelik. Menunjuk pada Oky yang terpejam. “Oky, njir, udah teler. Balikin dulu, lah, ke rumahnya.” Lalu Lucky beralih menunjuk Naufal. “Si Naufal juga udah mabok.”
“Gak! Gue masih sadar,” bantah Naufal. Cowok itu menegakkan tubuhnya dengan sempoyongan. Lalu mengeluarkan benda pipih berwarna hitam dari saku celananya.
Menatap lama pada layar HP-nya yang menyala dan bergetar. Pandangannya buram, Naufal tidak bisa melihat terlalu jelas siapa yang meneleponnya di tempat remang-remang ini. Selain itu dia juga mabuk, tetapi membantahnya karena tidak mau dianggap lemah.
“Halo?”
“Hm? Iya. Kapan-kapan gue anter ke mall yang lo mau. Gue sibuk sekarang.”
Belum sempat mematikan sambungan telepon, Naufal sudah menjatuhkan kepala ke atas meja. HP di tangannya meluncur dengan bebas ke bawah. Lucky yang melihat itu melotot kemudian mengambil HP milik Naufal dengan cepat.
“Gue suka dia. Namanya Fia, anak MIPA 4.” Ketika Lucky hendak membopong Naufal, cowok itu tiba-tiba meracau tidak jelas. Lucky seketika menghentikan gerakannya, tatapan matanya rumit. Beberapa saat kemudian cowok itu kembali melangkah dengan Naufal di lengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Balloons
Fiksi RemajaKatanya cinta itu buta. Tapi, kenapa fisik selalu jadi penentu utama? * Berawal dari terpaksa nonton futsal, Fia terpesona pada sosok cowok yang dijuluki wink boy dari Kelas Pangeran. Berkat saran dari Sellindra yang sudah terpercaya menjadi Mak Com...
