“Mau langsung pulang, Fi?” tanya Naufal begitu mereka sampai di parkiran.
Fia terlihat berpikir sejenak kemudian menggeleng. “Penginnya enggak, sih,” katanya menyengir.
“Emang mau kemana?”
“Gak tahu juga,” jawab Fia tersenyum.
“Rumah Ruby, kuy, biar dia gak ngambek lagi,” ajak Naufal mengambil helmnya.
Senyum Fia luntur. “Yuk!” Fia berseru cepat. Mengabaikan hatinya yang berdenyut nyeri.
Naufal memberikan jaketnya ke Fia membuat Fia mengerucutkan bibirnya sebal.
“Tuh bibir pengin gue cium apa cemberut mulu.” Naufal tertawa kecil ketika Fia memukul punggungnya pelan.
Melihat Fia tak kunjung memakai jaketnya Naufal jadi maju, mengambil alih jaket yang tadi diberikan kemudian memasangkan jaketnya ke tubuh Fia. Ia menarik ritsletingnya pelan kemudian menarik topi jaketnya dan menepuk kepala Fia pelan. Jaketnya terlihat sangat kebesaran pada tubuh Fia meski cewek itu mengatakan dirinya gendut.
“Bilang aja kalau pengin gue yang pakein.” Naufal menyengir.
Kemudian Naufal segera menancap gas menuju rumah Ruby setelah memastikan kalau Fia sudah naik dan berpegangan pada tasnya.
Naufal langsung masuk ke halaman rumah Ruby dengan motor hitam besarnya karena kebetulan gerbangnya lagi terbuka dan satpam di sana sudah mengenalnya.
Ia langsung turun dan menghampiri Mama Ruby yang lagi menyirami bunga di taman depan. “Sore, Ma.” Naufal mencium tangan Mama Esme. Kemudian Fia dengan kaku mengikutinya.
“Ruby lagi di kamarnya, mogok bicara dia. Biasanya si Dewa bujukin dia, tapi Dewa lagi keluar sama Alaska. Galaksi juga keluar gak tahu ke mana anak itu,” kata Mama Esme memberitahu Naufal.
Naufal mengangguk dan langsung masuk menaiki tangga menuju kamar Ruby dengan Fia yang mengekorinya di belakang.
Naufal membalikkan badannya. “Tenang, Ruby gak gigit, kok, jadi lo gak usah takut,” ucapnya pada Fia. Takutnya cewek itu ntar jadi takut ketemu Ruby yang lagi ngambek.
Cowok itu membuka pintu kamar Ruby lebar-lebar dan langsung masuk dengan senyuman lebarnya. “Ruby! Liat, nih, gue bawa apa.”
Ruby yang lagi tiduran di kasurnya langsung duduk menatap Naufal tajam. Yang ditatap hanya menyengir lebar mendekat dengan Fia di belakangnya yang agak kaku.
“Fiaaa!” Ruby melompat turun memeluk Fia sampai Fia agak terhuyung ke belakang.
“Ruby, gue bawain, nih.” Naufal menaruh kotak yang dibawanya ke atas meja belajar Ruby kemudian menarik kursinya dan duduk di sana memainkan HP.
Ruby mendekat, membuka kotaknya dan langsung berbinar begitu mengetahui isinya. Segera Ruby memeluk Naufal erat sampai hampir membuat HP-nya Naufal jatuh.
Ruby membawa kotaknya dan menarik Fia keluar. Meninggalkan Naufal yang kini jadi bebas tiduran di kasurnya Ruby yang empuk sekaligus besar. Benar-benar menjadi anak sultan itu enak.
Ruby mengajak Fia duduk di ruang makan. Cewek mungil itu mengambil piring dan mengeluarkan banana cupcake untuk ditaruh di piring dan menghidangkannya di meja makan.
“Fia, dimakan, yuk,” katanya menarik kursi lantas duduk di sana.
Fia mengangguk dan mulai mengambil satu. Ia mendengarkan ketika Ruby mulai bercerita banyak hal.
“Tadi Galang kesini nyariin Naufal karena gak jadi pulang bareng gue. Terus dia nemenin gue lama banget. Eh, ternyata Naufal datang sama Fia.”
Fia diam mendengarkan. Kini cewek yang masih mengenakan seragam sekolah itu melipat tangannya ke atas meja. Dia bahkan lupa bahwa tasnya masih terpasang di punggungnya.
Ruby menggigit cupcake-nya, mengunyahnya cepat dan kembali berbicara saat sudah tertelan, “Naufal itu baik, kok. Dia emang cuek gitu, tapi percaya, deh, Fi, dia kalau udah kenal deket jadi baik gitu.”
“Sama orang yang nggak dikenal dia gitu, cuek, judes, terkesan gak peduli.” Ruby menggigit cupcake-nya kesal. “Tapi kalau udah deket dia jadi perhatian. Kayak gini, nih,” lanjutnya sambil menunjuk cupcake yang ada di piring.
Fia mengangguk-angguk mendengarkan Ruby yang sedang menceritakan Naufal dengan menggebu-gebu. Cewek itu menopang kepalanya dengan tangan di atas meja menjadi tumpuan. Menatap Ruby penuh minat sembari membuka telinga lebar-lebar.
“Oh, iya, Naufal temen cowoknya banyak. Kalau temen ceweknya cuma dikit, cuma temen kelasnya doang,” ucap Ruby sambil mulai menghitung teman Naufal dengan jarinya. “Dia bilang gini, Ruby udah kayak adek gue, kalau Mika udah kayak kakak gue jadi gue pasti ngelindungin kalian berdua,” lanjutnya menirukan gaya Naufal berbicara.
Fia ingin tertawa rasanya mendengar nada suara Ruby yang terdengar lucu menurutnya, tetapi dia mengulum bibirnya ke dalam untuk menahannya.
Ruby mengambil HP-nya yang sebelumnya ia taruh di atas meja kemudian langsung menelepon Mika. Mendengar nada sambung sudah terhubung ia segera berbicara heboh, “Mika! Buruan! Fal ada bawa cupcake,” katanya singkat kemudian kembali menaruh HP-nya.
“Emang Mika bakalan datang?” tanya Fia yang dijawab anggukan semangat oleh Ruby. Tanpa disadari mata Ruby berbinar cerah ketika menyebut nama temannya.
“Mau telepon Galang juga tapi dia tadi udah kesini, jadinya Mika aja, deh,” kata Ruby, Fia hanya mengangguk-angguk menanggapinya.
Ruby tiba-tiba menatap Fia serius. Terlihat berbeda jauh dari ekspresinya sebelumnya. Ekspresi Ruby saat ini terlihat err ... mengerikan. Cewek itu sampai berdiri mendekatkan wajahnya ke arah Fia tapi gak sampai karena terhalang meja makan yang besar, sehingga Ruby yang sebelumnya serius kini terlihat imut di pandangan Fia. “Naufal gak pernah deket sama cewek mana pun selain Yuan adik kelas. Tapi gue sama Mika gak suka sama dia jadinya Naufal ngejauh.”
Fia menelan ludahnya gugup. “Eung ... kenapa ngomong itu ke gue?”
Ruby memukul meja makan keras. Dia mengaduh kesakitan setelahnya dengan mata yang berkaca-kaca ketika melihat telapak tangannya yang memerah. “Karena Naufal deket sama Fia sekarang! Dia bahkan sering cerita ke kita bertiga,” jawab Ruby agak keras, mengabaikan telapak tangannya yang kini terasa panas. “Tapi jangan bilang Naufal, ya.” Cewek itu menempelkan jari telunjuknya ke bibir menyuruh diam.
Fia ikutan menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya.
Mereka kembali bercerita dengan Fia yang kini mulai terbuka ikut bercerita ke Ruby. Bercerita bersama Ruby tak pernah terbayang di pikirannya. Namun, begitu hal itu terwujud Fia tidak menyangkut kalau itu terasa menyenangkan.
“Ruby, gue balik, ya?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Balloons
Teen FictionKatanya cinta itu buta. Tapi, kenapa fisik selalu jadi penentu utama? * Berawal dari terpaksa nonton futsal, Fia terpesona pada sosok cowok yang dijuluki wink boy dari Kelas Pangeran. Berkat saran dari Sellindra yang sudah terpercaya menjadi Mak Com...
