Buat Naufal,
Gue juga pengin deket sama lo di sekolah, kok. Tapi temen-temen lo selalu ngejek gue. Lagian lo itu populer, jadi banyak cewek yang juga suka sama lo.
Sedangkan gue? Cuma cewek pendek, gendut yang pastinya gak bakalan cocok bersanding sama lo. Ibaratnya kita kayak handsome and the beast.
Akhir-akhir ini banyak yang ngomongin gue karena pergi ke Banana Cafe bareng lo. Dan gue risi karena jadi pusat perhatian.
Dari Fia.
*
Naufal mendengkus. Kenapa cewek selalu identik dengan overthinking, sih? Belum juga ngapa-ngapain malah udah takut duluan. Dasar cewek!
Naufal menoleh ke arah pintu kelas ketika mendengar suara grasak-grusuk dari sana. Beberapa temannya datang sambil tertawa keras. Naufal mengernyitkan dahi melihatnya.
“Fal, lo ngapain di kelas?” tanya Niken berteriak.
Naufal menatapnya tajam. Membuat pemuda yang mendapat julukan orange boy karena selalu membawa jeruk ke mana-mana itu menyengir lebar. “Biasa aja kali, kuping gue masih sehat.” Naufal mengorek telinganya.
“Si Niken abis atraksi di kantin,” sahut Oky antusias.
Naufal kembali menoleh. Menatap penuh minat pada temannya.
Fardhan mendekat, langsung menarik kursi dan duduk di sebelah Naufal. “Si Kevin sama San ikut atraksi juga, tapi yang jadi center si Oky,” seru Fardhan menggebu-gebu sambil menunjuk Oky.
Oky yang ditunjuk jadi menepuk-nepuk dadanya merasa bangga. Cowok itu memejamkan mata dan tersenyum puas.
“Ha? Atraksi apaan?” Naufal bertanya bingung. Perempatan siku muncul di dahinya. Dia tak paham dengan apa yang sedang teman-temannya bahas.
“Harusnya yang jadi center si Lucky, dia, kan, pedes banget omongannya ngalahin boncabe aja.” Niken menunjuk Lucky yang hanya diam sejak memasuki kelas.
Naufal menoleh pada Lucky. Tapi cowok itu kembali mengalihkan pandang pada Niken yang berbicara.
“Lucky tadi cuma diem, tumben banget itu anak satu yang doyan makan cabe malah jadi diem. Untung si Eric nganggur, jadinya Lucky ada yang jagain,” kata Niken memberitahu. Sementara Eric tersenyum puas sambil menarik Lucky mendekat dan merangkul bahunya.
“Bentar, deh, bentar,” potong Naufal menyela. Cowok gembul itu menatap temannya satu persatu dengan kening berkerut.
“Ini kalian ngomong apaan, sih? Atraksi apa? Si Oky salto di kantin? Apa kalian konser dadakan di kantin terus Oky yang jadi vokalis utamanya? Plis, Oky suaranya merusak dunia banget, untung gue di kelas tadi,” cerocos Naufal panjang lebar.
Teman-teman yang mengelilinginya jadi menganga ketika mendengar cowok gembul itu berbicara tanpa henti.
Gubrakk!
Sampai suara gebrakan meja membuat mereka kaget dan menolehkan kepala ke sumber suara.
“Berisik, anjing! Gue mau tidur,” sentak Nathan yang langsung bangkit dari atas meja dan berjalan keluar. Sepertinya dia akan pergi ke rooftop seperti biasa untuk tidur.
“Itu, loh, anak IPA 4 yang gendut itu siapa namanya? Siapa, Ric?” San menoleh pada Eric meminta jawaban. Sementara yang ditanyai malah menggaruk belakang kepala merasa bingung lalu mengangkat kedua bahu lebarnya pertanda tak tahu.
“Fia?” tanya Naufal memastikan.
Fauzan menjentikkan jarinya dan tersenyum. “Tepat sekali. Apakah anda berubah profesi menjadi cenayang sekarang, saudara Naufal?”
Naufal menatapnya tajam. “Gila! Kalian ngapain nge-bully dia?!” Naufal memukul mejanya dan berdiri. Kursinya berdecit, untung saja tidak sampai jatuh.
“Santai bro.” Oky mengangkat kedua tangannya, mencoba menenangkan Naufal yang masih mengatur napasnya karena emosi.
Tanpa kata Naufal langsung berjalan keluar, meninggalkan temannya yang jadi mengernyit bingung karena kelakuan Naufal barusan.
*
Buat Fia,
Jangan peduliin omongan orang lain. Karena belum tentu omongan mereka bener.
Intinya kalau lo diomongin berarti lo lebih populer ketimbang mereka.
Ntar balik bareng gue, ya.
Gue mau minta maaf karena ulah temen-temen gue di kantin tadi. Mereka udah cerita dan parahnya gue diem di kelas gak ikut ke kantin. Jadi gue gak bisa ngelindungin lo tadi.
Dari Naufal.
*
Fia menangis di dalam kamar mandi. Dia tadi masih sempat ke perpustakaan untuk mencari tahu apakah Naufal peduli padanya atau tidak. Cowok itu menulis surat untuknya. Tapi bukan itu yang Fia harapkan.
Meski sering mengalami hal ini sejak kelas 10, Fia tetap tak terbiasa. Jika dia menceritakan hal ini pada Papa, Fia akan semakin menyusahkannya saja.
Selama ini Fia sudah berusaha keras. Menggunakan uang hasil jualannya untuk uang jajan agar Papa tidak kelelahan bekerja. Papanya, dia sudah terlalu lelah untuk bekerja dengan keras. Tapi, Fia malah mengecewakannya.
Fia kembali menangis. Kali ini dia menggigit bagian bawah bibirnya untuk menahan isakannya. Dia tak mau orang lain tahu kalau dirinya sedang menangis di salah satu bilik kamar mandi.
Tok! Tok! Tok!
Fia mengangkat kepalanya. Menatap horor pada pintu kamar mandi yang tiba-tiba diketuk. Setelah mengusap matanya yang basah, Fia membuka pintu kamar mandi pelan-pelan.
“Fia! Lo gak apa-apa, kan?”
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Fia kembali menangis dalam pelukan Dea. Febrina hanya melihatnya, perempuan yang memiliki tahi lalat di dekat bibir itu menutup pintu utama kamar mandi dan menguncinya. Lalu dia hanya menatap Fia yang menangis di pelukan Dea sambil menggigit bibir tipisnya. Febrina tak berani mendekat, kalau tidak dia akan menangis lebih kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Balloons
Novela JuvenilKatanya cinta itu buta. Tapi, kenapa fisik selalu jadi penentu utama? * Berawal dari terpaksa nonton futsal, Fia terpesona pada sosok cowok yang dijuluki wink boy dari Kelas Pangeran. Berkat saran dari Sellindra yang sudah terpercaya menjadi Mak Com...
