27. Masih Mau Pegang Tangan Gue?

152 10 0
                                        

Naufal meletakkan kepalanya di atas meja kantin dan memejamkan matanya. Ia menghembuskan napas berat. Memikirkan sudah lebih dari seminggu Fia tak membalas suratnya membuatnya semakin tak bersemangat.

Bangku di sebelahnya ditarik, seseorang duduk di sana. Naufal tetap diam tak berniat membuka matanya.

“Kak Naufal kenapa?”

Naufal membuka matanya, melihat seorang adik kelas yang beberapa bulan lalu dekat dengannya. Naufal tak merespons, kembali memejamkan matanya.

“Kakak ada masalah, ya?”

Naufal tetap diam.

“Kakak bisa cerita ke aku.”

“Aku bisa jadi pendengar yang baik buat kakak,” tambah cewek itu.

Naufal tak tahan dengan adik kelas di sampingnya. Ia membuka matanya dan duduk tegak, bersiap mengeluarkan kalimat pedas yang dipelajarinya dari Oky tapi perhatiannya teralih pada sosok yang baru saja masuk ke kantin.

“Heh, gendut! Tumben lo ke kantin sendirian.” Lucky meneriaki Fia yang baru memasuki kantin sendirian. Biasanya dia selalu bareng Ruby atau Yena, cewek yang dekat sama Yohan.
Tangan Naufal terkepal melihat teman-temannya mulai mengolok-olok Fia.

“Nyali lo gede juga, ya, ke kantin sendirian.”  Kevin ikut-ikutan.
Niken tertawa keras. “Akhirnya kagak ada yang bisa bantuin elo,” katanya pedas.

Fia menunduk dalam. Cewek itu tahu akhirnya akan begini kalau pergi ke kantin sendirian. Yena tadi sedang sibuk dengan soal latihan OSN nya karena baru bergabung dengan klub olimpiade. Ruby di UKS sama teman dekatnya. Dea sedang tidak masuk. Sedangkan yang lain sudah sibuk sendiri-sendiri. Mau tak mau Fia harus ke kantin menyelamatkan perutnya yang belum terisi apa pun sejak tadi pagi.

Tapi kini ia dihadapkan dengan cogannya IPS 4 yang walaupun keren tapi suka nge-bully. Dan Fia tak suka itu. Apalagi waktu ngeliat Naufal duduk diam di meja yang dekat dengannya bareng seorang cewek yang kira-kira adik kelas.

Fia ingin menangis saat ini juga.

“Heh! Dasar cengeng lo!”

Cakra melipat tangannya di depan dada, menatap Fia yang jauh lebih pendek darinya seakan merendahkan. “Harusnya lo cukup tahu diri gak ke kantin kalau sendirian.”

Naufal mendekat. Cowok itu menarik tangan Fia keluar dari kantin. Diiringi dengan sorakan dari teman-temannya.

Naufal membawa Fia ke taman di belakang perpustakaan. Pemuda jangkung itu membalikkan badannya menatap Fia, meletakkan tangannya di pundak cewek itu. “Sorry,” katanya pelan dengan raut menyesal.

Fia mendongak, mengusap pelan air matanya yang menetes entah sejak kapan. “Gue udah biasa diperlakuin kayak gini.”

“Kalau udah biasa ngapain masih nangis?” Naufal terkekeh geli mendengar jawaban cewek di depannya ini.

Fia mendelik. “Ya tetep aja meski udah biasa rasanya tetep sakit.”

“Lo belum makan?”

Fia menggeleng sebagai jawaban.
Naufal tersenyum manis. “Tunggu sini aja, gue bawain makanan,” katanya sebelum berjalan menjauh.

Dan Fia kembali luluh dengan sikap Naufal padanya. Dasar hatinya saja yang terlalu lemah bila dihadapkan dengan cogan tampan.

*

Fia ingin menangis saat ini juga begitu melihat Naufal kembali dengan sekotak makanan di tangannya.

Naufal mengambil tempat di samping Fia dan memberikan kotak nasi yang baru dibelinya.

“Makasih.” Fia sadar diri untuk mengucapkan terima kasih meski biasanya ia jarang mengucapkan terima kasih pada teman-temannya. Karena sahabat tak pernah mengucapkan terima kasih.

Naufal mengangguk, cowok itu merogoh sakunya mengeluarkan sekotak rokok dan korek.

Fia mendelik. Apa cowok di sampingnya akan merokok? Padahal dirinya kan lagi makan. Dan lagi ini masih berada di lingkungan sekolah.

“Lo ngerokok?” tanya Fia saat Naufal mulai menyalakan rokoknya.

Naufal menyesap rokoknya sesaat, menghembuskan pelan dengan mata terpejam kemudian mengangguk menanggapi pertanyaan Fia.

Fia terbatuk-batuk. Sial! Kenapa di saat yang romantis begini dia malah terbatuk?!

Naufal mendekat, cowok itu bingung mau gimana karena tiba-tiba Fia terbatuk gitu aja pas makan. Apa dia tersedak? Naufal mengangsurkan botol air mineral yang tadi dibelinya tapi Fia menggeleng.

“Gue uhukk–“

“–Alergi asap rokok,” katanya susah payah sambil batuk-batuk.

Naufal segera menginjak rokok yang baru dihisapnya. Meski masih panjang, cowok itu justru lebih memilih mematikannya daripada Fia kenapa-napa.

“Minum dulu, gih.” Ia kembali mengangsurkan botol air mineralnya.

Fia menerimanya dan langsung meminumnya banyak-banyak. “Sorry,” katanya pelan.

“Kenapa minta maaf? Gue yang salah,” Naufal terkekeh pelan, “sorry,” lanjutnya.

Fia ingin menjerit saat ini juga. Cowok yang ditaksirnya bilang maaf ke dia. Padahal dia itu berandalnya sekolah yang gak sudi minta maaf sama berterima kasih dari rumor yang beredar. Dih, semua anak IPS 4, sih, katanya begitu.

Fia menggeleng. “Salah gue juga karena gak ngasih tahu lo.”

“Abisin dulu makanannya, bentar lagi masuk.”

Fia mengangguk menurut. Segera memakan nasi kuningnya dengan lahap. Sementara itu, Naufal tersenyum tipis melihat cewek yang sedang makan dii depannya.

“Fal, gue balik ke kelas dulu, ya.” Fia berdiri, bersiap kembali ke kelasnya.

“Gak mau gue anter?” Naufal bangkit langsung menarik tangan Fia mengantarnya sampai di depan kelas gadis itu.

Fia terbengong. Kenapa cowok di depannya ini tingkahnya jadi aneh, sih?

“Gak mau masuk, Fi?” Naufal tersenyum jahil melihat Fia masih terbengong-bengong menatapnya.

“Apa masih mau pegang tangan gue?” Naufal melirik kedua tangan mereka yang masih bertautan. Fia jadi menunduk, memandangi tautan tangan keduanya. Tiba-tiba rasa panas menghampiri pipinya.

“Ah. Udah sampe, ya? Gue masuk dulu, ya?” Fia buru-buru melepaskan tautan tangan itu dan masuk ke dalam kelas. Ia merasa malu sekali dengan kejadian barusan.

Naufal tetap berdiri di depan kelas 11 Mipa 4 saat Ruby keluar untuk membuang sampah.

“Loh, Naufal?”

Naufal menoleh, ia mendekat ke Ruby dan mengapit tangannya erat. “By, balik ntar mampir banana, kuy,” ajaknya melakukan negosiasi.

“Kenapa? Gue bareng Galang nanti.”

Bahu Naufal melemas, seakan kehilangan harapan. Tapi cowok itu tetap berusaha. “Beli boneka beruang, yuk, bareng gue.”

Mata Ruby berbinar. Ruby adalah pecinta boneka beruang, dari ukuran yang sangat kecil seperti gantungan kunci sampai boneka beruang yang besar dia punya. Bahkan sang Papa berniat mengadopsi beruang asli untuk diletakkan di mansion karena Ruby menyukainya.

Naufal yang melihatnya seakan mendapat kesempatan. Tapi Ruby kembali menolak. “Gue udah ada banyak.”

“Ya elah, By, ayo dong jangan pelit.” Naufal masih setia membujuk Ruby.

Ruby menampakkan raut bingung melihat tingkah Naufal yang aneh hari ini. “Emang Naufal kenapa, sih?”

“Lokernya Fia, dong,” katanya memelas berharap Ruby memberitahunya.

BalloonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang