Sejak pertemuannya dengan Arum di kafe sore itu, Firman tidak langsung pulang. Dia menuju suatu tempat yang paling disukainya saat sendiri. Dan disinilah dia saat senja mulai kembali ke peraduannya di taman kota. Dia sedang menatap lurus ke ufuk barat fokus pada sang surya yang hampir tenggelam. Hatinya gusar seakan tak percaya bahwa sang kekasih telah melupakan namanya.
"Aku yakin bahwa kamu adalah Arum. Sekar Arum tapi kenapa kamu tak mengenaliku," sambil mengusap wajahnya kasar tampak frustasi.
Dia masih tak percaya pada kenyataan yang seakan tak berpihak padanya. Dimana sang pujaan yang diharapkan menyambut penuh kegembiraan namun semua itu tak sesuai yang diangankan. Justru penolakan itulah yang dia dapatkan. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Selama itu dia menunggu dengan sabar tak pernah mengeluh sekalipun atas segala usaha mencari sang kekasih. Usaha pencarian yang dilakukan selama ini tentu saja secara sembunyi-sembunyi, karena jika tidak sang ayah pasti menentangnya. Sejak kepergian Arum tanpa pamit lima tahun yang lalu, kebencian sang ayah makin memuncak. Apapun alasannya sang ayah tetap melarang Firman untuk berhubungan lagi dengan Arum. Jadi dengan cara diam-diam ia melakukan pencarian agar tak diketahui sang ayah.
Cinta Firman untuk Arum tak pernah berubah sedikitpun, meski ia merasa tersakiti karena kepergian kekasih tanpa kata. Hingga kini perasaan itu justru kian dalam. Dia masih percaya dan selalu berdoa pada Tuhan jika memang berjodoh dengan sang pujaan suatu saat nanti pasti dipertemukan.
☘️☘️☘️
Pagi itu Klinik Medical Center tampak lengang dan tidak terlalu sibuk seperti biasanya karena bertepatan hari sabtu. Di setiap hari sabtu seperti ini memang terkadang tidak seramai pas hari senin. Seorang dokter muda dan cantik sedang termenung di meja kerjanya mengingat kejadian kemarin lusa ketika Rani pulang dalam keadaan menangis. Dia masih saja penasaran dengan hal apa yang jadi sebab Rani pulang dalam keadaan sedih waktu itu.
Tok...tok... tok
Terdengar pintu diketuk, sejenak membuyarkan konsentrasinya.
"Masuk!"
Orang yang mengetuk pintu itu perlahan masuk ruangan dan duduk di depan rekannya.
"Kamu kenapa Els? Kok mukamu terlihat kusut begitu kayak baju belum disetrika," celetuk orang yang duduk di depannya.
Sedangkan Helsa menatap malas pada orang di depannya.
"Kamu itu kalau ditanya ya jawab dong, masa aku yang cantik gini dikacangin," canda orang itu dengan senyum tengil agar Helsa mau tersenyum.
Seperti dugaannya ternyata senyum itu menular pada Helsa.
"Sya kamu itu bisa aja bikin suasana hati langsung baik, padahal mood ku jelek banget hari ini," timpal Helsa senang.
"Syukur deh kalau usahaku nggak sia-sia. Lagian juga kalau kamu ada masalah ya cerita jangan dipendam aja. Aku siap kok dengerin semuanya," tawar Tasya antusias.
"Emang ada masalah apa sih?" lanjut Tasya.
"Begini Sya, sebenarnya aku sedikit curiga dengan Firman tentang masa lalunya itu. Aku yakin ini ada hubungannya dengan orang terdekatku," Helsa mulai cerita.
"Ciiieee tumben kamu kepo banget sama doi," ledek Tasya tersenyum jahil.
"Apa sih? Jadi enggak ceritanya dilanjutin," ambek Helsa.
"Aduh gitu aja ngambek. Iya-iya cepet lanjutin," sesal Tasya setelah ditatap tajam Helsa.
Kemudian Helsa pun menceritakan tentang dugaan yang selama ini ada keterkaitan antara Firman dengan Rani. Semua itu kian diperkuat ketika kemarin memeriksa dompet yang ditemukan oleh satpam yang di dalamnya ada sebuah foto ukuran empat kali enam terpampang jelas di lipatan card lengkap dengan identitas pemiliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PENJAGA HATI
Mystery / ThrillerKisah seorang gadis yg sangat putus asa hingga berniat mengakhiri hidup karena depresi dan dipertemukan dengan seorang pemuda yg berhati permata hingga akhirnya mereka menemukan kebahagiaan meski tak mudah menggapainya karena masa lalu masing-masing...
