Suara gending kebo giro terdengar menggema sebagai persiapan bahwa sebentar lagi acara ritual temu manten/panggih segera dilaksanakan. Prosesi ritual temu manten adat Jawa ini sudah umum dilakukan di daerah Tulungagung.
Panggih pinanganten didampingi oleh kedua orang tua maupun sesepuh dari masing-masing mempelai. Upacara panggih ini umumnya dilakukan sesaat sebelum acara resepsi pernikahan digelar.
Iring-iringan dari pinanganten kakung/ pengantin pria kini sudah tiba. Arfi turun dari mobil yang dikendarainya didampingi Rama Kristanto dan Helsa Maharani. Di belakang kedua orang tua angkatnya diikuti saudara dari almarhum kedua orang tuanya. Arfi tampak gagah dan tampan dengan busana adat Jawa yang dikenakannya. Binar bahagia terpancar di wajahnya.
Di pelaminan Sekar Arum menunggu kedatangan Arfi dengan hati berdebar. Gemuruh di dada bertalu kencang. Para tamu undangan menanti acara panggih dengan duduk rapi di kursi masing-masing. Suara lantunan tutur dari MC/Panyandra khas bahasa Jawa terdengar merdu.
Tak lama kemudian, Sekar Arum berdiri dan segera turun dari pelaminan didampingi dua gadis sebagai domas/cantrik yang berdiri di sisi kiri dan kanannya membawa kembar mayang masing-masing menuju ke arah depan tepat di depan pintu masuk rumahnya untuk melakukan prosesi ritual panggih yang akan dilakukan oleh sesepuh untuk mempertemukan mereka.
Ketika mereka tiba di pintu masuk arah depan penyerahan sanggan dari pihak mempelai pria kepada orang tua mempelai wanita sebagai bentuk tebusan putri mereka.
Prosesi selanjutnya adalah balangan gantal. Gantal/daun sirih berisi bunga pinang, kapur sirih, gambir dan tembakau yang diikat benang lawe. Dari jarak 2 m kedua mempelai berdiri berhadapan saling melempar gantal bergantian. Masing-masing mempelai diiringi domas di sebelah kiri dan kanan sambil membawa kembar mayang yang diangkat tinggi.
Kembar mayang yang dibawa oleh domas laki-laki dan perempuan pun ditukar sebagai simbol lepasnya masa lajang bagi pria dan wanita yang telah menikah.
Kemudian mereka berdekatan dan kedua tangan mereka disatukan oleh sesepuh/dukun temu manten untuk didoakan dalam ritual adat Jawa dalam proses panggih. Kemudian mempelai pria menginjak telur/ngidak tigan(ranupada).
Setelah Arfi memecahkan telur, Arum kemudian berjongkok membasuh kakinya. Hal ini sebagai wujud bakti seorang istri kepada suaminya. Lalu mereka berdiri sejajar dengan posisi Arfi di sebelah kanan dan Arum di sebelah kiri diselimuti kain sindur berwarna merah oleh pemaes dan ayah dari mempelai wanita berada di depan memegang ujung kanan dan kiri kain sindur berjalan diikuti dua mempelai untuk naik ke pelaminan. Selanjutnya adalah ritual bobot timbang dengan posisi kedua paha ayah mempelai putri diduduki kedua mempelai yaitu sebelah kanan dan kiri. Bobot timbang mempunyai makna bahwa ayah mempelai wanita telah menerima menantunya dengan baik dan menganggapnya seperti anak sendiri. Usai bobot timbang yaitu nanem jero yakni ayah menekan bahu pengantin agar duduk di pelaminan, ini menyimbolkan bahwa kedua mempelai diberi tugas memberi keturunan yang baik dan menjadi orang tua yang baik.
Prosesi selanjutnya adalah kacar kucur yaitu mengucurkan uang logam, biji-bijian, beras ke dalam kantong berwarna merah yang dipegang oleh mempelai perempuan. Hal ini melambangkan bahwa suami bertanggung jawab memberi nafkah pada istrinya. Selesai kacar kucur selanjutnya adalah dulangan yaitu saling menyuapi antara kedua mempelai dengan nasi kuning beserta lauk pauk sebagai wujud cinta kasih di antara keduanya hingga maut memisahkan. Untuk bagian terakhir adalah sungkeman merupakan wujud dharma bakti kepada orang tua serta mohon doa restu dengan berjongkok seperti orang menyembah menyentuh lutut orang tua. Ketika ini dilakukan keris mempelai pria harus dilepas terlebih dahulu.
Semua proses ritual dilakukan oleh kedua mempelai begitu lancar tanpa hambatan. Para tamu undangan tampak tersenyum melihat binar kebahagiaan terpancar jelas di paras mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
PENJAGA HATI
Misteri / ThrillerKisah seorang gadis yg sangat putus asa hingga berniat mengakhiri hidup karena depresi dan dipertemukan dengan seorang pemuda yg berhati permata hingga akhirnya mereka menemukan kebahagiaan meski tak mudah menggapainya karena masa lalu masing-masing...
