Disclaimer:
Cerita ini mengandung banyak hal-hal yang bertolak belakang dengan norma dan aturan moral masyarakat umum. Ini sekali lagi hanya karya fiksi, mungkin pola pikir yang menyimpang (LGBT, Freesex, kekerasan verbal/unverbal, dll) akan lebih m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Namaku Karina, aku penggemar kakak sejak kakak bergabung dengan hostel."
Jaehyun mengerling. "A-ah. Kau rupanya salah satu anak nakal yang kabur dari rumah?" Ucapnya bergurau, karena memang rata-rata para remaja yang bergabung dengan hostel adalah anak di bawah umur yang kabur dari orang tua dan tak memiliki tempat tinggal.
Seketika Karina jadi tertawa. Mengingat betapa labilnya ia dulu saat remaja. Kehidupan sekolah dan pelatihan yang ketat membuatnya lumayan stress hingga berujung depresi. Karena itu juga gadis cantik itu jadi memilih kabur dan ikut bekerja di bawah aliansi hostel.
"Sekarang tidak kabur lagi?" Gurau Jaehyun. Lagi-lagi gadis itu tersipu saat melihat senyum Jaehyun yang merekah indah di antara kedua sudut bibirnya.
"A-aku sudah jadi idol sekarang." Sahutnya, seraya menyelipkan sebagian rambutnya ke belakang telinga. Terlihat ekspresi malu-malu terpancar dari wajah gadis itu.
Mendengar itu, Jaehyun malah merasa tak enak sendiri. "Loh! Benarkah?" Lelaki itu lantas membungkuk singkat. "Maaf kalau kalimat ku menyinggungmu, masalahnya aku memang tidak terlalu tau perkembangan industri musik sekarang."
"A-ah tidak perlu meminta maaf seperti itu, aku baik---"
"Ekhmm!!!"
Seseorang yang baru saja datang tiba-tiba mengakhiri percakapan mereka pagi itu. Orang itu lantas menatap tepat ke arah Jaehyun. "Kau, ayo masuk!"
"Oh, kau sudah selesai?"
Lisa, gadis yang baru saja datang itu tak menjawab pertanyaan Jaehyun. Ia malah melirik sinis Karina sepintas, sebelum kemudian menekan password di pintu ruangannya. Jaehyun yang melihat itu langsung kembali menatap Karina. "Karina, kalau---"
"Ada banyak hal yang ingin ku bahas. Jadi jangan buang-buang tenagamu untuk bicara pada seseorang yang tidak berguna!"
Sepertinya itu sebuah sindiran. Benar saja. Beberapa detik setelah mendengarkan kalimat itu, Karina lantas berlalu dari hadapan Jaehyun. Tanpa sepatah kata pun, meski sekedar mengucapkan kalimat sampai bertemu lagi. Jaehyun jadi menatap kedua wanita itu bingung. Seperti ada yang lumayan aneh di antara keduanya. Apa mungkin Lisa memiliki konflik tertentu dengan wanita muda itu?
Baru juga ingin bertanya, gadis itu sudah lebih dulu melangkah sempurna memasuki ruang kerjanya. Jaehyun hanya bisa mengulum bibirnya ke dalam, sambil ikut berjalan memasuki ruangan Lisa sebelum pintu utama itu tertutup rapat.
"Lisa, kau punya musuh?" Tanya pria itu frontal, sambil tubuhnya ia baringkan di atas sofa panjang yang tersedia di ruangan itu.
"Baca ini dan cermati baik-baik!" Sesuai perkiraan, Lisa tak mungkin dengan mudah mau bercerita. Ia malah mengalihkan pembicaraan dengan satu klip kertas yang ia lempar ke atas tubuh Jaehyun. Lelaki itu pun jadi mendongak, menggapai kertas itu lalu beralih mendudukkan dirinya. Di cernanya baik-baik setiap kalimat yang tertulis di sana. Sebagian besar adalah jadwal Lisa. Dari pemotretan, pengambilan gambar untuk iklan, dan beberapa jadwal pertemuan dengan brand besar yang menjadikannya wajah utama.