Disclaimer:
Cerita ini mengandung banyak hal-hal yang bertolak belakang dengan norma dan aturan moral masyarakat umum. Ini sekali lagi hanya karya fiksi, mungkin pola pikir yang menyimpang (LGBT, Freesex, kekerasan verbal/unverbal, dll) akan lebih m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Momen adalah sesuatu yang menjadikan waktu menjadi sebuah cerita. Kelahiran, senyuman, kehangatan, tawa dan bahkan sebuah tangisan sekalipun. Lisa jelas mengingatnya. Bagaimana ia bertemu dengan orang-orang yang dulunya ia anggap penting, orang-orang yang dulunya ia anggap istimewa, hingga kemudian semuanya terlihat sama di matanya. Seolah tidak ada satupun ketulusan yang benar-benar datang kepadanya.
Ia pernah bergantung dan begitu mementingkan manusia. Tapi pada akhirnya mereka pergi bersama keegoisan masing-masing. Apalagi untuk makhluk bernama 'laki-laki.
Lisa tak ingin lagi membuka satu celah kecil pun pada mereka. Tidak, trauma masa lalu itu masih sangat membekas jelas. Tapi kini lagi-lagi ia kalah, kalah dengan perasaannya sendiri. Jaehyun kini masih beberapa langkah lagi mencapai posisinya. Apa hari ini Lisa akan mengikhlaskannya lagi?
Membiarkan perasaannya jatuh pada lelaki yang berhari-hari mengacaukan pikirannya?
Atau....
Eh?
Lisa mendadak tercengang. Tadinya ia pikir langkah itu tertuju padanya, karena itu juga ia tadi sempat percaya diri bertanya pada pria itu tentang apa yang baru saja ia dengar. Tapi ternyata pria itu melewatinya. Lisa menoleh, memastikan kalau kalimat yang di ucapkan Jaehyun bukan untuk seseorang yang tadi terlihat keluar dari arah pintu. Agaknya benar, apalagi melihat ekspresi Karina yang tampak berbinar seolah bintang selatan baru saja jatuh di depan matanya.
Tidak. Itu tidak boleh!
Tidak tau kenapa, tapi Lisa tidak ingin melihat pemandangan itu.
"YAKKK!!! KEPARAAATTTT!!!!"
Entah ruh apa yang merasukinya, hingga kini ia berlari dan kembali memukul kepala Jaehyun. Tepat ketika pria itu hendak menyentuh tangan Karina. "Ayo pulang! CEPAT PULAAANNNGGG!!!!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sebenarnya ada apa?" Jaehyun bertanya tepat di belakang punggung Lisa yang sedang mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas. Wanita itu belum menjawab. Dirinya masih sibuk menelan air dingin yang kini membuat otaknya jadi sedikit lebih tenang.
Lisa kemudian meletakkan gelasnya. Sedikit kasar dan penuh penekanan. Di tatapnya wajah tampan itu. Ia juga menumpukan kedua tangannya pada meja pantry di belakangnya.
"Kau serius menyukainya?" Tatapan Lisa terasa menyelidik. Seolah tak percaya jika tadi bawahannya akan menyatakan perasaan pada seseorang yang sudah beberapa lama menjadi salah satu orang yang di benci Lisa.
Jaehyun mengangkat sebelah alisnya, tersenyum sepintas, sebelum kemudian lebih mendekatkan posisi wajahnya. "Kenapa memangnya? Bukannya kau sudah memecatku? Seharusnya kau tidak punya kewenangan untuk mengetahui jawaban itu, kan? Ku kira juga malah aku yang harusnya perlu bertanya, kenapa kau tiba-tiba tadi memukulku dan berteriak seperti itu?"
Lisa terdiam, dalam pandangan mata Jaehyun yang kini berbalik menginterogasi isi kepalanya. Bahkan ruang dapur itu terasa semakin sempit saja. Sampai Jaehyun harus terus merapatkan tubuhnya pada Lisa yang masih bertumpu dengan meja. Jaehyun meletakkan tangannya di dekat kedua tangan Lisa. Mengunci pergerakannya, seolah Lisa tak di izinkan kemana pun sebelum menjawab semua pertanyaannya.
"Apa kau mulai kehilangan jati dirimu, Lisa? Apa sekarang kau mulai menyukai pria sepertiku? Hm? Kau tertarik dengan laki-laki lagi?"
Bibirnya terkatub. Tatapan Jaehyun benar-benar membuatnya beku. Terlebih dengan keadaan tubuhnya yang sepenuhnya berada di kungkungan pria itu.
"Untuk apa aku menyukai pria yang menyukai wanita lain? Aku tidak serendah itu." Sebisa mungkin kenormalannya harus utuh ia kembalikan. Tapi sepertinya gagal, nyatanya detak jantungnya malah seakan mendukung semua tuduhan dari Jaehyun. "Aku harus—"
"Baiklah, ku pikir itu cukup jelas. Tadinya aku ingin jujur kalau sebenarnya Karina hanyalah sesuatu yang ingin ku jadikan pancingan untuk melihat sejauh apa responmu. Tapi rasanya aku salah, aku hanya berharap jauh memiliki seseorang yang bahkan dunia pun juga sangat ingin memilikinya." Jaehyun menarik napas sepintas. Memperhatikan Lisa yang mulai gelisah saat dirinya menarik tangannya dari kungkungan tubuh ramping itu. "Aku akan pergi malam ini. Lagi pula, kau sudah memecatku, kan?"
Jaehyun berbalik, berjalan lesu menuju kamarnya. Langkahnya terlihat berat, seolah sesuatu ikut memberatkan punggungnya. Lisa jadi menatap pria itu sendu, di iringi sesuatu yang mendadak nyeri di balik dadanya. Dia akan pergi malam ini, itu akan berarti banyak hal. Tidak akan ada lagi sarapan pagi beserta sapaannya, tidak akan ada lagi lelaki tampan yang ia lihat berkeringat sepulang olahraga, dan tidak akan ada lagi sosok gila yang terus membuat jantungnya berdebar hanya karena satu pasang tatapan mereka saling bertemu.
Kau mungkin akan kehilangan itu, Lisa.
Secepatnya Lisa berlari, menaiki anak tangga menuju ruang kamar tempat pria itu tidur selama ini. Sebelum pintu itu tertutup sepenuhnya, Lisa langsung cepat mendorongnya ke dalam dan menghambur erat ke dalam pelukan Jaehyun.
"Jangan pergi! Baiklah aku gagal. Itu benar! Aku menyukaimu. Aku sangat menyukaimu, malahan!"
_________________________________________
To be continued...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.