Disclaimer:
Cerita ini mengandung banyak hal-hal yang bertolak belakang dengan norma dan aturan moral masyarakat umum. Ini sekali lagi hanya karya fiksi, mungkin pola pikir yang menyimpang (LGBT, Freesex, kekerasan verbal/unverbal, dll) akan lebih m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tentang segala hal yang terlahir, bahkan siapapun tak bisa menentukan harus terlahir dari benih siapa, dan melahirkan benih seperti apa. Semuanya abu-abu. Tidak ada yang menduga jika suatu hari mereka mungkin melahirkan seorang pejabat tinggi negara, orang-orang berpengaruh, para ilmuwan, atau bahkan seorang berandalan kelas kakap sekalipun.
Seperti Jaehyun, dimana saat itu dirinya bahkan belum di perkirakan untuk hadir melihat putihnya awan musim semi.
Musim panas, 1993
"Ku mohon!!! Aku tau ini salahku, tapi aku bermaksud akan menikahimu setelahnya. Ku pikir kau seseorang yang hidup sendirian."
Soojung mendengus. "Apa itu bisa kau jadikan alasan untuk memperkosa seseorang? Kau benar-benar menjijikkan!"
"Aku tidak bermaksud begitu, aku hanya menginginkan seorang anak cerdas yang memiliki kepribadian sepertimu."
Tidak. Bahkan kalimat itu semakin menyesakkan dada Soojung.
"Dia tidak memiliki kesalahan apapun! Itu semua murni dosa yang ku buat sendiri. Dia hanya bayi yang bahkan tidak berharap lahir dari benih seorang bajingan sepertiku. Kau boleh menghukumku, tapi ku mohon biarkan anakku tetap hidup! Jika kau tak ingin merawatnya, maka aku bersedia mengambilnya di hari nanti kau melahirkan anak ini. Tolonglah!"
"Apa kau pikir aku juga pantas menanggung aib ini? Jika aku melahirkannya, hidupku juga di pastikan akan berantakan. Suamiku tidak mungkin mau menerimanya, aku akan sendirian. Dan yang terparah, aku mungkin tidak akan lagi bisa melihat putra kandungku!"
"Aku akan menikahimu, bahkan merawat putra kandungmu juga, hanya saja ku mohon dengan seluruh harga diri yang ku rendahkan di kakimu, biarkan anak itu tetap hidup!"
"Menikah denganmu? Apa kau waras? Lalu keluargaku dan keluarga suamiku akan berpikir jika aku sudah berselingkuh dan memiliki anak denganmu. Apa kau ingin mereka berasumsi seperti itu untukku? Kau benar-benar gila!"
Jiseong tertegun, ia benar-benar putus asa. Harus bagaimana lagi ia mengusahakan agar Soojung mau melahirkan anaknya.
"Baiklah, aku akan membesarkannya! Dengan syarat! Kau tak boleh sekalipun menunjukkan keberadaan sosok ayah bagi anak ini. Entah itu secara terang-terangan, atau bahkan hanya dengan sebuah kode sekalipun. Jangan memberinya uang atau makanan. Jangan sekali-kali berkata kau adalah ayahnya, kecuali jika dia sendiri yang mencari keberadaanmu kelak. Kau harus berjanji untuk itu! Hanya jika kau ingin aku tetap melahirkannya!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.