Disclaimer:
Cerita ini mengandung banyak hal-hal yang bertolak belakang dengan norma dan aturan moral masyarakat umum. Ini sekali lagi hanya karya fiksi, mungkin pola pikir yang menyimpang (LGBT, Freesex, kekerasan verbal/unverbal, dll) akan lebih m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ruang persegi dengan luas 20 m² tengah menjadi tempat Lisa berhias diri. Di bantu beberapa perias profesional kini wajah cantiknya semakin terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya.
"Sudah selesai.." Ucap salah satu perias sambil merapikan helaian rambut Lisa. "Ah, anda benar-benar sangat cantik!"
Lisa hanya tersenyum tipis menanggapi pujian itu. Lalu kemudian para perias itu sibuk membereskan perlengkapan mereka dan membersihkan ruangan itu dari sampah-sampah kecil yang di hasilkan selama merias wajah Lisa.
Pintu terdengar di buka dari luar. Bersamaan dengan itu para perias pun kompak membungkuk dan menyapa seseorang yang baru saja masuk.
"Annyeonghaseyo..."
"Ne... Annyeonghaseyo... Terimakasih sudah mempercantik putriku!" Kuar pria paruh baya itu, lalu para perias itu pun menyahut dengan kalimat tanggapan senang sambil keseluruhannya berjalan keluar dari ruang rias putrinya.
Selepas kepergian para perias, keadaan kamar mendadak hening. Jiyong juga mulai duduk di salah satu kursi kosong yang tersedia di sana. Kakinya ia tumpuk, dengan tangan yang juga ia lipat di depan tubuhnya.
"Aigu... Aku hampir lega karena kau memilih kabur untuk menemui pria itu! Ck.. Tidak bisakah kau menunggu sampai besok atau bahkan lusa saja untuk kembali?"
Lisa yang sebenarnya sejak tadi sudah sangat kesal pun mulai membuang napas dengan ekspresi wajah yang jauh lebih kesal. "Apa anda sedang mengusirku? Lalu menurut anda aku harus pergi kemana tuan Kwon? Pria itu sudah menolakku. Apa aku harus terus meletakkan harga diriku di bawah kakinya demi membuat anda mendapatkan menantu ideal seperti pria itu?"
Jiyong tak merespon. Namun, tatapannya menyiratkan sekelumit ekspresi tidak percaya. Benarkah Jaehyun menolak putrinya?
Lisa yang melihat bayangan ayahnya dari balik cermin rias pun masih menatap jengah. "Sudahlah, jangan membuatku semakin terlihat konyol hanya karena pria gila itu. Lagi pula, bukankah ini semua adalah kemauan anda sejak lama, tuan Kwon?"
"Tidak, Lisa. Sebenarnya soal percakapan kami yang ingin menjodohkan anak jika sudah sama-sama memiliki nama itu tak sekalipun pernah ku anggap serius. Aku berubah jadi benar-benar serius ingin melakukannya saat Donghae dan Tiffany berkata bahwa putra mereka akan menjadi pewaris tunggal DN group saat usianya 30 tahun nanti. Aku bukan semata-mata memikirkan soal uang atau bahkan kemewahan. Aku sendiri malah bisa memberikan semua itu untukmu tanpa harus kau menikahi pria kaya mana pun. Hanya saja yang ku pikirkan, kau akan memiliki kehormatan besar jika menikah dengan satu-satunya pewaris tunggal seperti Taeyong. Seluruh manusia akan menghormatimu, seperti apapun kesalahan dan keanehan yang kau punya di masa lalu. Mereka tak akan sedikit pun bisa mengusikmu apalagi meletakkanmu di bawah celotehan busuk mereka."