21. Datang Bulan

967 197 27
                                        

Hubungan Jisoo dan Jihoon merenggang, mereka tak saling bicara, dan si sulung yang selalu menghindari sang eomma, Jisoo menyadari alasan Jihoon yang mungkin kecewa pada nya.

Di rumah keluarga Im, pagi itu pun heboh, karena Jennie tiba-tiba pingsan di dapur saat membantu Lia dan mertua nya menyiapkan sarapan, Sean panik, karena Jennie tak mengeluhkan apa-apa sebelum nya, dan merasa tak ada masalah dengan kesehatan sang istri, Lia bahkan sampai menangis saking khawatir nya dengan Jennie, dan takut melihat raut wajah sang paman.

"Ayo, biar daddy yang mengantar ke rumah sakit" ujar Yoong karena Rio sibuk menenangkan sang putri.

"Aunty baik-baik saja, mungkin dia hanya kelelahan" hibur Rio sambil memeluk Lia, wajar sang putri mengkhawatirkan aunty nya, karena mereka begitu dekat dan Lia takut terjadi apa-apa dengan Jennie.

"Lia takut papa, Lia tak mau kehilangan aunty" rancau nya.

"Aunty tak akan kemana-mana sayang" jawab sang ayah

"Jika Lia masih memikirkan aunty, kita bisa menyusul nya ke rumah sakit sebelum ke sekolah, Lia mau?" Tanya Rio, sang putri mengangguk.

"Ok, ayo kita berangkat" Rio mengusap air mata Lia dengan tangan nya, lalu berangkat menyusul kakek dan paman nya ke rumah sakit.

"Jennie sudah siuman, tapi di infus, ia tersenyum menatap wajah khawatir Lia yang datang bersama sang ayah.

"Lia, kamu akan memiliki dongsaeng" sambut Sean antusias, ia lalu menghampiri keponakan nya itu dan memeluk nya, Yoong ikut tersenyum senang.

"Benarkah dadd?" Tanya Rio.

"Iya, Jennie mengandung" jawab sang ayah, akhir nya mereka akan di karuniai seorang anak setelah lebih dari delapan tahun menikah, Lia keheranan, Sean pun membawa keponakan nya itu mendekat pada sang istri.

"Di dalam sini ada dongsaeng mu yang akan lahir sembilan bulan lagi" jelas Sean menunjuk ke perut Jennie, ia tersenyum dengan ekspresi Lia yang kelihatan aneh.

"Di sini?" Tanya nya sambil meletakan tangan kanan nya diatas perut Jennie.

"Iya" Sean mengangguk semangat, Lia mengusap perut Jennie lalu tersenyum lebar.

"Lia akan punya teman sekarang" ucap nya.

"Lia bisa mengajak nya bermain nanti" ujar Jennie.

"Dia mengkhawatirkan mu Jenn" ujar Rio.

"Benarkah Lia? Maafkan aunty" Jennie menatap sendu, merasa bersalah karena telah membuat keponakan nya itu khawatir.

"Its okey aunty" ucap nya.

"Sekarang kita ke sekolah ya, Lia sudah tahu keadaan aunty baik-baik saja kan" ajak Rio.

"Ne, Lia berangkat dulu aunty, bye dongsaeng" pamit nya.

Sementara itu, Jisoo turun dari mobil pria yang telah menyewa nya siang itu, ia tak melulu melakoni pekerjaan nya di night club, jika ada yang membawa nya keluar, ia juga akan melakukan nya, Jisoo memasuki sebuah minimarket, ingin membelikan oleh-oleh untuk ketiga anaknya, sebelum menjemput Jaehyuk di tempat penitipan anak.

Kriinggg. . .

Ponsel Rio berdering, saat ia baru saja keluar dari ruang meeting di kantor nya.

"Wali kelas Lia" batin Rio membaca nama kontak yang menghubungi nya, sambil berjalan ke ruangan nya, Rio pun menerima panggilan tadi.

"Hallo"

"Hallo, selamat siang tuan, saya hanya ingin memberitahu, jika Lia mengurung diri di toilet sekolah, kami sudah membujuknya untuk keluar, tapi gagal, kami minta maaf, dan berharap agar tuan datang ke sekolah"

"Baik miss, terima kasih sudah menghubungi saya" panik Rio, ia pun mengambil jas nya, lalu segera bergegas ke sekolah sang putri.


Begitu tiba di sekolah, miss Hyomin yang tadi menghubungi Rio pun sudah datang menyambut nya.

"Toilet nya di sebelah sana tuan" ujar nya, disana rupanya sudah banyak murid yang berkerumun untuk melihat Lia yang mengurung diri di kamar mandi sekolah.

"Maaf miss, bisa tolong bubarkan mereka, saya khawatir, Lia akan semakin takut untuk keluar, jika mereka masih disini" pinta Rio.

"Oh, baiklah tuan, saya mengerti" sang guru baru sadar setelah Rio mengatakan nya, ia lalu ke ruang guru untuk menekan bell tanda masuk kelas dan akan ganti jam pelajaran, setelah semua murid kembali ke kelas, Rio pun memasuki toilet, dan memang ada satu bilik yang tertutup rapat, ia pun mendekati nya.


Tok. . . Tok. . .


"Lia, ini papa sayang, buka pintu nya ya" rayu Rio, tapi tak ada reaksi.

"Bukan kah Lia sudah berjanji, akan selalu bercerita pada papa jika punya masalah" Rio berusaha mengingatkan ucapan sang putri waktu itu.

"Lia takut pa" sahut sang putri dengan suara gemetar menahan tangis.

"Selama ada papa, jangan takut, karena papa akan selalu menjaga Lia" bujuk Rio

"Lia malu" ucap nya lagi, dan kini ia mulai terisak lirih.

"Papa adalah orang pertama yang akan selalu menjaga Lia dari situasi dan kondisi seperti apa pun itu, percayalah, bahkan dari rasa malu sekalipun, ayolah sayang, buka pintu nya, kita hadapi sama-sama ok" Lia tak menjawab.

Klik

Terdengar suara kunci di buka dari dalam, Rio pun mendorong pintu nya agar terbuka, dan ia mendapati sang putri duduk diatas toilet, mendongak dengan mata basah menatap sang ayah, hati Rio rasa nya berkecamuk melihat ekspresi ketakutan, juga malu dari mata gadis polos nya itu.

"Ada noda darah, di rok seragam Lia pa, Lia malu untuk keluar, beberapa teman sekelas bilang, Lia datang bulan" Lia menceritakan masalah nya pada sang ayah, Rio lega mendengar nya, karena awal nya ia mengira Lia mengalami sesuatu yang menakutkan.

"Itu hal yang wajar, dan biasa dialami oleh wanita yang beranjak dewasa seperti Lia" jelas Rio.

"Benar kah?" Sang putri masih tak percaya.

"Iya, itu tanda nya jika Lia sudah dewasa sekarang, dan akan mengalami siklus itu setiap bulan nya nanti" jawab Rio.

"Ayo kita pulang" ajak Rio, Lia menggeleng.


"Lia malu pa" ucap nya sambil berdiri lalu menunjukan noda darah di rok seragam nya.

"Baiklah" jawab Rio, ia lalu membuka jas nya, dan mengikat lengan nya di pinggang sang putri untuk menutupi noda darah nya, Lia pun menurut, ia keluar dengan tangan bergandengan dengan sang ayah.

"Lia tunggu di mobil ne, papa ambil tas dulu di kelas Lia" pamit Rio setelah mengantar Lia ke mobil nya, gadis itu mengangguk, duduk di kursi penumpang depan.



#TBC

The Way I Love YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang