Nafas kedua nya masih terengah, Rio menjatuhkan kening nya diatas kening Jisoo yang nafas nya juga masih kembang kempis, posisi mereka tak berubah, Rio masih diatas tubuh Jisoo, tangan kanan wanita itu juga masih bertengger di kepala belakang Rio.
"Soo-yaa"
"Oppa"
"Maafkan aku"
"Tidak, oppa tak perlu meminta maaf, aku mau melakukan nya karena memang hati ku juga menginginkan ini, oppa tak perlu meminta maaf" ucap Jisoo, Rio memejamkan kedua mata nya.
"Ayo kita pulang" ajak Rio, ia lalu beranjak dari atas tubuh Jisoo, wanita itu terus menatap ke arah Rio yang nampak gelisah sambil mengenakan kembali pakaian masing-masing, mereka keluar dari night club sambil bergandengan tangan.
"Mulai besok, kamu tak perlu bekerja lagi di sini" ujar Rio tanpa berani menatap wanita yang berjalan di sisi nya itu.
"Gumawo oppa" lirih Jisoo menatap haru dan penuh cinta, Rio hanya mengangguk, selebih nya, mereka hanya diam sepanjang perjalanan pulang ke rumah Jisoo dengan taksi, wanita itu tentu merasa tak nyaman dan aneh dengan perubahan sikap Rio setelah mereka bercinta untuk pertama kali nya tadi.
Bugh
Rio menutup pintu taksi, ia turun bersama Jisoo.
"Apa oppa menyesal karena telah melakukan nya dengan ku?" Tanya Jisoo merasa bersalah menatap Rio yang terlihat sangat gugup dan tak tenang.
"Bukan begitu Jisoo-yaa" balas Rio dengan wajah putus asa membalas tatapan sang wanita.
"Maafkan aku, maafkan aku" suara Rio mulai bergetar.
"Oppa" Jisoo mulai curiga, perasaan nya tak enak.
"Ku rasa ini adalah pertemuan terakhir kita, maafkan aku" Rio mulai meneteskan air mata nya sambil menunduk, Jisoo tentu bingung melihat nya.
"Oppa, apa yang terjadi?" Tanya nya, ia ikut meneteskan air mata nya meski Rio belum menjawab pertanyaan nya, pria itu menggeleng, Rio menarik nafas nya dalam-dalam, dan menghembuskan nya secara kasar.
"Setelah ini, kamu harus hidup bahagia bersama anak-anak Soo, berjanji lah pada ku" ucap Rio, ia lalu memeluk dan mendekap erat tubuh Jisoo sebelum pergi meninggalkan wanita itu yang otak nya terasa kosong, ia membeku dan terasa masih sulit untuk memahami kata-kata Rio, ia hanya bisa menangis menatap punggung pria yang ia cintai itu, Rio pergi dan itu adalah pertemuan terakhir mereka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"OPPA, AKU MENCINTAI MU!" teriak Jisoo, tapi Rio acuh, ia tetap berjalan pulang sambil menangis sesenggukan.
"Aku juga mencintai mu Jisoo-yaa" batin Rio kian sakit mendengar pengakuan Jisoo.
Pagi-pagi sekali Rio baru tiba di rumah keluarga Im, Sean menunggu nya di teras rumah dengan wajah marah nya, ia melihat sang hyung masuk dengan wajah kuyu.
"Jangan sekarang Sean" ucap Rio sebelum sang dongsaeng meminta penjelasan dari nya, Sean terkejut melihat raut wajah hyung nya itu.
"Tolong antar Lia ke sekolah ne, hyung mau istirahat" pinta Rio sebelum memasuki rumah.
Dan Jisoo, ia menangis hebat sambil memeluk ketiga anak nya yang belum terbangun, hati nya kembali hancur untuk kedua kali nya, setelah kematian Taehyung, kini ia di tinggal oleh Rio, pria yang mampu memberi nya rasa aman, nyaman, dan di hargai meski tahu ia adalah wanita kotor.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rio menjatuhkan tubuh nya diatas kasur, ia terlalu lelah, hati nya juga kembali patah, kali ini karena pilihan nya sendiri, yang rela mengorbankan perasaan nya demi wanita yang dia cintai, yaitu Jisoo.
Tok. . . Tok. . . Tok. . .
Seorang pria paruh baya mengetuk pintu rumah Jisoo, Jihoon yang hendak ke sekolah pun membuka kan pintu nya, ia menatap aneh pada tamu nya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Eomma" teriak Jihoon takut karena baru kali ini ia melihat wajah sang tamu.
"Ne" jawab Jisoo, ia lalu keluar dari dapur.
"Apa benar di sini rumah tuan Kim Taehyung?" Tanya Donghae.
"Iya, anda siapa?" Jawab Jisoo curiga, ia lalu memberi kode pada Jihoon untuk menjauhi pintu, dan si sulung langsung memeluk pinggang ibu nya.
"Saya utusan tuan Kim Taeyeon"
Deg
Kaki Jisoo terasa lemas mendengar nama sang mertua di sebut, wajah nya pucat.
"Di mana suami anda?" Tanya Donghae
"Appa sudah pergi beberapa bulan yang lalu" jawab Jihoon tak senang dengan kehadiran Donghae.
"Maaf, maksud nya?" Donghae tak mengerti.
"S-suami saya sudah meninggal" lirih Jisoo.
"Jadi, ku rasa saya sudah tidak ada urusan nya dengan tuan Kim" tegas nya.
"Anda salah, bagaimana pun anda masih ada ikatan dengan beliau melalui anak-anak kalian" balas Donghae sambil menatap Yoshi yang baru selesai mandi, dan Jaehyuk yang baru bangun dan mengucek kedua mata nya.
"Jangan takut, tuan Kim tidak sejahat dulu, dia sudah sakit-sakitan sekarang, dan keluarga yang ia punya hanya cucu-cucu nya, ikut lah bersama kami" pinta Donghae.
"Tidak" tolak Jisoo.
"Kalau begitu, maaf, kami tetap memaksa" kata Donghae, ia memberi kode pada anak buah nya di luar untuk menyeret Jisoo dan anak-anak ke dalam mobil nya.
"Eomma!" Teriak Jihoon ketakutan
"Eomma" Yoshi dan Jaehyuk menangis histeris, Jisoo meronta, meski ia kalah tenaga.
"Akan ku bunuh kalian jika menyakiti anak-anak ku!" Teriak Jisoo mengancam, hati nya sakit melihat anak-anak menangis ketakutan, sedang kan ia sendiri, air matanya telah habis untuk menangisi kepergian Rio semalam.