Ana melepas sepatunya dan melemparnya sembarangan. Ia langsung berlari masuk ke dalam menuju ke kamar. Ia salah telah menggoda lebih dulu si Fazry.
"Hum..."
"..."
"Hum, kenapa dikunci?" tanya Fazry.
"TAKUT!"
"Takut kenapa Hum? Emang kamu diapain? Hum, buka dulu pintunya."
"Pokoknya takut"
"Iya takut kenapa, Buka dulu pintunya. Biar saya temenin"
"Justru tambah lebih takut kalau lo ada disini"
"Kenapa emangnya Hum?"
"Takut dimakan sama lo!"
Fazry diam sejenak mencerna perkataan yang dilontarkan oleh Ana, ternyata dia takut soal perkataannya yang disekolah tadi.
"Gak akan aku apa-apain, sekarang buka ya"
"Bener?"
"Bener, Ayo buka dulu"
"Saya lebih khawatir sama pipi kamu yang merah, Hum"
CEKLEK
Ana membuka pintu perlahan, mengintip keadaan diluar. Ia tidak menemukan Fazry di depan, Ia celingak celinguk mencari keberadaan Fazry.
"Cari saya, Hum?" ucap Fazry tiba-tiba disampingnya.
"Astaghfirullah! Bikin kaget aja!"
"Kamu cari saya? Kangen?"
"Eng-enggak! Orang tadi nyari kucing!"
"Alasan kamu lucu, Ayo ikut saya" ujarnya menarik tangan Ana masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
Ana sudah lebih dulu berpikir yang tidak-tidak, akan terjadi apa nantinya? Ana perlahan jalan mundur hingga terjatuh dikasur. Fazry masih memandanginya, memandangi setiap inci tubuh Ana dari atas hingga bawah.
"Bangun"
Ana segera bangun atas perintah Fazry, Ia duduk tepat disebelahnya. Fazry memegang kedua pipi Ana, Jika Fazry semakin dekat dengannya mungkin ia bisa mendengar betapa kencang bunyi detak jantung nya sekarang.
CUP
"Masih sakit?"
Ana terdiam membeo, "Hah?"
"Pipi kamu masih sakit? Siapa yang ngelakuin?"
"Apanya?"
Fazry mengelus pipi Ana lembut, "Saya gak suka, Lihat istri saya di kasarin orang lain. Apalagi sampai main fisik kayak gini"
Ana masih terdiam menatap Fazry, Bagaimana ia tau? Apa masih keliatan bekas tamparan itu di pipinya? Ana memilih untuk berbohong dari pada nanti urusannya makin panjang.
"Tadi di pipi gue ada nyamuk, Eh kebablasan jadi merah gini. Lagi juga gak sakit kok, mungkin ini merah gara-gara kena darah nyamuknya"
"Kamu lagi gak bohong sama saya kan Hum?
"Eng-enggak"
"Kenapa jawabnya ragu-ragu gitu?"
"Muka lo kedeketan"
"Emangnya kalau deket kayak gini, bikin kamu salting ya?"
"Hah salting? enggak!"
"Tapi pipi kamu gak bisa bohong Hum"
Ana memegang kedua pipinya namun malah terjatuh diatas kasur dengan posisi Fazry diatasnya. Ah benar kini ia terkunci, tak ada celah untuknya melarikan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA TAKDIRKU! || TAMAT
General Fiction⛔️FOLLOW TERLEBIH DAHULU SEBELUM MULAI MEMBACA, TERIMA KASIH⛔️ Kisah ini menceritakan tentang, seorang anak SMA yang dijodohkan oleh kedua Orang Tuanya. Mereka menyembunyikan Pernikahannya sampai waktu yang tepat. Zyana Khairunnisa anak tunggal seo...
